27.1 C
Kediri
Thursday, August 11, 2022

Melongok Denyut Bisnis Pakaian Bekas di Kediri

Dulu, para pedagang pakaian bekas ini bisa meraup pendapatan hingga Rp 2 juta per hari. Kini, mendapatkan Rp 1 juta per bulan saja sudah ngos-ngosan.

Yuni Hartanti aktif menawarkan dagangan ke orang-orang yang melintas di depan tokonya. Beberapa pakaian yang berwarna menarik dia sodorkan. Mengiming-iming orang agar membeli.

“Celananya lagi diobral murah. Dibeli, dibeli,” rayunya pada seseorang yang melintas, semberi memegangi baju yang dijual. 

Yuni adalah pemilik kios pakaian di Pasar Gringging. Tempat yang selama ini menjadi surga bagi penyuka pakaian-pakaian bekas. Namun, barang dagangan Yuni tak semuanya adalah pakaian  bekas. Sebagian lagi adalah jenis pakaian baru keluaran pabrik. Di antara yang baru itu seperti daster, pakaian batik, celana bahan, kaos oblong, hingga kemeja.

“Kalau baju bekas saya ambil dari distributor di Batam, yang impor dari luar negeri,” akunya kemarin (6/1).

Yuni  menggeluti usaha berjualan pakaian ini sejak 1999. meneruskan usaha ibunya yang dulu juga berdagang di pasar ini. Pakaian yang dijualnya harganya beragam. Yang bekas diobralnya mulai Rp 10 ribu hingga Rp 50 ribu. Sementara pakaian baru ada yang Rp 35 ribu sampai Rp 100 ribu per potong.

Ketika pandemi korona datang, penjualan Yuni ikut terpengaruh. Bahkan, mereka tak hanya dihantui dengan penurunan omzet tapi juga ancaman kesehatan. 

Baca Juga :  Langkah Diambil, Ayo Berlari…!

“Pandemi korona ini mempengaruhi. Uang tabungan terkuras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sementara jualan dibatasi hanya sampai sore hari. Pendapatan sangat minus,” keluhnya. 

Selama ini, aktivitas Pasar Gringging  hanya sampai sore hari. Pembeli yang datang hanya berkisar 1 sampai 3 orang saja. “Bahkan pernah juga sehari tidak ada sama sekali,” akunya.

Untungnya, saat ini mulai ada perkembangan bagus. Pemerintah mulai memperlonggar aturan buka hingga pukul 20.00. Perlahan kios Yuni mulai ramai lagi. “Meski masih terbatas tapi sudah sangat lumayan, pembeli mulai ramai. Pakaian berupa sweater, celana jeans hingga celana training untuk berolahraga mulai jadi incaran pembeli meski harga yang dibanderol masih terbilang harga normal yakni kisaran Rp10 ribu  sampai Rp 50 ribu,” ungkap ibu dua anak itu.

Selama pandemi ini Yuni menggunakan beragam cara. Termasuk memanfaatkan media sosial. Termasuk live streaming di Facebook. Meskipun, hal itu tak bisa menahan laju penurunan penjualan yang turun hingga 70 persen ini. 

“Sebelum korona sehari bisa dapat Rp 2 juta lebih. Nah sekarang, untung-untung kalau sebulan dapat Rp 1 juta,” akunya.

Sepinya bisnis pakaian bekas juga diakui oleh Eko Wiyono, seorang karyawan toko pakaian bekas (pakas) di lokasi yang sama. Di awal tahun ini tokonya hanya berusaha menghabiskan stok lama. 

Baca Juga :  Dua KA Jarak Jauh Mulai Beroperasi di Stasiun Kediri

Menurut Eko, hingga kemarin juga tidak ada kiriman stok baru dari pakaian bekas itu. Barang baru yang datang terakhir adalah Desember tahun  lalu. “Stok sekarang masih,” akunya. 

Tidak tanggung-tanggung, jumlah stok pakas di lapaknya mencapai ribuan. Ada sekitar delapan sampai sembilan ball. Biasanya, pemilik masih belum tahu jenis dan jumlahnya sebelum barang-barang itu dibuka.

Menurut pria 44 tahun ini, pakaian bekas di lapaknya juga dikirim ke luar kota.Yaitu Surabaya dan Bandung. Oderenya secara online. Pemesanan dan pengiriman disesuaikan dengan kebutuhan di lapak Pasar Gringing itu. 

Dalam sekali pengiriman, pria berkaos putih itu menerima sebanyak  satu sampai tiga ball pakas. Tiap ball pakas itu, telah sesuai dengan jenis pakaian. Untuk 1 ball celana berisi 170 potong, 1 ball kemeja berisi 400 potong, dan 1 bal daster/kaos berisi 300 potong. 

Sebelum menjualnya, para pedagang harus melakukan perawatan terlebih dulu. Pakas itu mereka bawa dulu ke jasa laundry. Pakaian-pakaian itu diseterika terlebih dulu agar layak jual. 

