23.9 C
Kediri
Sunday, August 14, 2022

Ganti Cabai Merah yang Menggila

- Advertisement -

KEDIRI KOTA – Harga bawang putih dikabarkan mulai melandai sejak tiga hari lalu. Setelah bawang putih impor masuk ke Jatim dan didistribusikan ke daerah-daerah. Namun, harga di pasar tradisional ternyata belum terkerek turun. Sebab para pedagang rata-rata mengaku masih menjual stok lama. Stok yang masih berharga mahal.

“Kemarin baru ambil di agen harganya masih Rp 40 ribu (per kilogram). Katanya itu stok lama,” aku Siti Juwariyah, pedagang pracangan di Pasar Setonobetek. Karena itu Siti mengaku masih menjual bawang putih sesuai harga kulakannya itu.

Siti mengakui selama harga bawang putih melonjak, permintaan konsumen juga tidak terlalu banyak. Dia juga tidak membeli dari tengkulak dalam kapasitas besar. Hanya 2 sampai 3 kilogram saja per harinya.

Saat ditanya apakah sudah mendengar kabar harga bawang putih turun, ia menjawab sudah. Hanya saja, menurut Siti, pada pedagang di Pasar Setonobetek belum ada yang menjual dengan harga di bawah Rp 40 ribu.

“Katanya memang sudah turun kemarin (dua hari lalu, Red). Tapi gak mungkin kami jual harga baru, nanti rugi,” kilah perempuan 47 tahun tersebut.

Baca Juga :  Tak Ada Larangan Berjualan Takjil
- Advertisement -

Saat ini Siti menjual dua jenis bawang putih. Yakni sinco dan kating. Untuk harga kating masih di atas sinco. Dengan kisaran Rp 46 ribu berdasarkan harga tengkulak.

Hal senada disampaikan Bu Mus, pedagang yang lain. Wanita ini belum berani menjual bawang putihnya dengan harga terbaru. Karena dagangannya itu baru dibelinya tiga hari lalu dengan harga yang masih tinggi.

Meskipun demikian, mendengar kabar bahwa harga bawang putih mulai turun, dia pun menyambut gembira. “Alhamdulillah, sudah kembali normal. Jadi barang bisa mudah didapat,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, penurunan harga bawang ini akibat kran impor sudah mulai dibuka. Setidaknya lebih dari 150 ton yang masuk ke Jawa Timur. Namun untuk distribusi bawang putih yang baru datang beberapa hari yang lalu belum bisa dipastikan. Hanya saja di Pasar Grosir Ngronggo Kota Kediri harga grosir sudah berada di angka Rp 31 ribu.

Sementara itu, seiring dengan turunnya harga bawang, dari pantauan koran ini, ternyata komoditas cabai merah yang ganti merangkak naik. Di tingkat penjual pasar tradisional saja kemarin telah mencapai Rp 40 ribu. Padahal sebelumnya harga cabe masih di kisaran Rp 25 ribu. Hal tersebut akibat tingginya permintaan masyarakat. Padahal stok di pasaran terbatas.

Baca Juga :  Jalan Arteri Mulai Padat

“Banyak yang butuh saat Ramadan ini. Sejak awal puasa kemarin selalu habis,” kata Warni, pedagang pracangan.

Warni mengaku bahwa harga cabai jenis ini selalu naik saat Ramadan seperti ini. Dan itu merupakan tren tahunan. Bahkan, harganya diperkirakan berada di puncaknya selama Ramadan ini.

Kepala Dinas Perdagangan dan Industri (Disperdagin) Kota Kediri Yetty Sisworini mengatakan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Kediri telah melakukan upaya untuk menstabilkan harga komoditas bahan pangan di pasar. Saat ini, selama Ramadan, Pemkot tengah melakukan operasi pasar di seluruh kelurahan.

Dia mengakui bahwa selama Ramadan permintaan bahan makanan selalu ada peningkatan. “Untuk itu pemkot mengantisipasi hal tersebut dengan menyediakan bahan makanan dengan harga yang cukup terjangkau. Juga selalu melakukan sidak ke pasar untuk memastikan harga di pedagang,” pungkasnya. 

