29.8 C
Kediri
Thursday, June 30, 2022

Harta Karun di Makam Tionghoa

Komplotan pencuri tertangkap menjarah ornamen di Bong China, Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto Sabtu (24/10). Bukan kali pertama. Ternyata pencurian telah ke sekian kalinya. Apa daya tarik dari ornamen itu?

Makam-makam itu memang beda. Tersembunyi dari makam-makam lainnya. Tersebar di beberapa lokasi. Semua berukir huruf Tiongkok. Bukan huruf latin seperti umumnya makam baru. Semuanya juga seperti tak terawat. Sebagian tertutup rumput liar dan lumut.

Ketika diperhatikan seksama, baru terlihat keindahannya. Seluruh ornamennya terbuat dari batu utuh. Ya, utuh. Bukan tempelan. “Jadi ini batu yang dipahat, bukan tempelan seperti sekarang. Ini yang tidak ada di sini (Indonesia, Red),” tutur Yap Swie Lay, tokoh Tionghoa dari Kediri yang mendampingi Jawa Pos Radar Kediri berkeliling ke makam-makam yang ada di Bong China.

Pria yang juga pengurus Perkumpulan Rukun Sinoman Dana Pangrukti Kediri ini lalu menunjukkan ukiran halus dari batu-batu yang masih tersisa, belum terjarah. “Lihat saja, bandingkan dengan ukiran di makam lainnya. Yang ini terlihat jauh lebih halus dan khas dari sana (Tiongkok, Red),” terangnya.

Dia lalu menunjukkan beda batu asli Tiongkok dengan batu lainnya. Menurutnya, batu yang didatangkan dari Tiongkok bisa dilihat dari guratan dan warna hijau yang muncul. Batu seperti ini tidak ada di Indonesia. Harganya bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta.

Baca Juga :  Tercebur Got, Terseret Arus, Bocah 6 Tahun Asal Wonorejo Puncu Tewas

Biasanya yang diincar adalah patung Kie Lin yang berbentuk singa, yang dipercaya sebagai penjaga. Patung ini biasanya ada dua. Selain itu juga yang diminati adalah lempeng batu yang berisi ukiran-ukiran lukisan.

Pria yang juga dipanggil Sunaryo ini mengatakan, dari tulisan yang terukir menyebut waktu meninggal dengan menyebutkan nama kaisar yang sedang bertahta di Tiongkok saat itu. Selain itu, juga terukir puisi indah di papan nisan setiap makam.

Menurut Yap Swie Lay, diperkirakan mereka yang dimakamkan dengan ornamen yang mahal dan indah tersebut karena termasuk keluarga sukses di Kediri. “Sebagai bukti bakti keluarga, akhirnya dibangun makam yang indah,” terangnya.

Saat ini, selain di makam-makam lama yang ada di Pemakaman Tionghoa Klotok, batu sejenis bisa ditemukan di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong. “Tapi, jelas tidak mungkin batu dari pemakaman digunakan di kelenteng. Yang sana (kelenteng) pasti baru,” terangnya.

Karena itu, dia memprediksi orang-orang yang mencuri batu dan ornamen dari pemakaman itu memang direncanakan juga untuk pemakaman. Selain empat makam di area Bong China yang dijarah, setidaknya ada sekitar belasan makam dengan bentuk serupa yang bisa ditemukan di beberapa sudut makam. Saat ini, total makam yang ada area Bong China Klotok sekitar 600 makam.

Baca Juga :  Potensi Kopi Unggulan, Bisa ke Kancah Luar Negeri

Mengenai pencuri yang mengincar makam-makam Tionghoa, Yap Swie Lay melihat karena banyak makam yang terlihat megah dengan bentuk, ukuran dan ornamen. Apalagi, ditambah dengan informasi kalau setiap orang Tionghoa meninggal pasti disertai barang-barang mewah. “Padahal, tidak selalu begitu. Dan itu bukan kewajiban,” terangnya.

Menurutnya,  semua kemewahan yang menyertai pemakaman Tionghoa itu tak lain karena bukti bakti dari keluarga yang bersangkutan. Sehingga ingin terus membahagiakan orang yang telah meninggalkan dunia. “Jadi, ada yang beranggapan kalau selama yang meninggal itu masih hidup, kurang bisa membahagiakan, maka saat meninggal ingin membahagiakan dengan cara ini,” terangnya. Selain itu, terangnya, apa yang dilakukan keluarga Tionghoa itu tidak berdasarkan agama dan keyakinan tetapi lebih berdasarkan adat istiadat. (dea/fud)

 

 

 

 

- Advertisement -

Komplotan pencuri tertangkap menjarah ornamen di Bong China, Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto Sabtu (24/10). Bukan kali pertama. Ternyata pencurian telah ke sekian kalinya. Apa daya tarik dari ornamen itu?

