25.7 C
Kediri
Wednesday, August 17, 2022

Limbah Asalum Ngepung Dibawa ke Gresik

- Advertisement -

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Nihan Dwi Martani akhirnya bisa tersenyum lega. Pria asal Desa Ngepung, Patianrowo ini sudah tidak perlu lagi merasa canggung dengan tetangganya. Sebab, puluhan kubik limbah asalum yang tertimbun di  pekarangan rumahnya sudah diangkut oleh Balai Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 

Data yang dihimpun koran ini menyebutkan, limbah diangkut empat unit mobil transporter khusus Rabu (5/8) dini hari lalu. “Setahu saya limbah dibawa ke Gresik,” ujar Nihan tentang pengangkutan limbah menggunakan truk tronton khusus tersebut. 

Lebih jauh Nihan menjelaskan, pengerukan limbah dimulai pada Selasa siang. Selanjutnya, pemindahan ke truk khusus itu baru selesai sekitar pukul 03.00 dini hari dan langsung dibawa ke Gresik.

Seperti pengerukan sebelum­nya, menurut Nihan pengerukan Selasa hingga Rabu lalu juga tak berjalan mulus. Limbah yang sudah mengeras itu membuat Nihan harus mengganti dua unit alat berat. “Awalnya saya kira kendaraan transporter itu kecil ternyata tronton terpaksa harus ganti backhoe,” lanjutnya. 

Baca Juga :  Penghuni Rumah Singgah Tambah
- Advertisement -

Bahkan, saat beroperasi alat berat yang kapasitasnya kecil itu juga sempat ngadat dan rusak. Sehingga, dia terpaksa mengganti dengan alat berat yang lebih besar lagi.

Biaya untuk alat berat kecil ia tanggung seharga Rp 850 ribu. Sedangkan alat berat kedua yang lebih besar, Nihan harus patungan dengan Balai Gakkum KLHK. Sebab, nilainya sebesar Rp 9 juta. 

Meski harus mengeluarkan uang hasil tabungannya selama empat bulan untuk angkutan tebu, Nihan merasa puas. Sebab semua masalah di tempatnya sudah selesai dan tetangganya tidak lagi risih dengan aroma limbah yang tidak sedap. “Saat dibongkar sempat memunculkan bau, tapi setelah itu sudah hilang. Sekarang sudah tidak ada lagi baunya,” akunya senang. 

Baca Juga :  Beri Waktu Seminggu untuk Surati DPR

Terkait kasusnya, Nihan menye­rahkan sepenuhnya kepada Balai Gakkum KLHK. Sejauh ini dia beberapa kali sudah dimintai keterangan oleh penyidik terkait dengan perkara ini.

Terpisah, Kepala Dinas Lingku­ngan Hidup (DLH) Tri Wahju Koentjoro membenarkan jika limbah yang ada di tanah milik Nihan sudah dibawa ke pabrik semen Gresik. “Pekerjaan pem­bua­ngan limbah di Desa Ngepung ini sudah tuntas,” tegasnya. 

Dia berharap masyarakat di sekitar rumah Nihan tidak lagi resah. Sebagai pelajaran, Tri mengimbau agar warga lebih berhati-hati. Tidak mudah tergiur iming-iming akan mendapat keuntungan besar. 

- Advertisement -

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Nihan Dwi Martani akhirnya bisa tersenyum lega. Pria asal Desa Ngepung, Patianrowo ini sudah tidak perlu lagi merasa canggung dengan tetangganya. Sebab, puluhan kubik limbah asalum yang tertimbun di  pekarangan rumahnya sudah diangkut oleh Balai Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 

Data yang dihimpun koran ini menyebutkan, limbah diangkut empat unit mobil transporter khusus Rabu (5/8) dini hari lalu. “Setahu saya limbah dibawa ke Gresik,” ujar Nihan tentang pengangkutan limbah menggunakan truk tronton khusus tersebut. 

Lebih jauh Nihan menjelaskan, pengerukan limbah dimulai pada Selasa siang. Selanjutnya, pemindahan ke truk khusus itu baru selesai sekitar pukul 03.00 dini hari dan langsung dibawa ke Gresik.

Seperti pengerukan sebelum­nya, menurut Nihan pengerukan Selasa hingga Rabu lalu juga tak berjalan mulus. Limbah yang sudah mengeras itu membuat Nihan harus mengganti dua unit alat berat. “Awalnya saya kira kendaraan transporter itu kecil ternyata tronton terpaksa harus ganti backhoe,” lanjutnya. 

Baca Juga :  Angka Kecelakaan di Wilayah Polres Kediri Kota Masih Tinggi

Bahkan, saat beroperasi alat berat yang kapasitasnya kecil itu juga sempat ngadat dan rusak. Sehingga, dia terpaksa mengganti dengan alat berat yang lebih besar lagi.

Biaya untuk alat berat kecil ia tanggung seharga Rp 850 ribu. Sedangkan alat berat kedua yang lebih besar, Nihan harus patungan dengan Balai Gakkum KLHK. Sebab, nilainya sebesar Rp 9 juta. 

Meski harus mengeluarkan uang hasil tabungannya selama empat bulan untuk angkutan tebu, Nihan merasa puas. Sebab semua masalah di tempatnya sudah selesai dan tetangganya tidak lagi risih dengan aroma limbah yang tidak sedap. “Saat dibongkar sempat memunculkan bau, tapi setelah itu sudah hilang. Sekarang sudah tidak ada lagi baunya,” akunya senang. 

Baca Juga :  Tarif Rapid Test Tunggu Provinsi

Terkait kasusnya, Nihan menye­rahkan sepenuhnya kepada Balai Gakkum KLHK. Sejauh ini dia beberapa kali sudah dimintai keterangan oleh penyidik terkait dengan perkara ini.

Terpisah, Kepala Dinas Lingku­ngan Hidup (DLH) Tri Wahju Koentjoro membenarkan jika limbah yang ada di tanah milik Nihan sudah dibawa ke pabrik semen Gresik. “Pekerjaan pem­bua­ngan limbah di Desa Ngepung ini sudah tuntas,” tegasnya. 

Dia berharap masyarakat di sekitar rumah Nihan tidak lagi resah. Sebagai pelajaran, Tri mengimbau agar warga lebih berhati-hati. Tidak mudah tergiur iming-iming akan mendapat keuntungan besar. 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/