23.5 C
Kediri
Saturday, July 2, 2022

Ratusan Warga Rela Antre 4 Jam untuk Beli Minyak Murah

KABUPATEN, JP Radar Kediri–Mahalnya harga kebutuhan pokok selama sebulan terakhir, tak hanya menyulitkan pembeli. Pedagang di pasar tradisional juga mengaku kesulitan karena tak bisa kulakan barang. Tak heran, pasar murah yang digelar untuk mereka pun langsung diburu.

          Sunarti, 51, pedagang kelontong di Pasar Pahing mengeluhkan kondisi mahalnya harga sembako seperti sekarang. “Baru sekarang ini pedagang dan pembeli sama-sama sulit,” keluhnya.

          Perempuan yang berjualan sejak 1982 lalu itu menyebut sebelumnya dia bisa dengan mudah kulakan meski harganya sedang naik. Kondisi sekarang justru sebaliknya. Selain harga yang mahal, barang juga menghilang di pasaran.

          Bahkan, untuk sekadar kulakan saja dia dipersulit. Selain harus membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP), dia juga diwajibkan membawa Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

          Dia lantas membandingkan dengan kondisi beberapa tahun silam. Saat itu, meski harga mahal, barang tetap tersedia di pasar. Adapun sekarang, barang menghilang saat terjadi kenaikan harga. “Saya ingin harga kembali stabil agar kios ramai,” bebernya berharap kembali ada kucuran minyak curah murah untuk para pedagang.

          Untuk diketahui, merespons harga sembako yang melonjak mahal, Pemkab Kediri dan Pemkot Kediri sama-sama menggelar operasi pasar (OP). Seperti kemarin, Pemkab Kediri menggelar OP di Gerai Inkubasi Desa/Kecamatan Papar.

Baca Juga :  Hari Pelanggan Nasional: Praktik Penimbunan Picu Kelangkaan

Pantauan koran ini kemarin pagi, ratusan orang terlihat memadati lokasi sejak sekitar pukul 07.30 untuk membeli sembako. Termasuk minyak goreng curah murah yang dijual di sana. “Ngantre ini, biar bisa dapat minyak goreng,” aku Sudarsih, 45, warga Desa Pehwetan, Papar, tak mempermasalahkan OP baru dibuka pukul 10.00.

          Membawa dua jeriken kapasitas 10 liter, dia mengaku sengaja datang lebih pagi. Pasalnya, dia khawatir tak kebagian jika datang di waktu yang mepet. Padahal, minyak curah yang dijual kemarin lebih murah Rp 8.000 dibanding harga pasar.

          Demi mendapat harga murah, dia terlihat sabar menunggu meski hingga pukul 12.00 atau setelah empat jam menunggu, belum dapat giliran mengisi jeriken. Senada dengan Sudarsih, Andrianto, 55, warga Desa Minggiran, Papar juga rela menunggu berjam-jam. Pria yang kemarin memakai kaus kuning itu mengaku ikut antre untuk membeli sembako yang dijual di sana. “Untuk dipakai sendiri,” tutur Andri yang kemarin juga membeli telur, beras, dan gula. Dengan perbedaan harga Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per kilo, dia mengaku bisa menyisihkan uang untuk kebutuhan lainnya.

          Ketua TP PKK Kabupaten Kediri Eriani Annisa yang kemarin memantau pasar murah mengatakan, pasar murah sengaja digelar karena harga sembako di pasaran masih sangat mahal. “Ini (pasar murah, Red) sekaligus membantu masyarakat yang juga kesulitan mendapatkan sembako,” kata istri Bupati Hanindhito Himawan Pramana itu sembari mengatakan pemkab juga akan memberi sembako untuk lansia dan warga kurang mampu.

Baca Juga :  Razia Kos, Pasangan Bukan Suami-Istri Terjaring

          Kabag Ekonomi Pemkab Kediri Dyah Saktiana menambahkan, pasar murah akan terus dilakukan hingga dua hari ke depan. Keliling ke sejumlah kecamatan di Kabupaten Kediri. “Rabu ke Kalipang, Grogol,” jelas perempuan yang akrab disapa Nana itu sembari menyebut total ada lima titik sasaran pasar murah.

          Seperti halnya di Kabupaten Kediri, Pemkot Kediri juga menggelar pasar murah. Kepala Disperdagin Kota Kediri Tanto Wijohari menjelaskan, total ada 15 titik pelaksanaan pasar murah. Di tiap titik mereka akan menjual beras premium, minyak goreng kemasan, gula pasir, dan telur. Semuanya di bawah harga pasaran.

          “Hari ini (kemarin, Red) pasar murah digelar di tiga titik kelurahan,” kata Tanto sembari menyebut OP digelar di Kelurahan Ngampel, Mojoroto; Kelurahan Rejomulyo, Kota Kediri; dan Kelurahan Ketami, Pesantren.

