23.7 C
Kediri
Sunday, June 26, 2022

Puluhan Kios dan Los Disegel

KOTA, JP Radar Kediri – Beberapa pedagang konveksi di Pasar Setonobetek, Kota Kediri gundah. Pasalnya, lapak mereka berupa los dan kios disegel. Lokasinya diberi batas dengan tanda pita bertuliskan Do Not Enter di sekeliling lapak.

Merasa tak mengetahui alasan tindakan itu, pedagang yang lapaknya disegel mempertanyakan masalahnya. Mereka menuding penyegelan itu dilakukan koordinator pasar setempat.

Namun tak ada pembicaraan sebelumnya. Para pedagang tersebut menyatakan tindakan penyegelan dilakukan secara sepihak. “Penyegelan ini sudah dilakukan sekitar dua minggu lalu,” kata salah satu pedagang konveksi Pasar Setonobetek yang namanya enggan dikorankan.

Kabarnya, penyegelan dilakukan pengelola pasar gara-gara pedagang yang bersangkutan tidak beroperasi lagi. Sehingga mereka pun tak membayar retribusi.

“Kalau kabar yang saya dengar seperti itu,” ujar pria yang telah berjualan di Pasar Setonobetek selama puluhan tahun tersebut.

Lebih lanjut, dia menganggap, tindakan penyegelan lapak beberapa pedagang konveksi itu juga kurang tepat. Sebab, pihak koordinator pasar dituding tidak memberikan surat peringatan terlebih dahulu. Mulai dari surat peringatan pertama hingga akhirnya dilakukan penyegelan tersebut.

“Dari keterangan teman-teman pedagang, tidak ada surat pemberitahuan atau peringatan semacam itu,” ungkap pedagang ini.

Baca Juga :  Semakin Banyak Varian Produk di Gerai Serambi Tani

Tidak adanya surat peringatan secara bertahap itulah yang menjadi salah satu keluhan sejumlah pedagang konveksi di sana. Meskipun, los miliknya sendiri tidak termasuk yang disegel oleh pengelola pasar setempat.

Kendati begitu, penyegelan tersebut dirasakan sesama pedagang konveksi lain membawa dampak psikologis yang kurang baik. Utamanya kepada pengunjung atau calon pembeli di sana.

Otomatis hal ini menyebabkan aktivitas perdagangan di Pasar Setonobetek semakin buruk. Selain itu, juga berimbas kepada pendapatan para pedagang yang masih beroperasi di sana.

“Orang yang mau beli ke sini banyak yang gak jadi karena melihat ada penyegelan lapak ini,” papar pedagang itu.

Para pembeli, menurutnya, beranggapan bahwa penyegelan tersebut ada kaitannya dengan pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Dengan kesan tersebut beberapa pembeli pun mengurungkan niatnya untuk berbelanja. Padahal penyegelan sama sekali tidak ada kaitannya dengan virus korona.

Ironisnya, tanpa ada anggapan itu saja perputaran ekonomi di pasar tradisional itu sudah seret selama masa pandemi. Transaksi konveksi tak seramai ketika sebelum kasus korona mencuat.

Baca Juga :  Serambi Tani: Beli Yang Organik Jadi Lebih Mudah

Kini justru ditambah dengan dampak psikologis dari penyegelan beberapa lapak dan kios. “Pernah dalam empat sampai tujuh hari hanya terjual satu dagangan saja,” keluh pedagang ini.

Lebih jauh, lanjut dia, para pedagang berharap agar polemik tersebut dapat segera dirampungkan. Mereka ingin ada jalan tengah agar sama-sama ada solusi terbaik bagi kedua belah pihak. Terlebih selama pandemi ini saja pendapatan pedagang sudah kembang-kempis.

Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah (PD) Pasar Joyoboyo Kota Kediri Ikhwan Yusuf belum dapat dimintai konfirmasi terkait masalah ini. Ketika ditelepon melalui telepon seluler (ponsel)-nya, yang bersangkutan belum merespons. Begitu pula pesan singkat yang dikirimkan koran ini, Ikhwan belum sempat menanggapi. (tar/ndr)

 

 

Polemik di Pasar Setonobetek

–       Koordinator pasar menyegel beberapa lapak pedagang konveksi

–       Ada sekitar 10 kios dan los yang disegel

–       Dari sekitar 30 pedagang yang aktif, hanya belasan yang masih rutin berjualan

–       Tindakan penyegelan diduga terkait permasalahan retribusi dan operasional pedagang

–       Pedagang mengklaim penyegelan tanpa ada surat peringatan

- Advertisement -

KOTA, JP Radar Kediri – Beberapa pedagang konveksi di Pasar Setonobetek, Kota Kediri gundah. Pasalnya, lapak mereka berupa los dan kios disegel. Lokasinya diberi batas dengan tanda pita bertuliskan Do Not Enter di sekeliling lapak.

