26 C
Kediri
Sunday, August 14, 2022

Kena Suap, KPK Tangkap Supervisor KPP Pratama Pare

- Advertisement -

JAKARTA, JP Radar Kediri – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengamankan tiga pelaku dugaan kasus suap pengurusan restitusi pajak (pengembalian atas kelebihan) proyek pembangunan jalan tol Solo-Kertosono. Mereka adalah Tri Atmoko, kuasa join operation China Road and Bridge Corporation- PT Wijaya Karya (JP CRBC-PT WIKA) sebagai pemberi suap.

Lalu, ada perantaranya yang diamankan adalah Suheri. Sementara penerima suapnya adalah Abdul Rachman yang berdinas sebagai supervisor tim pemeriksa pajak di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Pare, Kabupaten Kediri.

Tiga tersangka kini sudah mendekam di rumah tahanan KPK di Jakarta. “Ketiganya terlibat kasus suap proyek tol tahun 2017 lalu. Ada suap untuk restitusi pajak,” kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri, Jumat (5/8).

Baca Juga :  Polsek Banyakan Bubarkan Aktivitas Bangunkan Sahur Dengan Toa

Ali mengatakan, proses kasus suap proyek tol sudah naik ke penyidikan dan pengumpulan alat bukti. Untuk mencari barang bukti, petugas antirasuah itu beberapa kali melakukan penggeladahan di Kantor KPP Pare, Jl Hasanudin. Ali meyakini bisa menemukan barang bukti lainnya untuk memperkuat penyidikan.

Selain itu, yang dilakukan adalah pemeriksaan berbagai saksi yang dapat menerangkan dugaan perbuatan suap antara kedua belah pihak. “Berdasarkan hasil penyelidikan awal, ditemukan adanya bukti permulaan yang cukup, makanya sudah ditetapkan tersangka” ujar Ali.

- Advertisement -

Ali menerangkan, kasus ini berawal pengajuan restitusi pajak oleh JO CRBC-PT WIKA, kontraktor proyek tol Solo-Ketosono sebesar Rp 13,2 miliar ke KPP Pratama Pare. Pengajuan itu dilakukan pada Januari 2017.

Baca Juga :  Selamatkan Kepala Kala di Ngasem

Agar pengajuan bisa disetujui, Tri menjanjikan fee kepada Rachman sebesar 10 persen dari nilai restitusi pajak. Nilainya sekitar Rp 1 miliar. Rachman setuju dengan nilai tersebut. “Pemberian suap dilakukan di Jakarta melalui perantara (Suheri, Red),” ungkapnya.

Semula, Rachman tidak langsung menerima uang suap sebesar Rp 1 miliar. Tetapi, yang diserahkan awalnya sebesar Rp 895 juta. Pada Mei 2018, Tri menghubungi Rachman untuk memberikan sisa kekurangan suap dengan istilah “Apel Kroak”. Dari situ, KPK mengendus perbuatan mereka.

Tiga tersangka dijerat dengan UU No 31/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.






Reporter: Iqbal Syahroni
- Advertisement -

JAKARTA, JP Radar Kediri – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengamankan tiga pelaku dugaan kasus suap pengurusan restitusi pajak (pengembalian atas kelebihan) proyek pembangunan jalan tol Solo-Kertosono. Mereka adalah Tri Atmoko, kuasa join operation China Road and Bridge Corporation- PT Wijaya Karya (JP CRBC-PT WIKA) sebagai pemberi suap.

Lalu, ada perantaranya yang diamankan adalah Suheri. Sementara penerima suapnya adalah Abdul Rachman yang berdinas sebagai supervisor tim pemeriksa pajak di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Pare, Kabupaten Kediri.

Tiga tersangka kini sudah mendekam di rumah tahanan KPK di Jakarta. “Ketiganya terlibat kasus suap proyek tol tahun 2017 lalu. Ada suap untuk restitusi pajak,” kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri, Jumat (5/8).

Baca Juga :  Galuh Nuril, Mahasiswa IAIN Kediri Wujudkan Mimpi Kuliah di Amerika

Ali mengatakan, proses kasus suap proyek tol sudah naik ke penyidikan dan pengumpulan alat bukti. Untuk mencari barang bukti, petugas antirasuah itu beberapa kali melakukan penggeladahan di Kantor KPP Pare, Jl Hasanudin. Ali meyakini bisa menemukan barang bukti lainnya untuk memperkuat penyidikan.

Selain itu, yang dilakukan adalah pemeriksaan berbagai saksi yang dapat menerangkan dugaan perbuatan suap antara kedua belah pihak. “Berdasarkan hasil penyelidikan awal, ditemukan adanya bukti permulaan yang cukup, makanya sudah ditetapkan tersangka” ujar Ali.

Ali menerangkan, kasus ini berawal pengajuan restitusi pajak oleh JO CRBC-PT WIKA, kontraktor proyek tol Solo-Ketosono sebesar Rp 13,2 miliar ke KPP Pratama Pare. Pengajuan itu dilakukan pada Januari 2017.

Baca Juga :  Positif Covid, Dua CJH asal Kabupaten Kediri Batal Berangkat

Agar pengajuan bisa disetujui, Tri menjanjikan fee kepada Rachman sebesar 10 persen dari nilai restitusi pajak. Nilainya sekitar Rp 1 miliar. Rachman setuju dengan nilai tersebut. “Pemberian suap dilakukan di Jakarta melalui perantara (Suheri, Red),” ungkapnya.

Semula, Rachman tidak langsung menerima uang suap sebesar Rp 1 miliar. Tetapi, yang diserahkan awalnya sebesar Rp 895 juta. Pada Mei 2018, Tri menghubungi Rachman untuk memberikan sisa kekurangan suap dengan istilah “Apel Kroak”. Dari situ, KPK mengendus perbuatan mereka.

Tiga tersangka dijerat dengan UU No 31/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.






Reporter: Iqbal Syahroni

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/