25.6 C
Kediri
Friday, July 1, 2022

Kasus Korupsi Jembatan Brawijaya Kediri: Ada Transfer Miliaran Rupiah

KOTA, JP Radar Kediri – Beberapa fakta muncul di persidangan kasus dugaan korupsi Jembatan Brawijaya di PN Tipikor Surabaya Kamis malam (3/6). Sidang dengan terdakwa Ayong alias Tjahjo Widjojo itu memunculkan fakta tentang aliran uang ke wali kota saat itu, Samsul Ashar.

Sidang yang berlangsung mulai pukul 18.30 itu menghadirkan empat dari enam saksi yang direncanakan. Saksi-saksi itu adalah staf PT Surya Graha Semesta (SGS) Erwanto, pejabat pembuat komitmen (PPK) dari PT Adhi Karya Lilik, PPK dari Dinas PUPR Kota Kediri Nur Iman Satrio Widodo, dan seorang kerabat Samsul Ashar yang bernama Fajar Purna Wijaya.

Sedangkan dua saksi yang batal memberikan keterangan adalah mantan kepala dinas PU Kota Kediri Kasenan dan direktur PT SGS bernama Rudi Wahono. Awalnya, mereka disiapkan untuk bersaksi secara virtual. Namun batal karena waktunya terlalu malam.

Dari Fajar itulah informasi tentang aliran dana ke Samsul muncul.  Uang bernilai miliaran rupiah itu dilewatkan ke rekening Fajar sebelum akhirnya akhirnya nanti sampai ke Samsul.

“Saksi ini (Fajar, Red) membantah uang yang ditransfer itu digunakan untuk modal penggilingan padi,” terang Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ribut Suprihatin yang dihubungi usai pelaksanaan sidang.

Baca Juga :  Kesehatan Dijadikan Alasan

Dalam persidangan, Fajar mengatakan menerima beberapa kali transfer uang dari PT SGS yang dipimpin Ayong. Setiap kali transfer sebanyak Rp 500 juta. Hingga akhirnya jumlah uang yang masuk ke rekening Fajar mencapai Rp 3 miliar lebih.

Masih berdasarkan keterangan Fajar di persidangan, menurut Ribut, setiap kali terjadi transfer uang akan diambil secara tunai. Kemudian diserahkan ke saksi Rudi. Dari Rudi itu kemudian uang diberikan ke Samsul.

Sebagai catatan, setiap kali PT SGS melakukan transfer, pasti ada tanda tangan dari dewan direksi. Saat itu, terdakwa Ayong merupakan pimpinan pada perusahaan itu. Menurut Ribut, Ayong waktu itu merupakan komisaris utama PT SGS. Sebelumnya, ada catatan pula dia telah bertemu dengan Samsul Ashar yang saat itu menjabat sebagai Wali Kota Kediri.

Pihak Ayong sendiri meragukan keterangan saksi. Menuruh penasihat hukum (PH) Ayong, Yuliana, ada yang janggal dari keterangan itu.

“Saksi mengaku menerima transfer lewat rekeningnya karena dipinjam Pak Samsul. Tapi kok buktinya tidak dibawa? Inikan aneh,” ucap pengacara berkaca mata ini kepada Jawa Pos Radar Kediri kemarin (4/6).

Menurutnya, jika memang ada transferan dari kliennya atau PT SGS ke saksi harusnya bisa disampaikan ke majelis hakim. Sementara, dalam sidang itu tidak ada bukti transfer yang ditunjukkan ke hakim.

Baca Juga :  Novi Dkk Pulang Kampung ke Nganjuk

Terkait bukti yang diminta pengacara Ayong itu, Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Kota Kediri Nur Ngali mengatakan bahwa bukti itu ada. Saat ini sudah disita penyidik. Bentuknya berupa rekening koran.

“Jadi bukti yang dimaksud itu ada. Bukan bentuk buku tapi rekening koran,” jelasnya.

Kasus korupsi Jembatan Brawijaya kali ini menyeret dua terdakwa. Selain Ayong, terdakwa lain adalah Samsul Ashar. Namun, keduanya diadili dalam sidang yang terpisah meskipun berlangsung di hari yang sama.

Khusus Kamis (3/6) lalu, sidang untuk Samsul Ashar terpaksa ditunda. Penyebabnya adalah jadwal sidang padat sementara terdakwa kelelahan menunggu. Sedangkan sidang dengan terdakwa Ayong tetap digelar pada malam hari.

Sidang untuk terdakwa Ayong ini akan berlangsung lagi minggu depan. Masih dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi. (rq/fud) 

 

Pengakuan Fajar tentang Transfer Uang

–         Transfer dilakukan beberapa kali, setiap kali transfer senilai Rp 500 juta.

–         Total transfer mencapai Rp 3,4 miliar.

–         Setelah menerima transferan, uang akan diambil tunai. Kemudian diserahkan kepada Rudi Wahono.

