29.1 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Pilih Gunung karena Hongsui

Dahulu kala, pemakaman Tionghoa bukan hanya di satu lokasi. Ada empat lokasi. Di Kelurahan Semampir, Kelurahan Pojok, area Selomangleng anak gunung Klotok, dan Djong Biroe yang kini dikenal sebagai Desa Jongbiru, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri.

Keberadaan makam-makam itu tertuang dalam dokumen Gie Kie tentang ”Reglement Koeboran” dan statuten dari ”Begrafenisfonds Gie Kie Kong Soe” yang diterbitkan pada Agustus 1875. Datanya kemudian disalin kembali pada 15 Mei 1934, isinya penetapan lokasi penguburan bagi warga Tionghoa.

Dalam dokumen yang masih ejaan lama bercampur bahasa Belanda itu disebutkan kuburan Tionghoa umum dan kuburan luar biasa. Diduga yang dimaksud luar biasa adalah warga Tionghoa yang memiliki kedudukan tertentu.

Menurut Yap Swie Lay, tokoh Tionghoa Kediri, sebenarnya tidak ada aturan khusus untuk pemilihan tempat penguburan. ”Alasannya sederhana saja. Lokasi-lokasi itu dulu kan sepi penduduk,” terangnya.

Tetapi, ada pula kepercayaan pemilihan lereng gunung terkait dengan raihan berkah bagi yang meninggal serta keluarga yang ditinggalkan jika berada di tempat tinggi. “Kepercayaan ini lebih karena dianggap hongsui yang bagus,” terangnya. Namun, ini juga tidak bisa dijadikan patokan karena ada daerah-daerah lain yang tidak memiliki gunung atau bukit juga memiliki pemakaman di dataran rendah.

Data dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Kediri menyebut, luas makam Tionghoa di Gunung Klotok mencapai 253.212 meter persegi. Dibedakan antara sisi selatan dan utara, yaitu di sekitar Gua Selomangleng. Dari jumlah tersebut diperkirakan tidak sampai lima hektare yang digunakan untuk makam.

Baca Juga :  Jual Pil Dobel L pada Kuli Bangunan, Pemuda Semampir Ditangkap

Saat ini, makam untuk keturunan Tionghoa ini dipusatkan di Gunung Klotok, Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto atau sekarang disebut Bong China. Sementara tiga tempat lainnya di Jong Biru, Semampir, dan Selomangleng untuk permukiman dan bangunan lainnya.     Seperti di Semampir, saat ini bekas makam sudah menjadi Masjid Semampir serta bangunan milik Pemkot Kediri. Sementara di Selomangleng telah menjadi tempat wisata dan permukiman.

Hanya di Semampir yang masih menyisakan sedikit kuburan Tionghoa yang berlokasi di pemakaman umum. Beberapa makam yang di luar Bong Cina akhirnya ikut dipindahkan ke sana atas permintaan keluarga.

Saat ini, tercatat ratusan makam di Bong China. Untuk pengelolaan, setiap keluarga yang meninggal dikenai retribusi yang diperpanjang setiap 5 tahun senilai kurang dari Rp 200 ribu. Tidak ada jadwal khusus untuk pemindahan atau penggabungan makam Tionghoa itu ke Gunung Klotok. Tetapi, karena beberapa lahan yang digunakan untuk permukiman akhirnya makam dipindahkan sendiri oleh keluarga.

Menurut Wiyono, petugas pemakaman dari Perkumpulan Rukun Sinoman Dana Pangrukti atau Gie Kie, memang banyak makam warga Tionghoa di luar Bong Cina akhirnya dipindahkan ke Gunung Klotok.

Bahkan, sekitar 2005 dia ikut memindahkan puluhan jasad ke Bong Cina. Selain karena tanah yang lama digunakan untuk bangunan, juga tak lain agar bergabung dengan anggota keluarga lainnya yang meninggal.

Baca Juga :  Terobos Lampu Merah, Bus Tabrak Motor

Setiap kali ada pemakaman, keluarga meminta posisinya tepat garis lurus dengan puncak gunung. Posisi itu diyakini akan mendatangan rezeki. Posisi kepala biasanya lebih dekat ke arah gunung. (dea/fud)

 

 

Makam Kuno Incaran Penjarah

No 1 : Lokasi jenazah dimakamkan. Biasanya posisinya menghadap searah ke arah gunung

No 2: Papan nisan yang berisi ukiran keterangan jenazah seperti nama dan tahun kematian. Untuk makam lama tertulis dalam huruf Tiongkok dengan tahun kematian sesuai dengan nama kaisar yang sedang bertahta saat itu.

No 3: Papan ukiran yang berisi puisi-puisi indah tentang kehidupan dalam tulisan huruf Tiongkok.

No 4. Papan batu dengan ukiran pahatan lukisan indah sesuai dengan keinginan keluarga duka. Bagian ini yang paling banyak diincar penjarah karena pahatan yang halus dan asli berasal dari Tiongkok.

No 5. Patung tentara dengan pakaian militer zamat Tiongkok Kuno. Saat ini, seluruh patung ini telah hilang bagian kepalanya. Berada di sisi kanan dan kiri makam.

No 6. Kie Lien. Patung berbentuk singa penjaga. Berada di sisi kanan dan kiri makam. Patung ini juga yang paling diminati penjarah.