Selain itu juga ada perawatan khusus, terutama selama pandemi Covid-19. Yaitu menyemprotkan cairan desinfektan. Penyemprotan dilakukan seminggu sekali. “Kalau sehari-hari dibersihkan dengan kemoceng,” ungkap karyawan itu sembari melayani pembeli. (c3/c2/fud)

- Advertisement -

Dulu, para pedagang pakaian bekas ini bisa meraup pendapatan hingga Rp 2 juta per hari. Kini, mendapatkan Rp 1 juta per bulan saja sudah ngos-ngosan.

Yuni Hartanti aktif menawarkan dagangan ke orang-orang yang melintas di depan tokonya. Beberapa pakaian yang berwarna menarik dia sodorkan. Mengiming-iming orang agar membeli.

“Celananya lagi diobral murah. Dibeli, dibeli,” rayunya pada seseorang yang melintas, semberi memegangi baju yang dijual. 

Yuni adalah pemilik kios pakaian di Pasar Gringging. Tempat yang selama ini menjadi surga bagi penyuka pakaian-pakaian bekas. Namun, barang dagangan Yuni tak semuanya adalah pakaian  bekas. Sebagian lagi adalah jenis pakaian baru keluaran pabrik. Di antara yang baru itu seperti daster, pakaian batik, celana bahan, kaos oblong, hingga kemeja.

“Kalau baju bekas saya ambil dari distributor di Batam, yang impor dari luar negeri,” akunya kemarin (6/1).

Yuni  menggeluti usaha berjualan pakaian ini sejak 1999. meneruskan usaha ibunya yang dulu juga berdagang di pasar ini. Pakaian yang dijualnya harganya beragam. Yang bekas diobralnya mulai Rp 10 ribu hingga Rp 50 ribu. Sementara pakaian baru ada yang Rp 35 ribu sampai Rp 100 ribu per potong.

Ketika pandemi korona datang, penjualan Yuni ikut terpengaruh. Bahkan, mereka tak hanya dihantui dengan penurunan omzet tapi juga ancaman kesehatan. 

Baca Juga :  Harga Gabah Kering Turun, Petani Nganjuk Waswas

“Pandemi korona ini mempengaruhi. Uang tabungan terkuras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sementara jualan dibatasi hanya sampai sore hari. Pendapatan sangat minus,” keluhnya. 

Selama ini, aktivitas Pasar Gringging  hanya sampai sore hari. Pembeli yang datang hanya berkisar 1 sampai 3 orang saja. “Bahkan pernah juga sehari tidak ada sama sekali,” akunya.

Untungnya, saat ini mulai ada perkembangan bagus. Pemerintah mulai memperlonggar aturan buka hingga pukul 20.00. Perlahan kios Yuni mulai ramai lagi. “Meski masih terbatas tapi sudah sangat lumayan, pembeli mulai ramai. Pakaian berupa sweater, celana jeans hingga celana training untuk berolahraga mulai jadi incaran pembeli meski harga yang dibanderol masih terbilang harga normal yakni kisaran Rp10 ribu  sampai Rp 50 ribu,” ungkap ibu dua anak itu.

Selama pandemi ini Yuni menggunakan beragam cara. Termasuk memanfaatkan media sosial. Termasuk live streaming di Facebook. Meskipun, hal itu tak bisa menahan laju penurunan penjualan yang turun hingga 70 persen ini. 

“Sebelum korona sehari bisa dapat Rp 2 juta lebih. Nah sekarang, untung-untung kalau sebulan dapat Rp 1 juta,” akunya.

Sepinya bisnis pakaian bekas juga diakui oleh Eko Wiyono, seorang karyawan toko pakaian bekas (pakas) di lokasi yang sama. Di awal tahun ini tokonya hanya berusaha menghabiskan stok lama. 

Baca Juga :  Bawang Putih Tembus Rp 20 Ribu Per Kg

Menurut Eko, hingga kemarin juga tidak ada kiriman stok baru dari pakaian bekas itu. Barang baru yang datang terakhir adalah Desember tahun  lalu. “Stok sekarang masih,” akunya. 

Tidak tanggung-tanggung, jumlah stok pakas di lapaknya mencapai ribuan. Ada sekitar delapan sampai sembilan ball. Biasanya, pemilik masih belum tahu jenis dan jumlahnya sebelum barang-barang itu dibuka.

Menurut pria 44 tahun ini, pakaian bekas di lapaknya juga dikirim ke luar kota.Yaitu Surabaya dan Bandung. Oderenya secara online. Pemesanan dan pengiriman disesuaikan dengan kebutuhan di lapak Pasar Gringing itu. 

Dalam sekali pengiriman, pria berkaos putih itu menerima sebanyak  satu sampai tiga ball pakas. Tiap ball pakas itu, telah sesuai dengan jenis pakaian. Untuk 1 ball celana berisi 170 potong, 1 ball kemeja berisi 400 potong, dan 1 bal daster/kaos berisi 300 potong. 

Sebelum menjualnya, para pedagang harus melakukan perawatan terlebih dulu. Pakas itu mereka bawa dulu ke jasa laundry. Pakaian-pakaian itu diseterika terlebih dulu agar layak jual. 

Selain itu juga ada perawatan khusus, terutama selama pandemi Covid-19. Yaitu menyemprotkan cairan desinfektan. Penyemprotan dilakukan seminggu sekali. “Kalau sehari-hari dibersihkan dengan kemoceng,” ungkap karyawan itu sembari melayani pembeli. (c3/c2/fud)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/