25.6 C
Kediri
Saturday, June 25, 2022

Kota Kediri Alami Inflasi 0,08 Persen 

KOTA, JP Radar Kediri– Kota Kediri kembali mengalami inflasi dua bulan terakhir ini. Setelah April lalu, inflasi Mei sebesar 0,08 persen. Walau begitu, dari delapan kota indeks harga konsumen (IHK) di Jawa Timur, Kota Tahu berada di urutan terakhir.

“Inflasi terbesar terjadi pada Sumenep sebesar 1,10 persen,” terang  Kasi Statistik dan Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri Adi Wijaya.

Dengan angka tidak sebesar April, inflasi Mei memberi kesempatan ekonomi di Kota Kediri agar dapat bernapas. Tidak hanya menguntungkan penjual saja, namun juga pembeli.

Adi menjelaskan bahwa inflasi ini ditunjukkan naiknya indeks kelompok pengeluaran. Yang mengalami inflasi adalah pakaian dan alas kaki 0,02 persen; perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga  0,03 persen; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah 0,20 persen; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,14 persen; dan perawatan pribadi dan jasa lainnya inflasi 0,75 persen.

Baca Juga :  Kandang Ternak di Kediri yang Terjangkit PMK Langsung Di-Lockdown

Sedangkan yang mengalami deflasi adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,19 persen. “Meski kelompok makanan, minuman, dan tembakau deflasi, namun komoditasnya menyumbang inflasi,” imbuhnya.

Komoditas yang menyumbang inflasi dari kelompok tersebut adalah cabai rawit. Dari hasil survei BPS Kota Kediri, cabai rawit ini andil inflasi 0,44 persen. Di pasaran, tanaman hortikultura tersebut mengalami kenaikan harga hingga 12,45 persen.

Kenaikan harga cabai rawit sudah terlihat pascalebaran. Kenaikan harga sayuran mengandung capsaicin ini terjadi secara bertahap. Bahkan sampai memasuki Juni. Saat ini, di pasaran dijual Rp 60 hingga Rp 62 ribu per kilogram (kg).

Tak hanya cabai rawit, cabai merah juga tercatat di nomor tiga sebagai komoditas penyumbang inflasi sebesar 0,028 persen. Harganya mengalami kenaikan 16.54 persen. Di pasaran, cabai merah dijual Rp 46 ribu hingga Rp 48 ribu per kilogram. “Kenaikan harga komoditas ini karena meningkatnya permintaan. Itu terkena dampak liburan Hari Raya Idul Fitri,” papar Adi.

Baca Juga :  Pulang, Pemkot Kediri Wajibkan PMI Harus Karantina Tujuh Hari

Inflasi juga didukung bawang merah, daging ayam ras, telur ayam ras, dan ikan lele. Di luar kelompok makanan, ada hand body lotion, tisu, dan upah asisten rumah tangga. (ara/ndr)

 

 






Reporter: Habibaham Anisa Muktiara
- Advertisement -

KOTA, JP Radar Kediri– Kota Kediri kembali mengalami inflasi dua bulan terakhir ini. Setelah April lalu, inflasi Mei sebesar 0,08 persen. Walau begitu, dari delapan kota indeks harga konsumen (IHK) di Jawa Timur, Kota Tahu berada di urutan terakhir.

“Inflasi terbesar terjadi pada Sumenep sebesar 1,10 persen,” terang  Kasi Statistik dan Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri Adi Wijaya.

Dengan angka tidak sebesar April, inflasi Mei memberi kesempatan ekonomi di Kota Kediri agar dapat bernapas. Tidak hanya menguntungkan penjual saja, namun juga pembeli.

Adi menjelaskan bahwa inflasi ini ditunjukkan naiknya indeks kelompok pengeluaran. Yang mengalami inflasi adalah pakaian dan alas kaki 0,02 persen; perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga  0,03 persen; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah 0,20 persen; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,14 persen; dan perawatan pribadi dan jasa lainnya inflasi 0,75 persen.

Baca Juga :  Serambi Tani: Lelah Belanja Bisa Istirahat di Corner Khusus

Sedangkan yang mengalami deflasi adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,19 persen. “Meski kelompok makanan, minuman, dan tembakau deflasi, namun komoditasnya menyumbang inflasi,” imbuhnya.

Komoditas yang menyumbang inflasi dari kelompok tersebut adalah cabai rawit. Dari hasil survei BPS Kota Kediri, cabai rawit ini andil inflasi 0,44 persen. Di pasaran, tanaman hortikultura tersebut mengalami kenaikan harga hingga 12,45 persen.

Kenaikan harga cabai rawit sudah terlihat pascalebaran. Kenaikan harga sayuran mengandung capsaicin ini terjadi secara bertahap. Bahkan sampai memasuki Juni. Saat ini, di pasaran dijual Rp 60 hingga Rp 62 ribu per kilogram (kg).

Tak hanya cabai rawit, cabai merah juga tercatat di nomor tiga sebagai komoditas penyumbang inflasi sebesar 0,028 persen. Harganya mengalami kenaikan 16.54 persen. Di pasaran, cabai merah dijual Rp 46 ribu hingga Rp 48 ribu per kilogram. “Kenaikan harga komoditas ini karena meningkatnya permintaan. Itu terkena dampak liburan Hari Raya Idul Fitri,” papar Adi.

Baca Juga :  Produktivitas Melon di Nganjuk Anjlok, Ternyata Ini Sebabnya

Inflasi juga didukung bawang merah, daging ayam ras, telur ayam ras, dan ikan lele. Di luar kelompok makanan, ada hand body lotion, tisu, dan upah asisten rumah tangga. (ara/ndr)

 

 






Reporter: Habibaham Anisa Muktiara

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/