22.3 C
Kediri
Tuesday, June 28, 2022

Rp 7,9 M untuk Pulihkan Ekonomi

KOTA, JP Radar Kediri – Pemkot Kediri terus menggenjot upaya pemulihan ekonomi yang terseok-seok akibat pandemi. Salah satunya adalah mempermudah pinjaman bagi pemilik usaha mikro dan koperasi.

Dana yang disiapkan untuk program itu juga besar. Pemkot menyiapkan anggaran mencapai Rp 7,9 miliar. Pelaku usaha mikro dan koperasi yang menginginkan pinjam hanya dikenakan bunga 2 persen. Mereka bisa meminjam melalui Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Kota.   

“Ini upaya Pemkot Kediri memulihkan ekonomi. Utamanya lewat pelaku usaha mikro,” jelas Sekretaris Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPKAD) Zachrie Ahmad. Dia berharap bantuan tersebut bisa membantu permodalan bagi pelaku usaha mikro yang saat ini terdampak wabah korona.

Agar tepat sasaran, pemkot mensyaratkan beberapa hal bagi yang ingin memanfaatkan dana tersebut. Seperti peminjam adalah warga asli Kota Kediri yang sudah menjalani usaha mikro dan yang akan memulai usaha. Khusus untuk pemula, syaratnya adalah orang yang baru saja kena pemutusan hubungan kerja (PHK). Untuk mengantisipasi bantuan ini tidak disalahgunakan akan tetap ada survei yang dilakukan secara berkala oleh petugas dari BPR.

Baca Juga :  Pulang, Pemkot Kediri Wajibkan PMI Harus Karantina Tujuh Hari

Dari anggaran yang hampir menyentuh angka Rp 8 miliar itu, Zachrie tidak menjelaskan kuota pelaku usaha yang akan ditargetkan. Siapapun warga di Kota Kediri yang membuka usaha mikro dan akan membuka usaha diberi kesempatan untuk meminjam.

Bantuan maksimal yang bisa dipinjam pelaku usaha mikro sebanyak Rp 25 juta. Pinjaman itu bisa dibayar selama tiga tahun dengan bunga dua persen.

Masih menurut Zachrie, bunga yang diberikan untuk pelaku usaha mikro ini sudah turun bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Awalnya, bunga ditetapkan sebesar enam persen. Lalu turun menjadi empat persen. Sekarang, sebesar dua persen.

“Bisa jadi bunga ini terendah di Jawa Timur. Beberapa daerah lain saya cek tiga persen,” ucapnya.

Kenapa bisa rendah? Zachrie menyebut, langkah itu diambil karena pemkot tidak ingin pelaku usaha mikro dan pemula yang kena PHK terjebak pinjaman rentenir ataupun koperasi ilegal. Apalagi ini merupakan kesempatan yang diberikan pemkot untuk memulihkan kembali ekonomi warga.

Baca Juga :  Hanya Hak Pakai, Bukan Hak Milik

Selain diperuntukan bagi pelaku usaha mikro dan pemula yang baru di-PHK, pria yang juga menjabat sebagai Kepala Bagian (Kabag) Adminitrasi Ekonomi ini mengatakan pinjaman diperuntukan pula bagi koperasi. Nilai maksimal untuk koperasi sebesar Rp 100 juta.

Dia sebutkan syaratnya adalah warga asli Kota Kediri disertakan dengan kartu identitas lainnya dan keterangan usaha. Paling penting adalah ada jaminan seperti buku pemilikan kendaraan bermotor (BPKB).

Banyaknya persyaratan pinjaman itu membuat ada pelaku usaha mikro mundur sebelum mengajukan. Seperti yang diungkapkan Saiful, 42, pedagang kopi di Jalan Sudanco Supriyadi Kecamatan Mojoroto. Menurut lelaki yang berjualan di dekat Taman Sekartaji ini, dia sudah tidak punya bekal untuk mendapatkan pinjaman. Apalagi dia tak punya BPKB.