- Advertisement -

KEDIRI KOTA – Harga bawang putih dikabarkan mulai melandai sejak tiga hari lalu. Setelah bawang putih impor masuk ke Jatim dan didistribusikan ke daerah-daerah. Namun, harga di pasar tradisional ternyata belum terkerek turun. Sebab para pedagang rata-rata mengaku masih menjual stok lama. Stok yang masih berharga mahal.

“Kemarin baru ambil di agen harganya masih Rp 40 ribu (per kilogram). Katanya itu stok lama,” aku Siti Juwariyah, pedagang pracangan di Pasar Setonobetek. Karena itu Siti mengaku masih menjual bawang putih sesuai harga kulakannya itu.

Siti mengakui selama harga bawang putih melonjak, permintaan konsumen juga tidak terlalu banyak. Dia juga tidak membeli dari tengkulak dalam kapasitas besar. Hanya 2 sampai 3 kilogram saja per harinya.

Saat ditanya apakah sudah mendengar kabar harga bawang putih turun, ia menjawab sudah. Hanya saja, menurut Siti, pada pedagang di Pasar Setonobetek belum ada yang menjual dengan harga di bawah Rp 40 ribu.

“Katanya memang sudah turun kemarin (dua hari lalu, Red). Tapi gak mungkin kami jual harga baru, nanti rugi,” kilah perempuan 47 tahun tersebut.

Baca Juga :  Lho, Disperindag Serahkan Relokasi ke Koordinator Pasar

Saat ini Siti menjual dua jenis bawang putih. Yakni sinco dan kating. Untuk harga kating masih di atas sinco. Dengan kisaran Rp 46 ribu berdasarkan harga tengkulak.

Hal senada disampaikan Bu Mus, pedagang yang lain. Wanita ini belum berani menjual bawang putihnya dengan harga terbaru. Karena dagangannya itu baru dibelinya tiga hari lalu dengan harga yang masih tinggi.

Meskipun demikian, mendengar kabar bahwa harga bawang putih mulai turun, dia pun menyambut gembira. “Alhamdulillah, sudah kembali normal. Jadi barang bisa mudah didapat,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, penurunan harga bawang ini akibat kran impor sudah mulai dibuka. Setidaknya lebih dari 150 ton yang masuk ke Jawa Timur. Namun untuk distribusi bawang putih yang baru datang beberapa hari yang lalu belum bisa dipastikan. Hanya saja di Pasar Grosir Ngronggo Kota Kediri harga grosir sudah berada di angka Rp 31 ribu.

Sementara itu, seiring dengan turunnya harga bawang, dari pantauan koran ini, ternyata komoditas cabai merah yang ganti merangkak naik. Di tingkat penjual pasar tradisional saja kemarin telah mencapai Rp 40 ribu. Padahal sebelumnya harga cabe masih di kisaran Rp 25 ribu. Hal tersebut akibat tingginya permintaan masyarakat. Padahal stok di pasaran terbatas.

Baca Juga :  Tak Ada Larangan Berjualan Takjil

“Banyak yang butuh saat Ramadan ini. Sejak awal puasa kemarin selalu habis,” kata Warni, pedagang pracangan.

Warni mengaku bahwa harga cabai jenis ini selalu naik saat Ramadan seperti ini. Dan itu merupakan tren tahunan. Bahkan, harganya diperkirakan berada di puncaknya selama Ramadan ini.

Kepala Dinas Perdagangan dan Industri (Disperdagin) Kota Kediri Yetty Sisworini mengatakan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Kediri telah melakukan upaya untuk menstabilkan harga komoditas bahan pangan di pasar. Saat ini, selama Ramadan, Pemkot tengah melakukan operasi pasar di seluruh kelurahan.

Dia mengakui bahwa selama Ramadan permintaan bahan makanan selalu ada peningkatan. “Untuk itu pemkot mengantisipasi hal tersebut dengan menyediakan bahan makanan dengan harga yang cukup terjangkau. Juga selalu melakukan sidak ke pasar untuk memastikan harga di pedagang,” pungkasnya. 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/