24.2 C
Kediri
Saturday, July 2, 2022

Stok Minim, Harga Bawang Merah Meroket

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Musim penghujan bukanlah waktu yang ideal untuk menanam bawang merah. Sebab, umbi terancam busuk atau tak berkembang maksimal. Meski demikian, ribuan petani di sentra brambang Nganjuk tetap semangat menanam setelah melihat tren harga yang baik tahun 2020 ini.

Sejak panen raya bawang merah bulan Agustus hingga September lalu, harga produk unggulan Kota Angin ini memang belum sekalipun jeblok. Kemarin,. harga jual di tingkat petani sudah meroket menjadi Rp 25 ribu per kilogram. Sebelumnya, harga jual di petani masih dalam kisaran Rp 18 ribu sampai Rp 20 ribu per kilogram. “Harga di pasar pasti jauh lebih mahal,” ujar Suhanto, 35, petani bawang merah asal Desa Kedungdowo, Kecamatan Nganjuk.

Harga yang tinggi, lanjut Hanto, juga berlaku untuk bawang merah bibit. Ada kenaikan mulai Rp 5 ribu hingga Rp 7 ribu per kilogramnya. Melihat tingginya harga brambang, Hanto menyebut para petani enggan beralih ke tanaman lainnya. Pun musim hujan ini lebih cocok untuk menanam padi seperti anjuran dinas pertanian.

Baca Juga :  Pindah Pasien Isoman

Bagi Hanto, yang ada di benak petani saat ini adalah untuk memanfaatkan lahan sebaik mungkin. Termasuk melihat potensi tren harga panenan. Apalagi, ada banyak petani yang menyewa lahan untuk bercocok tanam. “Kami tidak memikirkan dampak cuaca,” lanjutnya.

Dikatakan Hanto, saat ini harga sewa lahan per ru mencapai Rp 5 juta per tahun. Karenanya, dia berupaya memanfaatkan lahannya untuk terus menanam bawang merah.

Apakah dia tidak takut gagal panen karena menanam brambang di musim hujan? Ditanya demikian, Hanto yang bercocok tanam di lahan dataran tinggi yakin jika curah hujan tidak akan banyak berpengaruh ke tanamannya. Meski, kemarin ada bawang merah yang usianya 25 hari hingga ada yang baru lima hari.

Baca Juga :  Dinkes Larang Masyarakat Pakai Tali Masker

Hanto hanya berharap harga bawang merah bisa stabil seperti minggu ini.

 “Selama ini harga di petani berkisar Rp 9 ribu sampai Rp 13 ribu,” jelas pria yang memiliki tanaman bawang merah seluas 100 ru ini.

Terpisah, Kabid Hortikultura Dispertan Agus Sulistiyo menjelaskan, tingginya harga bawang merah disebabkan karena panen bulan ini dipersiapkan untuk benih. Selama ini harga benih memang selalu tinggi bila dibanding dengan harga bawang konsumsi.

“Luas tanam untuk benih ini mencapai 2 ribu hektare dengan provitas sekitar tujuh sampai 12 ton per hektarenya,” jelas Agus.

Dengan banyaknya tanaman bawang merah untuk benih, stok untuk konsumsi akan berkurang. Dampaknya, harga diprediksi masih akan terus terkerek naik. Di sisi lain, bawang merah untuk bibit ini bisa tahan hingga enam bulan.

- Advertisement -

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Musim penghujan bukanlah waktu yang ideal untuk menanam bawang merah. Sebab, umbi terancam busuk atau tak berkembang maksimal. Meski demikian, ribuan petani di sentra brambang Nganjuk tetap semangat menanam setelah melihat tren harga yang baik tahun 2020 ini.

Sejak panen raya bawang merah bulan Agustus hingga September lalu, harga produk unggulan Kota Angin ini memang belum sekalipun jeblok. Kemarin,. harga jual di tingkat petani sudah meroket menjadi Rp 25 ribu per kilogram. Sebelumnya, harga jual di petani masih dalam kisaran Rp 18 ribu sampai Rp 20 ribu per kilogram. “Harga di pasar pasti jauh lebih mahal,” ujar Suhanto, 35, petani bawang merah asal Desa Kedungdowo, Kecamatan Nganjuk.

Harga yang tinggi, lanjut Hanto, juga berlaku untuk bawang merah bibit. Ada kenaikan mulai Rp 5 ribu hingga Rp 7 ribu per kilogramnya. Melihat tingginya harga brambang, Hanto menyebut para petani enggan beralih ke tanaman lainnya. Pun musim hujan ini lebih cocok untuk menanam padi seperti anjuran dinas pertanian.

Baca Juga :  Daging Ayam Tembus Rp 32 Ribu

Bagi Hanto, yang ada di benak petani saat ini adalah untuk memanfaatkan lahan sebaik mungkin. Termasuk melihat potensi tren harga panenan. Apalagi, ada banyak petani yang menyewa lahan untuk bercocok tanam. “Kami tidak memikirkan dampak cuaca,” lanjutnya.

Dikatakan Hanto, saat ini harga sewa lahan per ru mencapai Rp 5 juta per tahun. Karenanya, dia berupaya memanfaatkan lahannya untuk terus menanam bawang merah.

Apakah dia tidak takut gagal panen karena menanam brambang di musim hujan? Ditanya demikian, Hanto yang bercocok tanam di lahan dataran tinggi yakin jika curah hujan tidak akan banyak berpengaruh ke tanamannya. Meski, kemarin ada bawang merah yang usianya 25 hari hingga ada yang baru lima hari.

Baca Juga :  Gunakan LED, PJU Hemat 50 Persen

Hanto hanya berharap harga bawang merah bisa stabil seperti minggu ini.

 “Selama ini harga di petani berkisar Rp 9 ribu sampai Rp 13 ribu,” jelas pria yang memiliki tanaman bawang merah seluas 100 ru ini.

Terpisah, Kabid Hortikultura Dispertan Agus Sulistiyo menjelaskan, tingginya harga bawang merah disebabkan karena panen bulan ini dipersiapkan untuk benih. Selama ini harga benih memang selalu tinggi bila dibanding dengan harga bawang konsumsi.

“Luas tanam untuk benih ini mencapai 2 ribu hektare dengan provitas sekitar tujuh sampai 12 ton per hektarenya,” jelas Agus.

Dengan banyaknya tanaman bawang merah untuk benih, stok untuk konsumsi akan berkurang. Dampaknya, harga diprediksi masih akan terus terkerek naik. Di sisi lain, bawang merah untuk bibit ini bisa tahan hingga enam bulan.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/