23.3 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Peternak Beberkan Harga Satu Kotak Lanceng Rp 100 Ribu

KABUPATEN, JP Radar Kediri–Berapa keuntungan bisnis budidaya lebah lanceng? Menurut pengalaman peternak konvensional, jumlahnya tak sebesar yang dijanjikan oleh Koperasi Niaga Mandiri Sejahtera Indonesia (NMSI). Hal itu bukan hanya karena waktu budidaya yang lama. Melainkan, madu yang dihasilkan untuk satu kotak stup lanceng hanya setengah gelas.

Seperti diungkapkan oleh Arif Kuntarko. Peternak lebah lanceng asal Desa Adan-Adan Gurah itu mengatakan, madu lanceng tidak bisa didapatkan dalam waktu singkat. Terutama untuk stup atau kotak berisi lanceng yang baru. “Untuk pemula butuh waktu satu tahun agar bisa menghasilkan madu yang banyak di tiap kotak,” kata pria berusia 36 tahun itu.

Arif mengakui, stup lanceng memang bisa dipanen tiap tiga bulan sekali. Tetapi, di awal hasilnya hanya sedikit. Tiga bulan pertama panen, madu yang didapat hanya setengah gelas atau sekitar 125 mililiter.

Karenanya, melihat keuntungan tiap kotak hingga Rp 260 ribu untuk tiga bulan budidaya, pria yang menjadi peternak lebah lanceng selama tiga tahun terakhir itu sudah mencium ada hal yang mencurigakan. “Itu tidak logis,” tegasnya sembari menyebut setengah gelas madu lanceng hanya laku dijual sekitar Rp 65 ribu.

Baca Juga :  Cita Rasa Kelezatan Cokelat dari Fudgy Brownies

Pria yang akrab disapa Arif ini tidak hanya menyoroti hasil madu di tiap stup. Dia juga menyebut harga stup yang ditawarkan Koperasi NMSI sangat mahal. Di tempatnya, satu stup berukuran menengah hanya dijual Rp 100 ribu. Sedangkan di NMSI dijual Rp 500 ribu.

Kejanggalan lain menurut Arif adalah cara meletakkan koloni lebah di dalam stup tempat budi daya. “Satu ruas bambu ini terdiri dari kantong madu, telur, dan polen. Dari kumpulan telur ini ada yang nantinya menjadi calon ratu lebah,” beber Arif sambil menunjukkan isi kotak lanceng miliknya.

Menurut pengamatan Arif pada kotak stup anggota NMSI yang sempat dibuka, satu ruas bambu yang berisi kantong madu, telur, dan polen itu dibagi menjadi tiga. Akibatnya, ada kotak lanceng yang berisi lebah biasa tanpa ratu lebah. “Padahal untuk bisa menghasilkan madu itu diperlukan ratu lebah (di stup, Red),” paparnya sembari menyebut lebah tanpa ratu hanya bertahan selama tiga bulan saja.

Dikatakan Arif, sebelum investasi madu lanceng di NMSI dilaporkan ke Polres Kediri Kota Februari tahun lalu, ada beberapa anggota koperasi yang mendatanginya. Mereka ingin melihat langsung isi kotak lanceng.

Baca Juga :  Disperdagin Siapkan Pasar Murah di Setonobetek Jelang Nataru

Larangan membuka segel bagi pemilik stup dari NMSI membuat anggota benar-benar tidak berani mengecek kondisi koloni mereka. Tak hanya mengecek isi kotak, teman Arif juga menanyakan harga stup di tempatnya yang jauh lebih murah. “Kalau kami peternak lanceng jelas tidak mau bergabung dengan NMSI,” paparnya tak terpikat keuntungan yang ditawarkan.

Sebelumnya, Arif dan istrinya juga pernah mengecek salah satu gudang penyimpan kotak lebah milik NMSI. Di sana dia melihat kotak-kotak lebah yang hanya ditumpuk. Menurut Arif, tanaman bunga yang ada di sekitarnya tidak cukup untuk makan lebah. Sebab, jumlah kotaknya sangat banyak.

Seperti diberitakan, kasus investasi lebah lanceng mengemuka setelah pengurus koperasi melaporkan Ketua Koperasi NMSI Anton. Petinggi koperasi itu dilaporkan atas dua kasus. Yakni, pencurian dan pemberatan atas rusaknya brankas di NMSI. Selain itu, dia juga dilaporkan membawa lari uang koperasi yang berujung gagal panen sekitar 8 ribu mitra pada awal 2021 lalu. Akibat kejadian tersebut, ribuan mitra mengklaim merugi hingga Rp 1 triliun.






