31.7 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Petani Jagung Resah Harga dan Stok Pupuk

PURWOASRI, JP Radar Kediri– Petani jagung di Desa Muneng, Kecamatan Purwoasri mengeluhkan harga pupuk masih tinggi. Padahal saat ini sedang musim tanam. Selain itu, kemarau mempengaruhi kualitas pertumbuhan jagung.

Supriono, 51, petani jagung dari desa setempat, mengatakan, harga pupuk Urea non subsidi yang dijual di kios Rp 220 ribu per sak. Harga ini naik dari beberapa bulan sebelumnya. Sedangkan, pupuk subsidi di beberapa kios penyalur kelompok tani Rp 118 ribu. Namun stoknya minim.

“Di kelompok tani stoknya kurang, sehingga saya beli di kios pupuk,” ujarnya saat ditemui koran ini, Selasa (26/7).

Pemilik lahan jagung seluas 100 ru itu mengaku, pupuk yang dibeli di kios tidak cukup untuk menaburi tanaman jagungnya. Kekurangan pupuk menyebabkan kualitas pertumbuhan jagung merosot. “Itu berdampak pada jumlah dan harga penjualan,” keluh Supri.

Baca Juga :  Upaya Petani Cabai Kediri Bertahan saat Harga Anjlok di Tengah Pandemi

Menurut dia, batang tanaman jagung sangat rentan busuk karena serangan hama. Supriono mengaku, kesulitan mengatasinya. “Obat pembasmi hama dosis tinggi hingga saat ini belum ada. Kami masih menunggu ketersediaan obat yang manjur,” urainya.

Sutalip, 54, petani lainnya, mengeluhkan harga jagung yang turun. “Tahun lalu Rp 5.000 per kilogram. Kini Rp 3.800 per kilo,” ungkapnya saat ditemui di sawahnya.

Sutalip pun mengaku pupuk bersubsidi dari kelompok tani tidak memenuhi area sawahanya seluas 150 ru. “Bibit juga tidak sampai semua lahan,” ujarnya. Para petani berharap dinas pertanian memberi solusi agar dipermudah mendapatkan pupuk.

Seiring datangnya kemarau, kedua petani itu harus menggunakan mesin pompa air untuk dapat mengaliri areal persawahannya. Pantauan  koran ini, lebih dari 4 petani menggunakan mesin pompa air untuk masing-masing  sawahnya. Mereka mengalirkan air dengan pompa setiap 10 hari sekali. (c1/ndr)

Baca Juga :  Di Pasar Bandar Harga Minyak Masih Rp 20 ribu – Rp 22 ribu per Liter
- Advertisement -

PURWOASRI, JP Radar Kediri– Petani jagung di Desa Muneng, Kecamatan Purwoasri mengeluhkan harga pupuk masih tinggi. Padahal saat ini sedang musim tanam. Selain itu, kemarau mempengaruhi kualitas pertumbuhan jagung.

Supriono, 51, petani jagung dari desa setempat, mengatakan, harga pupuk Urea non subsidi yang dijual di kios Rp 220 ribu per sak. Harga ini naik dari beberapa bulan sebelumnya. Sedangkan, pupuk subsidi di beberapa kios penyalur kelompok tani Rp 118 ribu. Namun stoknya minim.

“Di kelompok tani stoknya kurang, sehingga saya beli di kios pupuk,” ujarnya saat ditemui koran ini, Selasa (26/7).

Pemilik lahan jagung seluas 100 ru itu mengaku, pupuk yang dibeli di kios tidak cukup untuk menaburi tanaman jagungnya. Kekurangan pupuk menyebabkan kualitas pertumbuhan jagung merosot. “Itu berdampak pada jumlah dan harga penjualan,” keluh Supri.

Baca Juga :  Gebyar Milad Yayasan Bina Insani Kediri

Menurut dia, batang tanaman jagung sangat rentan busuk karena serangan hama. Supriono mengaku, kesulitan mengatasinya. “Obat pembasmi hama dosis tinggi hingga saat ini belum ada. Kami masih menunggu ketersediaan obat yang manjur,” urainya.

Sutalip, 54, petani lainnya, mengeluhkan harga jagung yang turun. “Tahun lalu Rp 5.000 per kilogram. Kini Rp 3.800 per kilo,” ungkapnya saat ditemui di sawahnya.

Sutalip pun mengaku pupuk bersubsidi dari kelompok tani tidak memenuhi area sawahanya seluas 150 ru. “Bibit juga tidak sampai semua lahan,” ujarnya. Para petani berharap dinas pertanian memberi solusi agar dipermudah mendapatkan pupuk.

Seiring datangnya kemarau, kedua petani itu harus menggunakan mesin pompa air untuk dapat mengaliri areal persawahannya. Pantauan  koran ini, lebih dari 4 petani menggunakan mesin pompa air untuk masing-masing  sawahnya. Mereka mengalirkan air dengan pompa setiap 10 hari sekali. (c1/ndr)

Baca Juga :  Inflasi Dipengaruhi Kenaikan Harga BBM

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/