Sebab, untuk untuk menambah modal jualannya,  lelaki asal Kelurahan Sukorame ini sudah menjual motornya. Dia pesimistis bisa mendapatkan bantuan modal dengan bunga yang ringan seperti itu.(rq/fud)

- Advertisement -

KOTA, JP Radar Kediri – Pemkot Kediri terus menggenjot upaya pemulihan ekonomi yang terseok-seok akibat pandemi. Salah satunya adalah mempermudah pinjaman bagi pemilik usaha mikro dan koperasi.

Dana yang disiapkan untuk program itu juga besar. Pemkot menyiapkan anggaran mencapai Rp 7,9 miliar. Pelaku usaha mikro dan koperasi yang menginginkan pinjam hanya dikenakan bunga 2 persen. Mereka bisa meminjam melalui Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Kota.   

“Ini upaya Pemkot Kediri memulihkan ekonomi. Utamanya lewat pelaku usaha mikro,” jelas Sekretaris Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPKAD) Zachrie Ahmad. Dia berharap bantuan tersebut bisa membantu permodalan bagi pelaku usaha mikro yang saat ini terdampak wabah korona.

Agar tepat sasaran, pemkot mensyaratkan beberapa hal bagi yang ingin memanfaatkan dana tersebut. Seperti peminjam adalah warga asli Kota Kediri yang sudah menjalani usaha mikro dan yang akan memulai usaha. Khusus untuk pemula, syaratnya adalah orang yang baru saja kena pemutusan hubungan kerja (PHK). Untuk mengantisipasi bantuan ini tidak disalahgunakan akan tetap ada survei yang dilakukan secara berkala oleh petugas dari BPR.

Baca Juga :  Jalur Wisatawan Lancar Lagi

Dari anggaran yang hampir menyentuh angka Rp 8 miliar itu, Zachrie tidak menjelaskan kuota pelaku usaha yang akan ditargetkan. Siapapun warga di Kota Kediri yang membuka usaha mikro dan akan membuka usaha diberi kesempatan untuk meminjam.

Bantuan maksimal yang bisa dipinjam pelaku usaha mikro sebanyak Rp 25 juta. Pinjaman itu bisa dibayar selama tiga tahun dengan bunga dua persen.

Masih menurut Zachrie, bunga yang diberikan untuk pelaku usaha mikro ini sudah turun bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Awalnya, bunga ditetapkan sebesar enam persen. Lalu turun menjadi empat persen. Sekarang, sebesar dua persen.

“Bisa jadi bunga ini terendah di Jawa Timur. Beberapa daerah lain saya cek tiga persen,” ucapnya.

Kenapa bisa rendah? Zachrie menyebut, langkah itu diambil karena pemkot tidak ingin pelaku usaha mikro dan pemula yang kena PHK terjebak pinjaman rentenir ataupun koperasi ilegal. Apalagi ini merupakan kesempatan yang diberikan pemkot untuk memulihkan kembali ekonomi warga.

Baca Juga :  Gara-Gara Korona, Kebangkrutan Hantui Peternak Puyuh di Kediri

Selain diperuntukan bagi pelaku usaha mikro dan pemula yang baru di-PHK, pria yang juga menjabat sebagai Kepala Bagian (Kabag) Adminitrasi Ekonomi ini mengatakan pinjaman diperuntukan pula bagi koperasi. Nilai maksimal untuk koperasi sebesar Rp 100 juta.

Dia sebutkan syaratnya adalah warga asli Kota Kediri disertakan dengan kartu identitas lainnya dan keterangan usaha. Paling penting adalah ada jaminan seperti buku pemilikan kendaraan bermotor (BPKB).

Banyaknya persyaratan pinjaman itu membuat ada pelaku usaha mikro mundur sebelum mengajukan. Seperti yang diungkapkan Saiful, 42, pedagang kopi di Jalan Sudanco Supriyadi Kecamatan Mojoroto. Menurut lelaki yang berjualan di dekat Taman Sekartaji ini, dia sudah tidak punya bekal untuk mendapatkan pinjaman. Apalagi dia tak punya BPKB.

Sebab, untuk untuk menambah modal jualannya,  lelaki asal Kelurahan Sukorame ini sudah menjual motornya. Dia pesimistis bisa mendapatkan bantuan modal dengan bunga yang ringan seperti itu.(rq/fud)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/