29.6 C
Kediri
Friday, July 1, 2022

PEH

Pagar Makan Tetangga

Ibarat bunga, Mbok Ndewor tengah mekar-mekarnya dan merindukan kumbang yang hinggap di putik sarinya. Bagaimana tidak, Kang Sudrun, suaminya, meninggalkan dia dalam waktu yang cukup lama. Ora mesti setahun pisan ketemune.

Ya, Kang Sudrun harus merantau. Mencari nafkah di tanah seberang, Kalimantan. Pria warga Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri ini menjadi pekerja di perkebunan kelapa sawit.

Abot-abote ngopeni anak bojo, ya tetep tak lakoni,” ucapnya ketika pergi meninggalkan kampung halaman.

Mbok Ndewor pun hanya bisa kesepian menunggu kedatangan sang suami. Wanita 30 tahun ini hanya bisa nglipur ati dengan ngopeni anak. Ketika ditinggal sekolah, hanya sepi yang mendera. Apalagi, tempat tinggalnya tergolong susah sinyal. Sulit menghubungi sang suami lewat telepon.

Yen pas nang pasar lagi isa nelpon bojoku,” keluh Mbok Ndewor.

(Ilustrasi: Afrizal)

Wajar bila Mbok Ndewor mengeluh. Sebab, rutinitas ke pasarnya hanya seminggu sekali. Karena lokasinya yang relatif jauh. Dadine, mung seminggu pisan kuwi dia bisa bercengkerama jarak jauh dengan sang suami.

Baca Juga :  Bongkar Praktik Aborsi: Ada Janin di Dasbor

Hingga suatu saat, datanglah Kang Paimo. Tetangganya yang baru pulang dari merantau. Di mata Mbok Ndewor, tetangganya itu orang yang ramah dan supel. Hampir setiap hari keduanya bercengkerama. Kebetulan, Kang Paimo juga tak berniat balik ke rantau. Pingin buka usaha di rumah. Jadi, banyak waktu bagi keduanya berbagi cerita.

Nah, kehadiran Kang Paimo itulah ibarat kumbang yang datang di bunga-bunga hati Mbok Ndewor. Lama-lama, si kumbang mulai menyemai benih-benih asmara. Klop wis, Mbok Ndewor yang kesepian mendapat pelepasan hasrat. Ibaratnya, Kang Paimo adalah pagar yang makan tetangga, peh!

Tapi, yang namanya perbuatan buruk, suatu ketika pasti konangan. Kabar tentang perselingkuhan itu ternyata melintasi samudra dan didengar oleh Kang Sudrun di rantau. Sontak, dia ingin membuktikan langsung. Caranya, pulang tanpa memberi kabar.

Dan, hari itu tibalah. Siang-siang, pas wektune anak sekolah, Kang Sudrun tiba di rumah. Tak pelak, dia pun mendapat Mbok Ndewor yang tak menyangka suaminya bakal datang. Dan, sang istri lebih bingung lagi karena pada saat itu tengah berduaan dengan Kang Paimo, kekasih gelapnya.

Baca Juga :  Menantu Rasa Pembantu

Sapa sing ora lara ati ndelok bojo selingkuh nang ngarep mata. Ora ngerti sing lanang kerja mbanting lulang nggolek duwet,” gerutu Kang Sudrun dengan mata merah.

Mbok Ndewor hanya bisa ndeprok dan nangis geru-geru. Njaluk sepura nang bojone. Janji ora bakal melakukan lagi.

Tapi, amarah Kang Sudrun sudah sampai ubun-ubun. Tidak ada lagi maaf yang tersisa untuk istrinya.

Njaluk sepura ya percuma wae. Karepku megat ya tak pegat wae,” tegas Kang Sudrun sambil melengos.

Tinggallah Mbok Ndewor menyesali diri. Kesenangan sesaatnya berujung mala petaka besar. Dia tak bisa memperbaiki keadaan. Paribasane, beras wutah arang bali nang takere alias nasi sudah menjadi bubur.






