26.7 C
Kediri
Monday, July 4, 2022

20 Toko Jalan Dhoho Gulung Tikar, Begini Tanggapan Pemkot Kediri

TUTUP: Seorang juru parkir Jalan Dhoho mengatur kendaraan di depan toko yang tutup permanen kemarin. 

20 Toko Jalan Dhoho Gulung Tikar, Begini Kata Pemkot Kediri

KOTA, JP Radar Kediri – Pandemi Covid-19 benar-benar memengaruhi kondisi pusat perbelanjaan Jalan Dhoho. Dari toko-toko yang saat ini belum beroperasi, 20 di antaranya sudah tutup selamanya alias gulung tikar. Pendapatan toko itu tak mampu menutup biaya operasional yang dikeluarkan. 

“Sekitar 30 persen pemilik usaha di sini itu kan menyewa. Sehingga selama pandemi ini pendapatan mereka tidak bisa menutupi biaya pengeluaran,” terang Ketua Paguyupan Pertokoan Jalan Dhoho Suhendro. 

Toko-toko yang tutup permanen itu dari berbagai macam usaha. Ada yang toko tekstil, fashion, serta toko yang menjajakan sandal-sepatu. Tempat-tempat usaha itu terdampak penerapan PPKM yang hingga kini masih berlangsung. 

Menurut Suhendro, pembatasan yang berlaku sekarang membuat dunia usaha lesu. Segala gerak yang dibatasi membuat pedagang tidak bisa berjualan lagi. 

“Contoh yang paling nyata dan langsung terlihat yaitu semakin sedikitnya masyarakat yang pergi ke pusat perbelanjaan. Oleh karena itu meskipun kami berada di sentra pertokoan, imbasnya juga masih kami rasakan,” terang laki-laki 67 tahun tersebut.

Apalagi, sebelum pemberlakuan PPKM, sejak awal pandemi pemerintah sudah menganjurkan untuk mengurangi kegiatan di luar rumah. Sehingga banyak masyarakat yang beralih ke pembelian online. Sedangkan bagi pengusaha di Jalan Dhoho, tidak semua toko bisa melakukan penjualan dengan sistem online. 

Baca Juga :  Efisiensi Drone untuk Sebar Benih

Seperti yang terjadi pada Toko Apollo. Supervisor Apollo Lelyana mengatakan selama pandemi, penjualan di tokonya tidak menggunakan sistem online. Menurutnya ada beberapa kendala yang menyebabkan penjualan tidak bisa dilakukan dengan model daring itu. 

Mereka harus mengatur kembali strategi pemasaran.  Mulai dari perlunya content creator untuk setiap produk yang diunggah hingga persaingan antar-pengusaha online. 

“Pokoknya banyak alasan mengapa kita tidak bisa melakukan penjualan online.  Beda lagi dengan pengusaha yang memang sejak awal sudah merintis melalui online,” dalihnya.

Oleh karena itu, Suhendro mengatakan, beberapa toko yang masih bertahan itu harus melakukan cara agar tetap bisa beroperasi. Mulai dari merumahkan karyawan hingga mengurangi gaji. Menurutnya, beberapa toko yang melakukan penjualan online itu juga tidak menambah penghasilan secara signifikan. 

“Tidak banyak pemasukan juga meski sudah jual online, hanya 10 persen tambahannya. Artinya tetap penjualan secara langsung yang paling berpengaruh,” terangnya.

Sedangkan 20 toko yang tutup permanen ini, pendapatan mereka sudah tidak bisa menutupi pengeluaran sama sekali. “Daripada harus putar otak lagi, (mereka berpikir) lebih baik tutup saja. Karena harga sewa toko di sini juga mahal,” terang pemilik toko Moro Seneng itu menjelaskan alasan pengusaha yang memilih tutup.

Baca Juga :  Lahan Kering, BPBD Lemparkan ke Dinas Pertanian

Beban para pemilik toko semakin berat karena mereka masih harus membayar pajak penjualan. “Bayarnya tetap 0,75 – 1 persen dari hasil penjualan, pembayarannya sudah diberi relaksasi dari pemerintah pusat,” ujar Wakil Ketua Paguyuban Pertokoan Jalan Dhoho Darmoro.

Sementara itu, pemerintah kota (pemkot) mengatakan belum ada kebijakan dari pemerintah pusat untuk relaksasi pajak daerah. “Sementara ini yang ada adalah pembebasan denda keterlambatan pajak daerah,” aku Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Bagus Alit. 

Begitu juga untuk pertokoan, mereka masih dikenai pajak bumi dan bangunan (PBB). Namun, dia membenarkan jika pemerintah pusat merelaksasi pembayaran pajak pertambahan nilai (PPN).

Toko yang tutup permanen terbanyak ada di sisi barat. Di sisi ini setidaknya ada 13 toko yang gulung tikar. Sedangkan pada sisi sebaliknya ada 7 toko. Beberapa toko yang tutup permanen itu terlihat tak terawatt. Ada yang dipasangi banner bertuliskan “Dijual dan Disewa”. (ica/fud)

- Advertisement -

TUTUP: Seorang juru parkir Jalan Dhoho mengatur kendaraan di depan toko yang tutup permanen kemarin. 

