26.7 C
Kediri
Monday, July 4, 2022

Kondisi Kritis, Salah Pasang Gelang

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Teka-teki penyebab perubahan jenis kelamin bayi Feri Sujarwo, 28, asal Desa Sonobekel, Kecamatan Tanjunganom mulai terjawab.

Perubahan jenis kelamin yang semula “perempuan” menjadi lelaki itu diduga terjadi akibat salah pemasangan gelang saat bayi baru dilahirkan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Bupati Marhaen Djumadi kemarin (3/9). Menurutnya, yang menjadi poin kesalahan indentifikasi adalah pemberian gelang bayi. Bayi berjenis kelamin laki-laki  itu seharusnya mendapat gelang berwarna biru. Tetapi, bayi mendapat gelang berwarna merah muda yang seharusnya untuk jenis kelamin perempuan. “Salah memasang gelang,” ujarnya.

Kesalahan pemasangan gelang inilah yang kemudian membuat penulisan jenis kelamin laki-laki menjadi perempuan. Marhaen mengungkapkan, kesalahan terjadi karena bayi yang lahir prematur itu kondisinya sangat kritis. Yakni, mengalami gangguan pernapasan.

Baca Juga :  Pengungsi Longsor Ngetos Nganjuk Pindah ke Kontrakan

Karenanya, dua tenaga medis yang malam itu bertugas harus menangani ibu dan bayi dalam waktu bersamaan. Belakangan, kondisi bayi melemah dan harus dimasukkan ke dalam inkubator. “Waktu itulah terjadi kesalahan pemasangan gelang,” lanjutnya.

Marhaen meyakini, kecil kemungkinan bayi tersebut tertukar. Sebab, saat itu hanya ada satu orang melahirkan. Nomor seri gelang bayi yang dipasang juga sama dengan milik ibunya.

Bahkan, sebelum dimakamkan petugas medis juga sudah mengukur dan menimbang bayi tersebut. Hasilnya, sama dengan pengukuran dan penimbangan di rumah sakit.

Meski menegaskan hanya ada kesalahan identifikasi, menurut Marhaen tenaga medis yang lalai tetap akan diberi sanksi. “Rumah Sakit harus zero kesalahan,” tandasnya.

Baca Juga :  Belum Berniat Lapor Polisi

Untuk memastikan bayi tersebut tidak tertukar, Marhaen pun sepakat untuk menunggu hasil tes DNA yang difasilitasi oleh RSUD Nganjuk. Hasil DNA itu pula yang ditunggu oleh Prayogo Laksono, kuasa hukum Feri, untuk mengambil langkah hukum selanjutnya.

Kepada koran ini Prayogo mengaku sudah mengirim surat ke Ombudsmen RI untuk menyampaikan balasan somasi dari RSUD Nganjuk. “Kami meminta Ombudsmen juga ikut mengawal dan mengawasi hasil tes DNA,” katanya.

Membaca jawaban dari RSUD Nganjuk yang sudah mengakui ada kesalahan, Prayogo meminta Ombudsmen menindaklanjuti kelalaian pelayanan publik di sana. Selain melayangkan surat ke Ombudsmen, menurut Feri dirinya juga tengah menyusun materi untuk mengajukan gugatan perdata.

- Advertisement -

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Teka-teki penyebab perubahan jenis kelamin bayi Feri Sujarwo, 28, asal Desa Sonobekel, Kecamatan Tanjunganom mulai terjawab.

Perubahan jenis kelamin yang semula “perempuan” menjadi lelaki itu diduga terjadi akibat salah pemasangan gelang saat bayi baru dilahirkan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Bupati Marhaen Djumadi kemarin (3/9). Menurutnya, yang menjadi poin kesalahan indentifikasi adalah pemberian gelang bayi. Bayi berjenis kelamin laki-laki  itu seharusnya mendapat gelang berwarna biru. Tetapi, bayi mendapat gelang berwarna merah muda yang seharusnya untuk jenis kelamin perempuan. “Salah memasang gelang,” ujarnya.

Kesalahan pemasangan gelang inilah yang kemudian membuat penulisan jenis kelamin laki-laki menjadi perempuan. Marhaen mengungkapkan, kesalahan terjadi karena bayi yang lahir prematur itu kondisinya sangat kritis. Yakni, mengalami gangguan pernapasan.

Baca Juga :  Persewaan Garasi Buka, Toko Bobby di Jalan A. Yani Nganjuk Tutup

Karenanya, dua tenaga medis yang malam itu bertugas harus menangani ibu dan bayi dalam waktu bersamaan. Belakangan, kondisi bayi melemah dan harus dimasukkan ke dalam inkubator. “Waktu itulah terjadi kesalahan pemasangan gelang,” lanjutnya.

Marhaen meyakini, kecil kemungkinan bayi tersebut tertukar. Sebab, saat itu hanya ada satu orang melahirkan. Nomor seri gelang bayi yang dipasang juga sama dengan milik ibunya.

Bahkan, sebelum dimakamkan petugas medis juga sudah mengukur dan menimbang bayi tersebut. Hasilnya, sama dengan pengukuran dan penimbangan di rumah sakit.

Meski menegaskan hanya ada kesalahan identifikasi, menurut Marhaen tenaga medis yang lalai tetap akan diberi sanksi. “Rumah Sakit harus zero kesalahan,” tandasnya.

Baca Juga :  Ambles Lagi, Kerusakan Tanggul Jatirejo Meluas

Untuk memastikan bayi tersebut tidak tertukar, Marhaen pun sepakat untuk menunggu hasil tes DNA yang difasilitasi oleh RSUD Nganjuk. Hasil DNA itu pula yang ditunggu oleh Prayogo Laksono, kuasa hukum Feri, untuk mengambil langkah hukum selanjutnya.

Kepada koran ini Prayogo mengaku sudah mengirim surat ke Ombudsmen RI untuk menyampaikan balasan somasi dari RSUD Nganjuk. “Kami meminta Ombudsmen juga ikut mengawal dan mengawasi hasil tes DNA,” katanya.

Membaca jawaban dari RSUD Nganjuk yang sudah mengakui ada kesalahan, Prayogo meminta Ombudsmen menindaklanjuti kelalaian pelayanan publik di sana. Selain melayangkan surat ke Ombudsmen, menurut Feri dirinya juga tengah menyusun materi untuk mengajukan gugatan perdata.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/