Reporter: Ilmidza Amalia Nadzira
- Advertisement -

Ibarat bunga, Mbok Ndewor tengah mekar-mekarnya dan merindukan kumbang yang hinggap di putik sarinya. Bagaimana tidak, Kang Sudrun, suaminya, meninggalkan dia dalam waktu yang cukup lama. Ora mesti setahun pisan ketemune.

Ya, Kang Sudrun harus merantau. Mencari nafkah di tanah seberang, Kalimantan. Pria warga Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri ini menjadi pekerja di perkebunan kelapa sawit.

Abot-abote ngopeni anak bojo, ya tetep tak lakoni,” ucapnya ketika pergi meninggalkan kampung halaman.

Mbok Ndewor pun hanya bisa kesepian menunggu kedatangan sang suami. Wanita 30 tahun ini hanya bisa nglipur ati dengan ngopeni anak. Ketika ditinggal sekolah, hanya sepi yang mendera. Apalagi, tempat tinggalnya tergolong susah sinyal. Sulit menghubungi sang suami lewat telepon.

Yen pas nang pasar lagi isa nelpon bojoku,” keluh Mbok Ndewor.

(Ilustrasi: Afrizal)

Wajar bila Mbok Ndewor mengeluh. Sebab, rutinitas ke pasarnya hanya seminggu sekali. Karena lokasinya yang relatif jauh. Dadine, mung seminggu pisan kuwi dia bisa bercengkerama jarak jauh dengan sang suami.

Baca Juga :  Menantu Rasa Pembantu

Hingga suatu saat, datanglah Kang Paimo. Tetangganya yang baru pulang dari merantau. Di mata Mbok Ndewor, tetangganya itu orang yang ramah dan supel. Hampir setiap hari keduanya bercengkerama. Kebetulan, Kang Paimo juga tak berniat balik ke rantau. Pingin buka usaha di rumah. Jadi, banyak waktu bagi keduanya berbagi cerita.

Nah, kehadiran Kang Paimo itulah ibarat kumbang yang datang di bunga-bunga hati Mbok Ndewor. Lama-lama, si kumbang mulai menyemai benih-benih asmara. Klop wis, Mbok Ndewor yang kesepian mendapat pelepasan hasrat. Ibaratnya, Kang Paimo adalah pagar yang makan tetangga, peh!

Tapi, yang namanya perbuatan buruk, suatu ketika pasti konangan. Kabar tentang perselingkuhan itu ternyata melintasi samudra dan didengar oleh Kang Sudrun di rantau. Sontak, dia ingin membuktikan langsung. Caranya, pulang tanpa memberi kabar.

Dan, hari itu tibalah. Siang-siang, pas wektune anak sekolah, Kang Sudrun tiba di rumah. Tak pelak, dia pun mendapat Mbok Ndewor yang tak menyangka suaminya bakal datang. Dan, sang istri lebih bingung lagi karena pada saat itu tengah berduaan dengan Kang Paimo, kekasih gelapnya.

Baca Juga :  Bisnis Bangkrut, Cinta pun Kukut

Sapa sing ora lara ati ndelok bojo selingkuh nang ngarep mata. Ora ngerti sing lanang kerja mbanting lulang nggolek duwet,” gerutu Kang Sudrun dengan mata merah.

Mbok Ndewor hanya bisa ndeprok dan nangis geru-geru. Njaluk sepura nang bojone. Janji ora bakal melakukan lagi.

Tapi, amarah Kang Sudrun sudah sampai ubun-ubun. Tidak ada lagi maaf yang tersisa untuk istrinya.

Njaluk sepura ya percuma wae. Karepku megat ya tak pegat wae,” tegas Kang Sudrun sambil melengos.

Tinggallah Mbok Ndewor menyesali diri. Kesenangan sesaatnya berujung mala petaka besar. Dia tak bisa memperbaiki keadaan. Paribasane, beras wutah arang bali nang takere alias nasi sudah menjadi bubur.






Reporter: Ilmidza Amalia Nadzira

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/