 

 

- Advertisement -

Dahulu kala, pemakaman Tionghoa bukan hanya di satu lokasi. Ada empat lokasi. Di Kelurahan Semampir, Kelurahan Pojok, area Selomangleng anak gunung Klotok, dan Djong Biroe yang kini dikenal sebagai Desa Jongbiru, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri.

Keberadaan makam-makam itu tertuang dalam dokumen Gie Kie tentang ”Reglement Koeboran” dan statuten dari ”Begrafenisfonds Gie Kie Kong Soe” yang diterbitkan pada Agustus 1875. Datanya kemudian disalin kembali pada 15 Mei 1934, isinya penetapan lokasi penguburan bagi warga Tionghoa.

Dalam dokumen yang masih ejaan lama bercampur bahasa Belanda itu disebutkan kuburan Tionghoa umum dan kuburan luar biasa. Diduga yang dimaksud luar biasa adalah warga Tionghoa yang memiliki kedudukan tertentu.

Menurut Yap Swie Lay, tokoh Tionghoa Kediri, sebenarnya tidak ada aturan khusus untuk pemilihan tempat penguburan. ”Alasannya sederhana saja. Lokasi-lokasi itu dulu kan sepi penduduk,” terangnya.

Tetapi, ada pula kepercayaan pemilihan lereng gunung terkait dengan raihan berkah bagi yang meninggal serta keluarga yang ditinggalkan jika berada di tempat tinggi. “Kepercayaan ini lebih karena dianggap hongsui yang bagus,” terangnya. Namun, ini juga tidak bisa dijadikan patokan karena ada daerah-daerah lain yang tidak memiliki gunung atau bukit juga memiliki pemakaman di dataran rendah.

Data dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Kediri menyebut, luas makam Tionghoa di Gunung Klotok mencapai 253.212 meter persegi. Dibedakan antara sisi selatan dan utara, yaitu di sekitar Gua Selomangleng. Dari jumlah tersebut diperkirakan tidak sampai lima hektare yang digunakan untuk makam.

Baca Juga :  Melanggar Lagi, Izin Nav 2 Terancam Dicabut

Saat ini, makam untuk keturunan Tionghoa ini dipusatkan di Gunung Klotok, Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto atau sekarang disebut Bong China. Sementara tiga tempat lainnya di Jong Biru, Semampir, dan Selomangleng untuk permukiman dan bangunan lainnya.     Seperti di Semampir, saat ini bekas makam sudah menjadi Masjid Semampir serta bangunan milik Pemkot Kediri. Sementara di Selomangleng telah menjadi tempat wisata dan permukiman.

Hanya di Semampir yang masih menyisakan sedikit kuburan Tionghoa yang berlokasi di pemakaman umum. Beberapa makam yang di luar Bong Cina akhirnya ikut dipindahkan ke sana atas permintaan keluarga.

Saat ini, tercatat ratusan makam di Bong China. Untuk pengelolaan, setiap keluarga yang meninggal dikenai retribusi yang diperpanjang setiap 5 tahun senilai kurang dari Rp 200 ribu. Tidak ada jadwal khusus untuk pemindahan atau penggabungan makam Tionghoa itu ke Gunung Klotok. Tetapi, karena beberapa lahan yang digunakan untuk permukiman akhirnya makam dipindahkan sendiri oleh keluarga.

Menurut Wiyono, petugas pemakaman dari Perkumpulan Rukun Sinoman Dana Pangrukti atau Gie Kie, memang banyak makam warga Tionghoa di luar Bong Cina akhirnya dipindahkan ke Gunung Klotok.

Bahkan, sekitar 2005 dia ikut memindahkan puluhan jasad ke Bong Cina. Selain karena tanah yang lama digunakan untuk bangunan, juga tak lain agar bergabung dengan anggota keluarga lainnya yang meninggal.

Baca Juga :  Terobos Lampu Merah, Bus Tabrak Motor

Setiap kali ada pemakaman, keluarga meminta posisinya tepat garis lurus dengan puncak gunung. Posisi itu diyakini akan mendatangan rezeki. Posisi kepala biasanya lebih dekat ke arah gunung. (dea/fud)

 

 

Makam Kuno Incaran Penjarah

No 1 : Lokasi jenazah dimakamkan. Biasanya posisinya menghadap searah ke arah gunung

No 2: Papan nisan yang berisi ukiran keterangan jenazah seperti nama dan tahun kematian. Untuk makam lama tertulis dalam huruf Tiongkok dengan tahun kematian sesuai dengan nama kaisar yang sedang bertahta saat itu.

No 3: Papan ukiran yang berisi puisi-puisi indah tentang kehidupan dalam tulisan huruf Tiongkok.

No 4. Papan batu dengan ukiran pahatan lukisan indah sesuai dengan keinginan keluarga duka. Bagian ini yang paling banyak diincar penjarah karena pahatan yang halus dan asli berasal dari Tiongkok.

No 5. Patung tentara dengan pakaian militer zamat Tiongkok Kuno. Saat ini, seluruh patung ini telah hilang bagian kepalanya. Berada di sisi kanan dan kiri makam.

No 6. Kie Lien. Patung berbentuk singa penjaga. Berada di sisi kanan dan kiri makam. Patung ini juga yang paling diminati penjarah.

 

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/