23.7 C
Kediri
Sunday, June 26, 2022

Kubis Lokal Kalah Pamor dari Kubis Luar Kota

KOTA, JP Radar Kediri – Pamor kubis tanaman petani lokal Kediri ternyata kalah mentereng bila dibandingkan tanaman kubis dari luar kota. Harga komoditas tersebut bisa lebih mahal bila itu datang dari daerah seperti Malang atau wilayah sekitar Gunung Bromo.

Menurut para pedagang, lebih mahalnya kubis dari luar daerah itu karena peminatnya juga lebih banyak. Konsumen lebih memilih kubis dari luar daerah karena secara kualitas dianggap lebih bagus.

“Harga kubis tergantung dengan kualitas barang,” terang Yunus, seorang pedagang sayur di Pasar Grosir Sayur dan Buah Ngronggo.

Contohnya adalah di lapak milik Yunus itu. Harga kubis dari luar kota jauh lebih mahal dibanding dengan harga kubis lokal. Kubis dari luar kota, untuk eceran dijual dengan harga Rp 4.000 per kilogram. Bila penjualan secara grosir harga menjadi Rp 3.500 per kilogram.

Sementara untuk harga kubis lokal untuk ecera dijual dengan harga Rp 2.000 per kilogram. Dan untuk grosir harganya hanya Rp 1.500 per kilogram. Yang berarti hampir separo harga dari kubis luar daerah.

Baca Juga :  Tak Ada Lonjakan Harga Tomat

Versi para pedagang itu, kubis asal Malang dan Bromo memiliki kandungan air lebih sedikit. Berbeda dengan kubis dari wilayah Kediri yang kandungan airnya lebih banyak. Kandungan air itulah yang membuat berpengaruh pada kualitas sayuran. Kubis asal Kediri paling lama bertahan selama dua hari.

Karena kondisi kubis yang mudah membusuk itulah Yunus hanya membeli sedikit yang asal Kediri. Yaitu hanya 200 kilogram. Kubis sebanyak itu untuk kebutuhan selama satu hari. Sedangkan untuk kubis dari luar daerah, dia berani mendatangkan hingga 400 kilogram. Stok tersebut digunakan untuk kebutuhan selama dua hari.

“Untuk tengkulak, atau pedagang sayur kebanyakan beli kubis dari luar kota. Sedangkan untuk pabrik, ambil yang dari lokal karena jauh lebih murah,” tutur Yunus.

Dikonfirmasi terpisah, menurut Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri Anang Widodo, melalui Kasie Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Hortikultura Arahayu Setyo Adi, kualitas panen kubis di Kabupaten Kediri sebenarnya jauh lebih bagus bila dibanding dengan kubis luar kota. “Kubis yang dibudidayakan di Kabupaten Kediri merupakan kubis dataran rendah yang adaptasinya cukup bagus,” terang Adi.

Baca Juga :  Minta Segera Terbitkan Suket Kelulusan

Pada budidaya kubis,  musuh petani adalah ulat crocidolomia binotalis. Hama ini menyerang kubis sehingga daunnya banyak yang berlubang. Untuk pengendaliannya menggunakan insektisida yang sifatnya sistemik. Yang menyebabkan residu pada kubis cukup tinggi.

“Selama ini Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri mensosialisasikan ke petani dengan menggunakan insektisida biologi yang mengandung bakteri bacillus thuringiensis. Sehingga kualitas kubis dari Kediri bagus serta sehat,” terangnya.

Sedangkan kubis dari Malang, tambah Adi, kebanyakan dibudidayakan di dataran tinggi. Pada dataran tinggi, karena waktu kelembaban tinggi sehingga serangan hama dan penyakitnya tinggi. Hal tersebut berakibat pada penggunaan pestisidanya lebih tinggi. Sehingga kualitasnya lebih rendah karena daya simpannya pendek dan kurang bagus utk pengiriman jarak jauh.

 

- Advertisement -

KOTA, JP Radar Kediri – Pamor kubis tanaman petani lokal Kediri ternyata kalah mentereng bila dibandingkan tanaman kubis dari luar kota. Harga komoditas tersebut bisa lebih mahal bila itu datang dari daerah seperti Malang atau wilayah sekitar Gunung Bromo.

Menurut para pedagang, lebih mahalnya kubis dari luar daerah itu karena peminatnya juga lebih banyak. Konsumen lebih memilih kubis dari luar daerah karena secara kualitas dianggap lebih bagus.

“Harga kubis tergantung dengan kualitas barang,” terang Yunus, seorang pedagang sayur di Pasar Grosir Sayur dan Buah Ngronggo.

Contohnya adalah di lapak milik Yunus itu. Harga kubis dari luar kota jauh lebih mahal dibanding dengan harga kubis lokal. Kubis dari luar kota, untuk eceran dijual dengan harga Rp 4.000 per kilogram. Bila penjualan secara grosir harga menjadi Rp 3.500 per kilogram.

Sementara untuk harga kubis lokal untuk ecera dijual dengan harga Rp 2.000 per kilogram. Dan untuk grosir harganya hanya Rp 1.500 per kilogram. Yang berarti hampir separo harga dari kubis luar daerah.

Baca Juga :  Sedikit Pembeli, Pedagang Terompet Mengeluh

Versi para pedagang itu, kubis asal Malang dan Bromo memiliki kandungan air lebih sedikit. Berbeda dengan kubis dari wilayah Kediri yang kandungan airnya lebih banyak. Kandungan air itulah yang membuat berpengaruh pada kualitas sayuran. Kubis asal Kediri paling lama bertahan selama dua hari.

Karena kondisi kubis yang mudah membusuk itulah Yunus hanya membeli sedikit yang asal Kediri. Yaitu hanya 200 kilogram. Kubis sebanyak itu untuk kebutuhan selama satu hari. Sedangkan untuk kubis dari luar daerah, dia berani mendatangkan hingga 400 kilogram. Stok tersebut digunakan untuk kebutuhan selama dua hari.

“Untuk tengkulak, atau pedagang sayur kebanyakan beli kubis dari luar kota. Sedangkan untuk pabrik, ambil yang dari lokal karena jauh lebih murah,” tutur Yunus.

Dikonfirmasi terpisah, menurut Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri Anang Widodo, melalui Kasie Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Hortikultura Arahayu Setyo Adi, kualitas panen kubis di Kabupaten Kediri sebenarnya jauh lebih bagus bila dibanding dengan kubis luar kota. “Kubis yang dibudidayakan di Kabupaten Kediri merupakan kubis dataran rendah yang adaptasinya cukup bagus,” terang Adi.

Baca Juga :  Tak Ada Lonjakan Harga Tomat

Pada budidaya kubis,  musuh petani adalah ulat crocidolomia binotalis. Hama ini menyerang kubis sehingga daunnya banyak yang berlubang. Untuk pengendaliannya menggunakan insektisida yang sifatnya sistemik. Yang menyebabkan residu pada kubis cukup tinggi.

“Selama ini Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri mensosialisasikan ke petani dengan menggunakan insektisida biologi yang mengandung bakteri bacillus thuringiensis. Sehingga kualitas kubis dari Kediri bagus serta sehat,” terangnya.

Sedangkan kubis dari Malang, tambah Adi, kebanyakan dibudidayakan di dataran tinggi. Pada dataran tinggi, karena waktu kelembaban tinggi sehingga serangan hama dan penyakitnya tinggi. Hal tersebut berakibat pada penggunaan pestisidanya lebih tinggi. Sehingga kualitasnya lebih rendah karena daya simpannya pendek dan kurang bagus utk pengiriman jarak jauh.

 

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/