–         Rudi disebut menyerahkan uang itu langsung ke Samsul Ashar.

- Advertisement -

KOTA, JP Radar Kediri – Beberapa fakta muncul di persidangan kasus dugaan korupsi Jembatan Brawijaya di PN Tipikor Surabaya Kamis malam (3/6). Sidang dengan terdakwa Ayong alias Tjahjo Widjojo itu memunculkan fakta tentang aliran uang ke wali kota saat itu, Samsul Ashar.

Sidang yang berlangsung mulai pukul 18.30 itu menghadirkan empat dari enam saksi yang direncanakan. Saksi-saksi itu adalah staf PT Surya Graha Semesta (SGS) Erwanto, pejabat pembuat komitmen (PPK) dari PT Adhi Karya Lilik, PPK dari Dinas PUPR Kota Kediri Nur Iman Satrio Widodo, dan seorang kerabat Samsul Ashar yang bernama Fajar Purna Wijaya.

Sedangkan dua saksi yang batal memberikan keterangan adalah mantan kepala dinas PU Kota Kediri Kasenan dan direktur PT SGS bernama Rudi Wahono. Awalnya, mereka disiapkan untuk bersaksi secara virtual. Namun batal karena waktunya terlalu malam.

Dari Fajar itulah informasi tentang aliran dana ke Samsul muncul.  Uang bernilai miliaran rupiah itu dilewatkan ke rekening Fajar sebelum akhirnya akhirnya nanti sampai ke Samsul.

“Saksi ini (Fajar, Red) membantah uang yang ditransfer itu digunakan untuk modal penggilingan padi,” terang Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ribut Suprihatin yang dihubungi usai pelaksanaan sidang.

Baca Juga :  Melihat Tukang Perahu Penyeberangan di Jembatan Lama Kertosono

Dalam persidangan, Fajar mengatakan menerima beberapa kali transfer uang dari PT SGS yang dipimpin Ayong. Setiap kali transfer sebanyak Rp 500 juta. Hingga akhirnya jumlah uang yang masuk ke rekening Fajar mencapai Rp 3 miliar lebih.

Masih berdasarkan keterangan Fajar di persidangan, menurut Ribut, setiap kali terjadi transfer uang akan diambil secara tunai. Kemudian diserahkan ke saksi Rudi. Dari Rudi itu kemudian uang diberikan ke Samsul.

Sebagai catatan, setiap kali PT SGS melakukan transfer, pasti ada tanda tangan dari dewan direksi. Saat itu, terdakwa Ayong merupakan pimpinan pada perusahaan itu. Menurut Ribut, Ayong waktu itu merupakan komisaris utama PT SGS. Sebelumnya, ada catatan pula dia telah bertemu dengan Samsul Ashar yang saat itu menjabat sebagai Wali Kota Kediri.

Pihak Ayong sendiri meragukan keterangan saksi. Menuruh penasihat hukum (PH) Ayong, Yuliana, ada yang janggal dari keterangan itu.

“Saksi mengaku menerima transfer lewat rekeningnya karena dipinjam Pak Samsul. Tapi kok buktinya tidak dibawa? Inikan aneh,” ucap pengacara berkaca mata ini kepada Jawa Pos Radar Kediri kemarin (4/6).

Menurutnya, jika memang ada transferan dari kliennya atau PT SGS ke saksi harusnya bisa disampaikan ke majelis hakim. Sementara, dalam sidang itu tidak ada bukti transfer yang ditunjukkan ke hakim.

Baca Juga :  Salah Nyalip, Hantam Tronton, Empat Luka Parah

Terkait bukti yang diminta pengacara Ayong itu, Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Kota Kediri Nur Ngali mengatakan bahwa bukti itu ada. Saat ini sudah disita penyidik. Bentuknya berupa rekening koran.

“Jadi bukti yang dimaksud itu ada. Bukan bentuk buku tapi rekening koran,” jelasnya.

Kasus korupsi Jembatan Brawijaya kali ini menyeret dua terdakwa. Selain Ayong, terdakwa lain adalah Samsul Ashar. Namun, keduanya diadili dalam sidang yang terpisah meskipun berlangsung di hari yang sama.

Khusus Kamis (3/6) lalu, sidang untuk Samsul Ashar terpaksa ditunda. Penyebabnya adalah jadwal sidang padat sementara terdakwa kelelahan menunggu. Sedangkan sidang dengan terdakwa Ayong tetap digelar pada malam hari.

Sidang untuk terdakwa Ayong ini akan berlangsung lagi minggu depan. Masih dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi. (rq/fud) 

 

Pengakuan Fajar tentang Transfer Uang

–         Transfer dilakukan beberapa kali, setiap kali transfer senilai Rp 500 juta.

–         Total transfer mencapai Rp 3,4 miliar.

–         Setelah menerima transferan, uang akan diambil tunai. Kemudian diserahkan kepada Rudi Wahono.

–         Rudi disebut menyerahkan uang itu langsung ke Samsul Ashar.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/