Merasa tak mengetahui alasan tindakan itu, pedagang yang lapaknya disegel mempertanyakan masalahnya. Mereka menuding penyegelan itu dilakukan koordinator pasar setempat.

Namun tak ada pembicaraan sebelumnya. Para pedagang tersebut menyatakan tindakan penyegelan dilakukan secara sepihak. “Penyegelan ini sudah dilakukan sekitar dua minggu lalu,” kata salah satu pedagang konveksi Pasar Setonobetek yang namanya enggan dikorankan.

Kabarnya, penyegelan dilakukan pengelola pasar gara-gara pedagang yang bersangkutan tidak beroperasi lagi. Sehingga mereka pun tak membayar retribusi.

“Kalau kabar yang saya dengar seperti itu,” ujar pria yang telah berjualan di Pasar Setonobetek selama puluhan tahun tersebut.

Lebih lanjut, dia menganggap, tindakan penyegelan lapak beberapa pedagang konveksi itu juga kurang tepat. Sebab, pihak koordinator pasar dituding tidak memberikan surat peringatan terlebih dahulu. Mulai dari surat peringatan pertama hingga akhirnya dilakukan penyegelan tersebut.

“Dari keterangan teman-teman pedagang, tidak ada surat pemberitahuan atau peringatan semacam itu,” ungkap pedagang ini.

Baca Juga :  Stok Sedikit Picu Kenaikan

Tidak adanya surat peringatan secara bertahap itulah yang menjadi salah satu keluhan sejumlah pedagang konveksi di sana. Meskipun, los miliknya sendiri tidak termasuk yang disegel oleh pengelola pasar setempat.

Kendati begitu, penyegelan tersebut dirasakan sesama pedagang konveksi lain membawa dampak psikologis yang kurang baik. Utamanya kepada pengunjung atau calon pembeli di sana.

Otomatis hal ini menyebabkan aktivitas perdagangan di Pasar Setonobetek semakin buruk. Selain itu, juga berimbas kepada pendapatan para pedagang yang masih beroperasi di sana.

“Orang yang mau beli ke sini banyak yang gak jadi karena melihat ada penyegelan lapak ini,” papar pedagang itu.

Para pembeli, menurutnya, beranggapan bahwa penyegelan tersebut ada kaitannya dengan pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Dengan kesan tersebut beberapa pembeli pun mengurungkan niatnya untuk berbelanja. Padahal penyegelan sama sekali tidak ada kaitannya dengan virus korona.

Ironisnya, tanpa ada anggapan itu saja perputaran ekonomi di pasar tradisional itu sudah seret selama masa pandemi. Transaksi konveksi tak seramai ketika sebelum kasus korona mencuat.

Baca Juga :  Hobi di Kala Pandemi yang Ikut Memutar Roda Ekonomi (2)

Kini justru ditambah dengan dampak psikologis dari penyegelan beberapa lapak dan kios. “Pernah dalam empat sampai tujuh hari hanya terjual satu dagangan saja,” keluh pedagang ini.

Lebih jauh, lanjut dia, para pedagang berharap agar polemik tersebut dapat segera dirampungkan. Mereka ingin ada jalan tengah agar sama-sama ada solusi terbaik bagi kedua belah pihak. Terlebih selama pandemi ini saja pendapatan pedagang sudah kembang-kempis.

Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah (PD) Pasar Joyoboyo Kota Kediri Ikhwan Yusuf belum dapat dimintai konfirmasi terkait masalah ini. Ketika ditelepon melalui telepon seluler (ponsel)-nya, yang bersangkutan belum merespons. Begitu pula pesan singkat yang dikirimkan koran ini, Ikhwan belum sempat menanggapi. (tar/ndr)

 

 

Polemik di Pasar Setonobetek

–       Koordinator pasar menyegel beberapa lapak pedagang konveksi

–       Ada sekitar 10 kios dan los yang disegel

–       Dari sekitar 30 pedagang yang aktif, hanya belasan yang masih rutin berjualan

–       Tindakan penyegelan diduga terkait permasalahan retribusi dan operasional pedagang

–       Pedagang mengklaim penyegelan tanpa ada surat peringatan

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/