23.1 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Stop Hoax: Kunjungi Kerabat, Viralnya Malah Penculikan

KEDIRI – Masyarakat harus lebih hati-hati lagi dalam menanggapi pesan yang berseliweran di media sosial (medsos). Jangan sampai mudah terpengaruh sebelum meneliti kebenaran pesan yang muncul. Contohnya pesan aplikasi WhatsApp kemarin pagi, yang menyebutkan ada kasus penculikan di Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri.

Tentu saja pesan itu hoax semata. Meskipun kejadian yang dijadikan dasar itu benar adanya. Namun, peristiwa itu bukan kasus penculikan.

“Itu bukan penculikan. Tapi ada empat orang dari Surabaya yang datang ke Puncu. Satu perempuan dan tiga lelaki,” terang Kapolsek Puncu AKP Bowo Wicaksono, mengklarifikasi kabar bohong tersebut.

Memang, awalnya pesan viral muncul di WA. Isinya, ada penculikan di wilayah hukum Polsek Puncu. Pelakunya empat orang, tiga lelaki dan satu perempuan.

Faktanya, yang terjadi di lapangan bukan seperti itu. Peristiwa itu memang terjadi kemarin (4/5) di Dusun Tanggungmulyo, Desa Wonorejo, Kecamatan Puncu. Ada empat orang yang datang ke desa itu. Bermobil, satu perempuan dan tiga lelaki. Yang perempuan masih ber-KTP di desa tersebut. Sedangka satu di antara tiga lelaki itu adalah suaminya yang beralamat di Kelurahan Kenjeran, Kecamatan Bulak, Kota Surabaya. Dua orang lainnya adalah pengantar dari jasa rental mobil yang disewa pasutri itu.

Baca Juga :  Dana Ratusan Juta Diselewengkan?

Permasalahan bermula saat mereka tiba di dusun tersebut, sekitar pukul 08.00WIB. Warga sekitar langsung meminta mereka lapor ke perangkat desa dan melakukan isolasi mandiri. Namun pasutri itu menolak. Akibatnya mereka terlibat cekcok dengan warga.

“Sering pulang pergi Surabaya-Puncu. Masyarakat jengkel. Sebab mereka tidak mau lapor ke perangkat. Apalagi terkait virus korona ini,” terang Bowo.

Saling ngotot itu akhrnya berujung kesalahpahaman. Petugas dari Polsek Puncu pun harus turun tangan. Selanjutnya rombongan dari Surabaya, perwakilan warga, dan perangkat desa setempat dibawa ke Mapolsek Puncu.

“Kami selesaikan di Polsek Puncu melalui mediasi dengan menghadirkan perwakilan warga Surabaya tadi dan perangkat desa,” tambah Bowo.

Baca Juga :  Trauma, Pilih Memasak Pakai Arang

Niatan suami-istri itu mengunjungi kerabatnya di dusun tersebut. Karena si wanita memang warga setempat. Namun menurut Bowo, kini SM berdomisili di Surabaya. “Yang perempuan asli warga (Dusun) Tanggungmulyo. Niatnya berkunjung ke keluarga. Tapi dia dan suaminya berdomisil di Surabaya,” jelas Bowo.

Hasil dari mediasi di Mapolsek Puncu itu, disepakati bahwa pasutri itu harus kembali ke Surabaya. Suami-istri pun tak menolak. Siang itu juga mereka kembali ke Surabaya. “Jadi masalah warga dan suami-istri itu sudah selesai,” kata Bowo.

Terkait dengan berita bohong yang beredar, Bowo mengimbau agar masyarakat tidak menyebarkan berita yang tidak benar. “Sebaiknya melakukan konfirmasi terlebih dahulu ke pihak yang bersangkutan. Agar berita yang beredar itu tidak simpang-siur,” pungkas Bowo.

 

- Advertisement -

KEDIRI – Masyarakat harus lebih hati-hati lagi dalam menanggapi pesan yang berseliweran di media sosial (medsos). Jangan sampai mudah terpengaruh sebelum meneliti kebenaran pesan yang muncul. Contohnya pesan aplikasi WhatsApp kemarin pagi, yang menyebutkan ada kasus penculikan di Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri.

Tentu saja pesan itu hoax semata. Meskipun kejadian yang dijadikan dasar itu benar adanya. Namun, peristiwa itu bukan kasus penculikan.

“Itu bukan penculikan. Tapi ada empat orang dari Surabaya yang datang ke Puncu. Satu perempuan dan tiga lelaki,” terang Kapolsek Puncu AKP Bowo Wicaksono, mengklarifikasi kabar bohong tersebut.

Memang, awalnya pesan viral muncul di WA. Isinya, ada penculikan di wilayah hukum Polsek Puncu. Pelakunya empat orang, tiga lelaki dan satu perempuan.

Faktanya, yang terjadi di lapangan bukan seperti itu. Peristiwa itu memang terjadi kemarin (4/5) di Dusun Tanggungmulyo, Desa Wonorejo, Kecamatan Puncu. Ada empat orang yang datang ke desa itu. Bermobil, satu perempuan dan tiga lelaki. Yang perempuan masih ber-KTP di desa tersebut. Sedangka satu di antara tiga lelaki itu adalah suaminya yang beralamat di Kelurahan Kenjeran, Kecamatan Bulak, Kota Surabaya. Dua orang lainnya adalah pengantar dari jasa rental mobil yang disewa pasutri itu.

Baca Juga :  Pakai Kemeja Garis-garis, Tidak Dikafani, Diduga Dihabisi

Permasalahan bermula saat mereka tiba di dusun tersebut, sekitar pukul 08.00WIB. Warga sekitar langsung meminta mereka lapor ke perangkat desa dan melakukan isolasi mandiri. Namun pasutri itu menolak. Akibatnya mereka terlibat cekcok dengan warga.

“Sering pulang pergi Surabaya-Puncu. Masyarakat jengkel. Sebab mereka tidak mau lapor ke perangkat. Apalagi terkait virus korona ini,” terang Bowo.

Saling ngotot itu akhrnya berujung kesalahpahaman. Petugas dari Polsek Puncu pun harus turun tangan. Selanjutnya rombongan dari Surabaya, perwakilan warga, dan perangkat desa setempat dibawa ke Mapolsek Puncu.

“Kami selesaikan di Polsek Puncu melalui mediasi dengan menghadirkan perwakilan warga Surabaya tadi dan perangkat desa,” tambah Bowo.

Baca Juga :  Kejari Kawal Realisasi DAK Pendidikan

Niatan suami-istri itu mengunjungi kerabatnya di dusun tersebut. Karena si wanita memang warga setempat. Namun menurut Bowo, kini SM berdomisili di Surabaya. “Yang perempuan asli warga (Dusun) Tanggungmulyo. Niatnya berkunjung ke keluarga. Tapi dia dan suaminya berdomisil di Surabaya,” jelas Bowo.

Hasil dari mediasi di Mapolsek Puncu itu, disepakati bahwa pasutri itu harus kembali ke Surabaya. Suami-istri pun tak menolak. Siang itu juga mereka kembali ke Surabaya. “Jadi masalah warga dan suami-istri itu sudah selesai,” kata Bowo.

Terkait dengan berita bohong yang beredar, Bowo mengimbau agar masyarakat tidak menyebarkan berita yang tidak benar. “Sebaiknya melakukan konfirmasi terlebih dahulu ke pihak yang bersangkutan. Agar berita yang beredar itu tidak simpang-siur,” pungkas Bowo.

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/