Reporter: Habibaham Anisa Muktiara
- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri–Berapa keuntungan bisnis budidaya lebah lanceng? Menurut pengalaman peternak konvensional, jumlahnya tak sebesar yang dijanjikan oleh Koperasi Niaga Mandiri Sejahtera Indonesia (NMSI). Hal itu bukan hanya karena waktu budidaya yang lama. Melainkan, madu yang dihasilkan untuk satu kotak stup lanceng hanya setengah gelas.

Seperti diungkapkan oleh Arif Kuntarko. Peternak lebah lanceng asal Desa Adan-Adan Gurah itu mengatakan, madu lanceng tidak bisa didapatkan dalam waktu singkat. Terutama untuk stup atau kotak berisi lanceng yang baru. “Untuk pemula butuh waktu satu tahun agar bisa menghasilkan madu yang banyak di tiap kotak,” kata pria berusia 36 tahun itu.

Arif mengakui, stup lanceng memang bisa dipanen tiap tiga bulan sekali. Tetapi, di awal hasilnya hanya sedikit. Tiga bulan pertama panen, madu yang didapat hanya setengah gelas atau sekitar 125 mililiter.

Karenanya, melihat keuntungan tiap kotak hingga Rp 260 ribu untuk tiga bulan budidaya, pria yang menjadi peternak lebah lanceng selama tiga tahun terakhir itu sudah mencium ada hal yang mencurigakan. “Itu tidak logis,” tegasnya sembari menyebut setengah gelas madu lanceng hanya laku dijual sekitar Rp 65 ribu.

Baca Juga :  Harga Daging Ayam Tembus Rp 36 Ribu

Pria yang akrab disapa Arif ini tidak hanya menyoroti hasil madu di tiap stup. Dia juga menyebut harga stup yang ditawarkan Koperasi NMSI sangat mahal. Di tempatnya, satu stup berukuran menengah hanya dijual Rp 100 ribu. Sedangkan di NMSI dijual Rp 500 ribu.

Kejanggalan lain menurut Arif adalah cara meletakkan koloni lebah di dalam stup tempat budi daya. “Satu ruas bambu ini terdiri dari kantong madu, telur, dan polen. Dari kumpulan telur ini ada yang nantinya menjadi calon ratu lebah,” beber Arif sambil menunjukkan isi kotak lanceng miliknya.

Menurut pengamatan Arif pada kotak stup anggota NMSI yang sempat dibuka, satu ruas bambu yang berisi kantong madu, telur, dan polen itu dibagi menjadi tiga. Akibatnya, ada kotak lanceng yang berisi lebah biasa tanpa ratu lebah. “Padahal untuk bisa menghasilkan madu itu diperlukan ratu lebah (di stup, Red),” paparnya sembari menyebut lebah tanpa ratu hanya bertahan selama tiga bulan saja.

Dikatakan Arif, sebelum investasi madu lanceng di NMSI dilaporkan ke Polres Kediri Kota Februari tahun lalu, ada beberapa anggota koperasi yang mendatanginya. Mereka ingin melihat langsung isi kotak lanceng.

Baca Juga :  PUPR Segera Perbaiki Plengsengan Ambrol

Larangan membuka segel bagi pemilik stup dari NMSI membuat anggota benar-benar tidak berani mengecek kondisi koloni mereka. Tak hanya mengecek isi kotak, teman Arif juga menanyakan harga stup di tempatnya yang jauh lebih murah. “Kalau kami peternak lanceng jelas tidak mau bergabung dengan NMSI,” paparnya tak terpikat keuntungan yang ditawarkan.

Sebelumnya, Arif dan istrinya juga pernah mengecek salah satu gudang penyimpan kotak lebah milik NMSI. Di sana dia melihat kotak-kotak lebah yang hanya ditumpuk. Menurut Arif, tanaman bunga yang ada di sekitarnya tidak cukup untuk makan lebah. Sebab, jumlah kotaknya sangat banyak.

Seperti diberitakan, kasus investasi lebah lanceng mengemuka setelah pengurus koperasi melaporkan Ketua Koperasi NMSI Anton. Petinggi koperasi itu dilaporkan atas dua kasus. Yakni, pencurian dan pemberatan atas rusaknya brankas di NMSI. Selain itu, dia juga dilaporkan membawa lari uang koperasi yang berujung gagal panen sekitar 8 ribu mitra pada awal 2021 lalu. Akibat kejadian tersebut, ribuan mitra mengklaim merugi hingga Rp 1 triliun.






Reporter: Habibaham Anisa Muktiara

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/