26.9 C
Kediri
Tuesday, July 5, 2022

Uang Digital Lebih Praktis dan Aman

KEDIRI – Penggunaan uang digital atau e-money kian familiar di masyarakat. Sejumlah transaksi pembelanjaan dan kebutuhan sehari-hari sudah mulai memanfaatkan e-money.

Kondisi ini dibenarkan oleh Kepala Tim Sistem Pembayaran Bank Indonesia Kediri Beny Wicaksono. “Saat ini untuk Kediri pasti sudah banyak yang menggunakan walaupun belum semua,” terangnya saat dijumpai Jawa Pos Radar Kediri.

Beny mengungkapkan bila uang digital sebenarnya mulai beredar di masyarakat sejak  peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009 tentang Uang Elektronik (Electronic Money) disahkan.

Hanya untuk persebarannya masih perlu sosialisasi secara serentak. Selain itu masyarakat juga belum terbiasa dengan penggunaan uang digital daripada uang kartal seperti kertas maupun uang logam dalam transaksi pembayaran sehari-hari.

Baca Juga :  Sekolah Daring Pukul Omzet Pedagang Pisang

Diakui Beny, bila penggunaan uang digital atau e-money diharapkan nantinya mampu mengurangi jumlah uang cash yang bererdar di masyarakat. Namun tidak menggantikan posisi keberadaan uang kartal yang sudah terbiasa digunakan masyarakat sehari-hari.

“E-money ini hanya lebih praktis dan efisien dalam penggunaannya,” paparnya. Lebih praktis di sini dalam arti dalam transaksi pembayaran tidak perlu ada pengembalian sisa uang dalam berbelanja. Sebab, secara otomatis, saldo yang terdapat pada uang digital berkurang sesuai dengan total belanja.

Ia juga menjelaskan, walaupun perkembangannya cukup pesat, apalagi adanya aturan wajib menggunakannya untuk pembayaran jalan tol. Uang digital ini tidak menggantikan posisi uang kartal. Sebab, uang digital ini juga perlu diisi ulang atau top-up untuk saldonya. Sebab, menggunakan uang kartal untuk transaksi. Keberadaan uang digital ini diakui lebih aman daripada uang kartal. Selain datanya dilindungi, dapat melakukan transaksi lebih cepat dari transaksi uang kartal.

Baca Juga :  Petani Kediri Harus Panen Dini, Ini Sebabnya

Contoh dari penggunaan uang digital ini adalah adanya penerapan kebijakan baru dalam memberikan bantuan kepada warga yang mendapatkan bantuan sosial dari program keluarga harapan (PKH) dan bantuan pangan non-tunai (BPNT). “Tidak hanya pihak bank, pihak swasta juga mengeluarkan uang digital seperti T-Cash, OVO dan produk e-money yang dikeluarkan oleh minimarket,” katanya. Beny mengakui bila BI terlibat untuk regulasi terkait penggunaan kartu untuk uang digital, yang merupakan bagian dari sistem pembayaran.

- Advertisement -

KEDIRI – Penggunaan uang digital atau e-money kian familiar di masyarakat. Sejumlah transaksi pembelanjaan dan kebutuhan sehari-hari sudah mulai memanfaatkan e-money.

Kondisi ini dibenarkan oleh Kepala Tim Sistem Pembayaran Bank Indonesia Kediri Beny Wicaksono. “Saat ini untuk Kediri pasti sudah banyak yang menggunakan walaupun belum semua,” terangnya saat dijumpai Jawa Pos Radar Kediri.

Beny mengungkapkan bila uang digital sebenarnya mulai beredar di masyarakat sejak  peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009 tentang Uang Elektronik (Electronic Money) disahkan.

Hanya untuk persebarannya masih perlu sosialisasi secara serentak. Selain itu masyarakat juga belum terbiasa dengan penggunaan uang digital daripada uang kartal seperti kertas maupun uang logam dalam transaksi pembayaran sehari-hari.

Baca Juga :  Korban Pinjol Terancam Gangguan Mental 

Diakui Beny, bila penggunaan uang digital atau e-money diharapkan nantinya mampu mengurangi jumlah uang cash yang bererdar di masyarakat. Namun tidak menggantikan posisi keberadaan uang kartal yang sudah terbiasa digunakan masyarakat sehari-hari.

“E-money ini hanya lebih praktis dan efisien dalam penggunaannya,” paparnya. Lebih praktis di sini dalam arti dalam transaksi pembayaran tidak perlu ada pengembalian sisa uang dalam berbelanja. Sebab, secara otomatis, saldo yang terdapat pada uang digital berkurang sesuai dengan total belanja.

Ia juga menjelaskan, walaupun perkembangannya cukup pesat, apalagi adanya aturan wajib menggunakannya untuk pembayaran jalan tol. Uang digital ini tidak menggantikan posisi uang kartal. Sebab, uang digital ini juga perlu diisi ulang atau top-up untuk saldonya. Sebab, menggunakan uang kartal untuk transaksi. Keberadaan uang digital ini diakui lebih aman daripada uang kartal. Selain datanya dilindungi, dapat melakukan transaksi lebih cepat dari transaksi uang kartal.

Baca Juga :  Dandim Nganjuk Ajak Tanggap Bencana

Contoh dari penggunaan uang digital ini adalah adanya penerapan kebijakan baru dalam memberikan bantuan kepada warga yang mendapatkan bantuan sosial dari program keluarga harapan (PKH) dan bantuan pangan non-tunai (BPNT). “Tidak hanya pihak bank, pihak swasta juga mengeluarkan uang digital seperti T-Cash, OVO dan produk e-money yang dikeluarkan oleh minimarket,” katanya. Beny mengakui bila BI terlibat untuk regulasi terkait penggunaan kartu untuk uang digital, yang merupakan bagian dari sistem pembayaran.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/