28.8 C
Kediri
Sunday, June 26, 2022

Penyidik Kejari Kota Kediri Akan Periksa Saksi dari Dinas Sosial

KOTA, JP Radar Kediri-Usai melakukan penggeledahan di enam lokasi, penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Kediri melanjutkan penelusuran aliran fee program bantuan pangan non-tunai (BPNT) senilai Rp 1,4 miliar. Hal tersebut dilakukan oleh korps adhyaksa setelah mereka menengarai uang dari pada supplier bahan pangan tersebut digunakan untuk bancakan.

          Kasi Intelijen Kejari Kota Kediri Harry Rachmat mengungkapkan, penelusuran aliran fee dilakukan lewat beberapa cara. Salah satunya, dengan menganalisa aliran dana dan transfer yang mencurigakan.

          Penyitaan dua buku tabungan milik Nurbayati dan Suratno yang dilakukan penyidik pada Senin (31/1) lalu, menurut Harry juga merupakan salah satu upaya penelusuran aliran fee. “Kami dalami kemungkinan adanya aliran dana (fee BPNT, Red) yang masuk ke rekening itu,” kata Harry.

          Harry tak menampik jika penyidik mencurigai dana lebih dari Rp 1 miliar itu digunakan untuk bancakan. Termasuk, mendalami indikasi adanya uang yang mengalir ke eksternal atau di luar lingkungan dinas sosial dan pengelola BPNT.

Baca Juga :  Pemain Persik Kediri, Felix, Ibo dan Dani Siap Main Lawan PSS

          Dari pemeriksaan awal, menurut Harry uang fee BPNT yang diterima Triyono Kutut Purwanto dibagikan ke beberapa oknum di dinas sosial dan Koordinator Daerah (Korda) BPNT Sri Dewi Roro Sawitri. Meski demikian, penyidik tidak berhenti di sana.

          Dalam perjalanannya, selain Kutut total ada 19 orang di dinas sosial dan petugas BPNT yang mengembalikan uang. Nilainya mencapai Rp 392,7 juta. “Kuncinya tetap pada dua tersangka (Kutut dan Roro, Red) untuk mengungkap aliran dana,” terang Harry.

          Sementara itu, selain menelusuri aliran dana, pihaknya juga akan mencocokkan rekapan dokumen yang diamankan dari pendamping kecamatan dengan keterangan dua tersangka dan supplier. Setelah semuanya komplet, penyidik akan kembali melakukan pemeriksaan kepada saksi-saksi.

Baca Juga :  Kepala Robek Dikeroyok Orang Tak Dikenal

          Sesuai jadwal, pemeriksaan saksi dilakukan mulai

Kamis (3/2) nanti. “Harusnya besok (2/2), tapi masih ada rapat kerja daerah jadi harus ditunda dulu,” terang Harry.

          Terkait jumlah saksi yang akan diperiksa, Harry mengaku belum bisa menyebutkannya. Meski demikian, sebelumnya Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Nurngali menyebut timnya akan memeriksa lebih dari 20 orang.

          Seperti diberitakan, sebelumnya penyidik telah melakukan penggeledahan di enam lokasi sejak Jumat (28/1) hingga Senin (31/1). Mulai menggeledah rumah Kutut dan Roro, tim kejaksaan juga menggeledah kantor dinas sosial. Adapun tiga lokasi lainnya adalah rumah pendamping bantuan sosial pangan (BSP) atau BPNT kecamatan.

          Dari enam lokasi tersebut, tim kejaksaan mengamankan tiga unit sepeda, helm, menyita dua buku tabungan pendamping BPS kecamatan, dan sejumlah dokumen. Barang bukti itulah yang saat ini tengah ditelaah oleh tim. (rq/ut)

- Advertisement -

KOTA, JP Radar Kediri-Usai melakukan penggeledahan di enam lokasi, penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Kediri melanjutkan penelusuran aliran fee program bantuan pangan non-tunai (BPNT) senilai Rp 1,4 miliar. Hal tersebut dilakukan oleh korps adhyaksa setelah mereka menengarai uang dari pada supplier bahan pangan tersebut digunakan untuk bancakan.

          Kasi Intelijen Kejari Kota Kediri Harry Rachmat mengungkapkan, penelusuran aliran fee dilakukan lewat beberapa cara. Salah satunya, dengan menganalisa aliran dana dan transfer yang mencurigakan.

          Penyitaan dua buku tabungan milik Nurbayati dan Suratno yang dilakukan penyidik pada Senin (31/1) lalu, menurut Harry juga merupakan salah satu upaya penelusuran aliran fee. “Kami dalami kemungkinan adanya aliran dana (fee BPNT, Red) yang masuk ke rekening itu,” kata Harry.

          Harry tak menampik jika penyidik mencurigai dana lebih dari Rp 1 miliar itu digunakan untuk bancakan. Termasuk, mendalami indikasi adanya uang yang mengalir ke eksternal atau di luar lingkungan dinas sosial dan pengelola BPNT.

Baca Juga :  Satreskrim Polres Kediri Periksa Pengelola Bendung Gerak Waru Turi

          Dari pemeriksaan awal, menurut Harry uang fee BPNT yang diterima Triyono Kutut Purwanto dibagikan ke beberapa oknum di dinas sosial dan Koordinator Daerah (Korda) BPNT Sri Dewi Roro Sawitri. Meski demikian, penyidik tidak berhenti di sana.

          Dalam perjalanannya, selain Kutut total ada 19 orang di dinas sosial dan petugas BPNT yang mengembalikan uang. Nilainya mencapai Rp 392,7 juta. “Kuncinya tetap pada dua tersangka (Kutut dan Roro, Red) untuk mengungkap aliran dana,” terang Harry.

          Sementara itu, selain menelusuri aliran dana, pihaknya juga akan mencocokkan rekapan dokumen yang diamankan dari pendamping kecamatan dengan keterangan dua tersangka dan supplier. Setelah semuanya komplet, penyidik akan kembali melakukan pemeriksaan kepada saksi-saksi.

Baca Juga :  Liga 1 Makin Dekat, Chemistry Antarpemain Persik Harus Kuat

          Sesuai jadwal, pemeriksaan saksi dilakukan mulai

Kamis (3/2) nanti. “Harusnya besok (2/2), tapi masih ada rapat kerja daerah jadi harus ditunda dulu,” terang Harry.

          Terkait jumlah saksi yang akan diperiksa, Harry mengaku belum bisa menyebutkannya. Meski demikian, sebelumnya Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Nurngali menyebut timnya akan memeriksa lebih dari 20 orang.

          Seperti diberitakan, sebelumnya penyidik telah melakukan penggeledahan di enam lokasi sejak Jumat (28/1) hingga Senin (31/1). Mulai menggeledah rumah Kutut dan Roro, tim kejaksaan juga menggeledah kantor dinas sosial. Adapun tiga lokasi lainnya adalah rumah pendamping bantuan sosial pangan (BSP) atau BPNT kecamatan.

          Dari enam lokasi tersebut, tim kejaksaan mengamankan tiga unit sepeda, helm, menyita dua buku tabungan pendamping BPS kecamatan, dan sejumlah dokumen. Barang bukti itulah yang saat ini tengah ditelaah oleh tim. (rq/ut)

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/