20 Toko Jalan Dhoho Gulung Tikar, Begini Kata Pemkot Kediri

KOTA, JP Radar Kediri – Pandemi Covid-19 benar-benar memengaruhi kondisi pusat perbelanjaan Jalan Dhoho. Dari toko-toko yang saat ini belum beroperasi, 20 di antaranya sudah tutup selamanya alias gulung tikar. Pendapatan toko itu tak mampu menutup biaya operasional yang dikeluarkan. 

“Sekitar 30 persen pemilik usaha di sini itu kan menyewa. Sehingga selama pandemi ini pendapatan mereka tidak bisa menutupi biaya pengeluaran,” terang Ketua Paguyupan Pertokoan Jalan Dhoho Suhendro. 

Toko-toko yang tutup permanen itu dari berbagai macam usaha. Ada yang toko tekstil, fashion, serta toko yang menjajakan sandal-sepatu. Tempat-tempat usaha itu terdampak penerapan PPKM yang hingga kini masih berlangsung. 

Menurut Suhendro, pembatasan yang berlaku sekarang membuat dunia usaha lesu. Segala gerak yang dibatasi membuat pedagang tidak bisa berjualan lagi. 

“Contoh yang paling nyata dan langsung terlihat yaitu semakin sedikitnya masyarakat yang pergi ke pusat perbelanjaan. Oleh karena itu meskipun kami berada di sentra pertokoan, imbasnya juga masih kami rasakan,” terang laki-laki 67 tahun tersebut.

Apalagi, sebelum pemberlakuan PPKM, sejak awal pandemi pemerintah sudah menganjurkan untuk mengurangi kegiatan di luar rumah. Sehingga banyak masyarakat yang beralih ke pembelian online. Sedangkan bagi pengusaha di Jalan Dhoho, tidak semua toko bisa melakukan penjualan dengan sistem online. 

Baca Juga :  Pasokan Berkurang, Elpiji Melon Langka

Seperti yang terjadi pada Toko Apollo. Supervisor Apollo Lelyana mengatakan selama pandemi, penjualan di tokonya tidak menggunakan sistem online. Menurutnya ada beberapa kendala yang menyebabkan penjualan tidak bisa dilakukan dengan model daring itu. 

Mereka harus mengatur kembali strategi pemasaran.  Mulai dari perlunya content creator untuk setiap produk yang diunggah hingga persaingan antar-pengusaha online. 

“Pokoknya banyak alasan mengapa kita tidak bisa melakukan penjualan online.  Beda lagi dengan pengusaha yang memang sejak awal sudah merintis melalui online,” dalihnya.

Oleh karena itu, Suhendro mengatakan, beberapa toko yang masih bertahan itu harus melakukan cara agar tetap bisa beroperasi. Mulai dari merumahkan karyawan hingga mengurangi gaji. Menurutnya, beberapa toko yang melakukan penjualan online itu juga tidak menambah penghasilan secara signifikan. 

“Tidak banyak pemasukan juga meski sudah jual online, hanya 10 persen tambahannya. Artinya tetap penjualan secara langsung yang paling berpengaruh,” terangnya.

Sedangkan 20 toko yang tutup permanen ini, pendapatan mereka sudah tidak bisa menutupi pengeluaran sama sekali. “Daripada harus putar otak lagi, (mereka berpikir) lebih baik tutup saja. Karena harga sewa toko di sini juga mahal,” terang pemilik toko Moro Seneng itu menjelaskan alasan pengusaha yang memilih tutup.

Baca Juga :  Wacanakan Bangun Rusunawa

Beban para pemilik toko semakin berat karena mereka masih harus membayar pajak penjualan. “Bayarnya tetap 0,75 – 1 persen dari hasil penjualan, pembayarannya sudah diberi relaksasi dari pemerintah pusat,” ujar Wakil Ketua Paguyuban Pertokoan Jalan Dhoho Darmoro.

Sementara itu, pemerintah kota (pemkot) mengatakan belum ada kebijakan dari pemerintah pusat untuk relaksasi pajak daerah. “Sementara ini yang ada adalah pembebasan denda keterlambatan pajak daerah,” aku Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Bagus Alit. 

Begitu juga untuk pertokoan, mereka masih dikenai pajak bumi dan bangunan (PBB). Namun, dia membenarkan jika pemerintah pusat merelaksasi pembayaran pajak pertambahan nilai (PPN).

Toko yang tutup permanen terbanyak ada di sisi barat. Di sisi ini setidaknya ada 13 toko yang gulung tikar. Sedangkan pada sisi sebaliknya ada 7 toko. Beberapa toko yang tutup permanen itu terlihat tak terawatt. Ada yang dipasangi banner bertuliskan “Dijual dan Disewa”. (ica/fud)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/