29.8 C
Kediri
Friday, July 1, 2022

Kasus Cabul Gadis di Bawah Umur di Mojo, Ini Kata Psikolog

KEDIRI – Mengapa Bima Naufal tega mencabuli gadis di bawah umur? Bahkan korbannya disebut-sebut sampai delapan orang. Di antara mereka ada yang hamil dan melakukan aborsi.

Padahal pemuda 19 tahun ini memiliki latar belakang dari keluarga yang cukup terpandang. Kini Bima telah ditahan di sel tahanan Polres Kediri Kota. Dia harus mempertanggungjawabkan kejahatan seksualnya.

Menurut Vivi Rosdiana, psikolog dari Kediri, meski pelaku dari keluarga terpandang tak menutup kemungkinan bisa melakukan perbuatan asusila. Termasuk melakukan pencabulan dengan korban di bawah umur.

“Jika diceritakan dari keluarga terpandang dan berpendidikan, juga juga dilihat dari sisi kasih sayang keluarganya,” terangnya.

Kasih sayang yang dimaksud psikolog ini adalah kasih sayang dari keluarga terhadap Bima. Bisa saja, menurutnya, karena kurangnya kasih sayang membuat laki-laki kelahiran 2001 ini melampiaskan pada hal lain.

Baca Juga :  Ibnu Divonis 10 Bulan Penjara

Salah satunya melakukan tindak pelecehan. Padahal secara finansial tercukupi. Namun kemungkinan tidak dengan kasih sayang.

Sementara itu, jika dilihat dari jumlah korbannya, Vivi menilai, ada kemungkinan terdapat masalah yang kompleks. Bisa saja penyebabnya faktor lingkungan yang mendukung perbuatan asusila itu. Penyimpangan seksual, pedofilia, hiperseks, punya trauma atau luka batin, baik berkaitan atau tidak secara spesifik.

“Bisa juga karena memang pelaku terpapar dengan pornografi. Kalau terus menerus dilihat pengaruh ke pikiran, perasaan hasrat seksual jadi berlebih dan nggak bisa kendalikan diri,” jelasnya.

Karena kecanduan ini, Vivi mengatakan, pelaku dapat mempraktikkannya secara langsung. Dibandingkan menyewa pekerja seks komersial (PSK) yang nantinya berpengaruh dengan nama baik keluarga, pelaku merasa lebih aman melakukan pemerkosaan secara acak.

Salah satunya dengan menggunakan media sosial sebagai sarana mencari korban. “Agar kejadian ini tidak terulang lagi memang perlu adanya kerja sama dengan orang tua,” tutur Vivi.

Baca Juga :  Ketua NMSI Resmi Jadi DPO Polisi

Salah satu pencegahannya, menurut dia, dengan memberikan pendidikan seks sejak dini. Hal ini juga mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, seperti pencabulan dan pemerkosaan.

Dari mencuatnya kasus tersebut memang tidak semua korban melaporkan. Karena hanya satu korban, Anggrek (nama samara), saja yang melaporkan. Hal itu  setelah orang tuanya mengetahui ketika Bima hendak melakukan tindakan tidak senonohnya.

Dilihat dari caranya melancarkan aksinya, Bima mencari korban melalui media sosial. Modusnya, setelah mendapatkan mangsa diajak ke rumah temannya yang sepi.

“Jika anak mendapatkan pendidikan seks sejak dini, mereka sudah mengetahui hal-hal yang harus dihindari,” ujar Vivi.

 

 

- Advertisement -

KEDIRI – Mengapa Bima Naufal tega mencabuli gadis di bawah umur? Bahkan korbannya disebut-sebut sampai delapan orang. Di antara mereka ada yang hamil dan melakukan aborsi.

Padahal pemuda 19 tahun ini memiliki latar belakang dari keluarga yang cukup terpandang. Kini Bima telah ditahan di sel tahanan Polres Kediri Kota. Dia harus mempertanggungjawabkan kejahatan seksualnya.

Menurut Vivi Rosdiana, psikolog dari Kediri, meski pelaku dari keluarga terpandang tak menutup kemungkinan bisa melakukan perbuatan asusila. Termasuk melakukan pencabulan dengan korban di bawah umur.

“Jika diceritakan dari keluarga terpandang dan berpendidikan, juga juga dilihat dari sisi kasih sayang keluarganya,” terangnya.

Kasih sayang yang dimaksud psikolog ini adalah kasih sayang dari keluarga terhadap Bima. Bisa saja, menurutnya, karena kurangnya kasih sayang membuat laki-laki kelahiran 2001 ini melampiaskan pada hal lain.

Baca Juga :  Risky Gantikan Ady, Jabat Kepala Satlantas Polresta

Salah satunya melakukan tindak pelecehan. Padahal secara finansial tercukupi. Namun kemungkinan tidak dengan kasih sayang.

Sementara itu, jika dilihat dari jumlah korbannya, Vivi menilai, ada kemungkinan terdapat masalah yang kompleks. Bisa saja penyebabnya faktor lingkungan yang mendukung perbuatan asusila itu. Penyimpangan seksual, pedofilia, hiperseks, punya trauma atau luka batin, baik berkaitan atau tidak secara spesifik.

“Bisa juga karena memang pelaku terpapar dengan pornografi. Kalau terus menerus dilihat pengaruh ke pikiran, perasaan hasrat seksual jadi berlebih dan nggak bisa kendalikan diri,” jelasnya.

Karena kecanduan ini, Vivi mengatakan, pelaku dapat mempraktikkannya secara langsung. Dibandingkan menyewa pekerja seks komersial (PSK) yang nantinya berpengaruh dengan nama baik keluarga, pelaku merasa lebih aman melakukan pemerkosaan secara acak.

Salah satunya dengan menggunakan media sosial sebagai sarana mencari korban. “Agar kejadian ini tidak terulang lagi memang perlu adanya kerja sama dengan orang tua,” tutur Vivi.

Baca Juga :  Ibnu Divonis 10 Bulan Penjara

Salah satu pencegahannya, menurut dia, dengan memberikan pendidikan seks sejak dini. Hal ini juga mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, seperti pencabulan dan pemerkosaan.

Dari mencuatnya kasus tersebut memang tidak semua korban melaporkan. Karena hanya satu korban, Anggrek (nama samara), saja yang melaporkan. Hal itu  setelah orang tuanya mengetahui ketika Bima hendak melakukan tindakan tidak senonohnya.

Dilihat dari caranya melancarkan aksinya, Bima mencari korban melalui media sosial. Modusnya, setelah mendapatkan mangsa diajak ke rumah temannya yang sepi.

“Jika anak mendapatkan pendidikan seks sejak dini, mereka sudah mengetahui hal-hal yang harus dihindari,” ujar Vivi.

 

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/