          Di tiap lokasi, barang yang disediakan berbeda-beda. Misalnya, gula pasir disiapkan 150 sak, gula pasir 400 kilogram, minyak goreng 300 liter, dan telur ayam 150 kilogram. (rq/syi/ut)

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri–Mahalnya harga kebutuhan pokok selama sebulan terakhir, tak hanya menyulitkan pembeli. Pedagang di pasar tradisional juga mengaku kesulitan karena tak bisa kulakan barang. Tak heran, pasar murah yang digelar untuk mereka pun langsung diburu.

          Sunarti, 51, pedagang kelontong di Pasar Pahing mengeluhkan kondisi mahalnya harga sembako seperti sekarang. “Baru sekarang ini pedagang dan pembeli sama-sama sulit,” keluhnya.

          Perempuan yang berjualan sejak 1982 lalu itu menyebut sebelumnya dia bisa dengan mudah kulakan meski harganya sedang naik. Kondisi sekarang justru sebaliknya. Selain harga yang mahal, barang juga menghilang di pasaran.

          Bahkan, untuk sekadar kulakan saja dia dipersulit. Selain harus membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP), dia juga diwajibkan membawa Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

          Dia lantas membandingkan dengan kondisi beberapa tahun silam. Saat itu, meski harga mahal, barang tetap tersedia di pasar. Adapun sekarang, barang menghilang saat terjadi kenaikan harga. “Saya ingin harga kembali stabil agar kios ramai,” bebernya berharap kembali ada kucuran minyak curah murah untuk para pedagang.

          Untuk diketahui, merespons harga sembako yang melonjak mahal, Pemkab Kediri dan Pemkot Kediri sama-sama menggelar operasi pasar (OP). Seperti kemarin, Pemkab Kediri menggelar OP di Gerai Inkubasi Desa/Kecamatan Papar.

Baca Juga :  Pengedar Dobel L Asal Gurah Dituntut 18 Bulan

Pantauan koran ini kemarin pagi, ratusan orang terlihat memadati lokasi sejak sekitar pukul 07.30 untuk membeli sembako. Termasuk minyak goreng curah murah yang dijual di sana. “Ngantre ini, biar bisa dapat minyak goreng,” aku Sudarsih, 45, warga Desa Pehwetan, Papar, tak mempermasalahkan OP baru dibuka pukul 10.00.

          Membawa dua jeriken kapasitas 10 liter, dia mengaku sengaja datang lebih pagi. Pasalnya, dia khawatir tak kebagian jika datang di waktu yang mepet. Padahal, minyak curah yang dijual kemarin lebih murah Rp 8.000 dibanding harga pasar.

          Demi mendapat harga murah, dia terlihat sabar menunggu meski hingga pukul 12.00 atau setelah empat jam menunggu, belum dapat giliran mengisi jeriken. Senada dengan Sudarsih, Andrianto, 55, warga Desa Minggiran, Papar juga rela menunggu berjam-jam. Pria yang kemarin memakai kaus kuning itu mengaku ikut antre untuk membeli sembako yang dijual di sana. “Untuk dipakai sendiri,” tutur Andri yang kemarin juga membeli telur, beras, dan gula. Dengan perbedaan harga Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per kilo, dia mengaku bisa menyisihkan uang untuk kebutuhan lainnya.

          Ketua TP PKK Kabupaten Kediri Eriani Annisa yang kemarin memantau pasar murah mengatakan, pasar murah sengaja digelar karena harga sembako di pasaran masih sangat mahal. “Ini (pasar murah, Red) sekaligus membantu masyarakat yang juga kesulitan mendapatkan sembako,” kata istri Bupati Hanindhito Himawan Pramana itu sembari mengatakan pemkab juga akan memberi sembako untuk lansia dan warga kurang mampu.

Baca Juga :  Pertengahan Desember, Cuaca Ekstrem Tetap Mengancam

          Kabag Ekonomi Pemkab Kediri Dyah Saktiana menambahkan, pasar murah akan terus dilakukan hingga dua hari ke depan. Keliling ke sejumlah kecamatan di Kabupaten Kediri. “Rabu ke Kalipang, Grogol,” jelas perempuan yang akrab disapa Nana itu sembari menyebut total ada lima titik sasaran pasar murah.

          Seperti halnya di Kabupaten Kediri, Pemkot Kediri juga menggelar pasar murah. Kepala Disperdagin Kota Kediri Tanto Wijohari menjelaskan, total ada 15 titik pelaksanaan pasar murah. Di tiap titik mereka akan menjual beras premium, minyak goreng kemasan, gula pasir, dan telur. Semuanya di bawah harga pasaran.

          “Hari ini (kemarin, Red) pasar murah digelar di tiga titik kelurahan,” kata Tanto sembari menyebut OP digelar di Kelurahan Ngampel, Mojoroto; Kelurahan Rejomulyo, Kota Kediri; dan Kelurahan Ketami, Pesantren.

          Di tiap lokasi, barang yang disediakan berbeda-beda. Misalnya, gula pasir disiapkan 150 sak, gula pasir 400 kilogram, minyak goreng 300 liter, dan telur ayam 150 kilogram. (rq/syi/ut)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/