Makam-makam itu memang beda. Tersembunyi dari makam-makam lainnya. Tersebar di beberapa lokasi. Semua berukir huruf Tiongkok. Bukan huruf latin seperti umumnya makam baru. Semuanya juga seperti tak terawat. Sebagian tertutup rumput liar dan lumut.

Ketika diperhatikan seksama, baru terlihat keindahannya. Seluruh ornamennya terbuat dari batu utuh. Ya, utuh. Bukan tempelan. “Jadi ini batu yang dipahat, bukan tempelan seperti sekarang. Ini yang tidak ada di sini (Indonesia, Red),” tutur Yap Swie Lay, tokoh Tionghoa dari Kediri yang mendampingi Jawa Pos Radar Kediri berkeliling ke makam-makam yang ada di Bong China.

Pria yang juga pengurus Perkumpulan Rukun Sinoman Dana Pangrukti Kediri ini lalu menunjukkan ukiran halus dari batu-batu yang masih tersisa, belum terjarah. “Lihat saja, bandingkan dengan ukiran di makam lainnya. Yang ini terlihat jauh lebih halus dan khas dari sana (Tiongkok, Red),” terangnya.

Dia lalu menunjukkan beda batu asli Tiongkok dengan batu lainnya. Menurutnya, batu yang didatangkan dari Tiongkok bisa dilihat dari guratan dan warna hijau yang muncul. Batu seperti ini tidak ada di Indonesia. Harganya bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta.

Baca Juga :  Bidik Pasar Luar Negeri

Biasanya yang diincar adalah patung Kie Lin yang berbentuk singa, yang dipercaya sebagai penjaga. Patung ini biasanya ada dua. Selain itu juga yang diminati adalah lempeng batu yang berisi ukiran-ukiran lukisan.

Pria yang juga dipanggil Sunaryo ini mengatakan, dari tulisan yang terukir menyebut waktu meninggal dengan menyebutkan nama kaisar yang sedang bertahta di Tiongkok saat itu. Selain itu, juga terukir puisi indah di papan nisan setiap makam.

Menurut Yap Swie Lay, diperkirakan mereka yang dimakamkan dengan ornamen yang mahal dan indah tersebut karena termasuk keluarga sukses di Kediri. “Sebagai bukti bakti keluarga, akhirnya dibangun makam yang indah,” terangnya.

Saat ini, selain di makam-makam lama yang ada di Pemakaman Tionghoa Klotok, batu sejenis bisa ditemukan di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong. “Tapi, jelas tidak mungkin batu dari pemakaman digunakan di kelenteng. Yang sana (kelenteng) pasti baru,” terangnya.

Karena itu, dia memprediksi orang-orang yang mencuri batu dan ornamen dari pemakaman itu memang direncanakan juga untuk pemakaman. Selain empat makam di area Bong China yang dijarah, setidaknya ada sekitar belasan makam dengan bentuk serupa yang bisa ditemukan di beberapa sudut makam. Saat ini, total makam yang ada area Bong China Klotok sekitar 600 makam.

Baca Juga :  Buru Mafia Penimbun Pupuk Bersubsidi

Mengenai pencuri yang mengincar makam-makam Tionghoa, Yap Swie Lay melihat karena banyak makam yang terlihat megah dengan bentuk, ukuran dan ornamen. Apalagi, ditambah dengan informasi kalau setiap orang Tionghoa meninggal pasti disertai barang-barang mewah. “Padahal, tidak selalu begitu. Dan itu bukan kewajiban,” terangnya.

Menurutnya,  semua kemewahan yang menyertai pemakaman Tionghoa itu tak lain karena bukti bakti dari keluarga yang bersangkutan. Sehingga ingin terus membahagiakan orang yang telah meninggalkan dunia. “Jadi, ada yang beranggapan kalau selama yang meninggal itu masih hidup, kurang bisa membahagiakan, maka saat meninggal ingin membahagiakan dengan cara ini,” terangnya. Selain itu, terangnya, apa yang dilakukan keluarga Tionghoa itu tidak berdasarkan agama dan keyakinan tetapi lebih berdasarkan adat istiadat. (dea/fud)

 

 

 

 

Previous articlePilih Gunung karena Hongsui
Next article–Liburan–

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/