23.5 C
Kediri
Sunday, July 3, 2022

Daging Ayam Picu Inflasi

KEDIRI KOTA – Berbeda dengan penyumbang utama inflasi di bulan Mei yaitu telur ayam, bulan Juni, daging ayam menjadi penyumbang terbesar inflasi pada Juni lalu. Setelah mendekati lebaran lalu, harga daging ayam di pasar tradisional mencapai Rp 44 ribu per kilogram.

Seperti diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri Ellyn T Brahmana, harga daging ayam mendekati lebaran memang melonjak tinggi. Karena itulah menjadi pemicu terjadinya inflasi. “Permintaan daging ayam saat lebaran cukup tinggi. Saat itu harganya mahal,” tuturnya.

Selain daging ayam, penyumbang inflasi lainnya adalah angkutan antarkota, tarif travel dan tiket kereta api. Pasalnya, pada bulan lalu, banyak masyarakat yang memanfaatkan moda transportasi ini untuk mudik berlebaran.

Untuk diketahui, pada Juni, terjadi inflasi 0,43. Lebih dari angka inflasi Provinsi Jawa Timur yang mencapai angka 0,42. Meski begitu Kediri menempati peringkat tiga terbawah dari delapan kota yang menjadi sasaran penghitungan inflasi. Kediri berada di atas Surabaya dan Malang.

Baca Juga :  20 Ribu Orang Masih Miskin

Sementara itu, sempat menembus angka Rp 44 ribu per kilogram pada mendekati lebaran lalu, saat ini harga daging ayam sudah mulai stabil. Seperti diungkapkan Ani Prasetyorini, salah satu pedagang daging ayam Pasar Setonobetek. “Sudah satu minggu harga ayam bertahan di Rp 32 ribu/kg,” terangnya saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri.

Ia juga mengaku bila daging ayam setelah Lebaran cenderung turun dengan kisaran Rp 1 ribu hingga Rp 2 ribu. Tidak hanya  harga yang berubah dalam hitungan hari, stok daging ayam pun saat lebaran diakui Ani sempat mengalami kelangkaan, sehingga membutanya mengambil barang dari pemasok yang lain di luar Kediri seperti dari Blitar.

Baca Juga :  Pendaftaran Seleksi Sekretaris Daerah Dibuka Hari Ini

 “Permintaan banyak, walaupun harga mahal saat Lebaran. Namun stok saat itu susah,” terangnya sambil menggelengkan kepalanya. Pasaran harga daging ayam saat ini yang menyentuh Rp 32 ribu per kilogramnya diakui Ani berseragam anatara pedagang daging ayam satu dengan lainnya di lingkup Pasar Setonobetek.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Taufik Taufan Akbar yang juga berdagang daging ayam di Pasar Setonobetek. “Sama, pasarannya saat ini Rp 32 ribu sekilonya. Dan ini stok lagi melimpah,” terang laki-laki 25 tahun ini. Namun ia mengeluhkan bila saat stok daging ayam melimpah, permintaan konsumen justru berkurang. Sehingga pendapatan pedagang daging ayam juga menurun. “Berbeda saat jelang lebaran daging ayam mahal, dan stok terbatas,” ujar laki-laki yang tinggal di Lingkungan Corekan, Kelurahan Ngronggo, Kota Kediri ini. 

- Advertisement -

KEDIRI KOTA – Berbeda dengan penyumbang utama inflasi di bulan Mei yaitu telur ayam, bulan Juni, daging ayam menjadi penyumbang terbesar inflasi pada Juni lalu. Setelah mendekati lebaran lalu, harga daging ayam di pasar tradisional mencapai Rp 44 ribu per kilogram.

Seperti diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri Ellyn T Brahmana, harga daging ayam mendekati lebaran memang melonjak tinggi. Karena itulah menjadi pemicu terjadinya inflasi. “Permintaan daging ayam saat lebaran cukup tinggi. Saat itu harganya mahal,” tuturnya.

Selain daging ayam, penyumbang inflasi lainnya adalah angkutan antarkota, tarif travel dan tiket kereta api. Pasalnya, pada bulan lalu, banyak masyarakat yang memanfaatkan moda transportasi ini untuk mudik berlebaran.

Untuk diketahui, pada Juni, terjadi inflasi 0,43. Lebih dari angka inflasi Provinsi Jawa Timur yang mencapai angka 0,42. Meski begitu Kediri menempati peringkat tiga terbawah dari delapan kota yang menjadi sasaran penghitungan inflasi. Kediri berada di atas Surabaya dan Malang.

Baca Juga :  Komoditas Sayur Pengaruhi Laju Inflasi di Kota Kediri

Sementara itu, sempat menembus angka Rp 44 ribu per kilogram pada mendekati lebaran lalu, saat ini harga daging ayam sudah mulai stabil. Seperti diungkapkan Ani Prasetyorini, salah satu pedagang daging ayam Pasar Setonobetek. “Sudah satu minggu harga ayam bertahan di Rp 32 ribu/kg,” terangnya saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri.

Ia juga mengaku bila daging ayam setelah Lebaran cenderung turun dengan kisaran Rp 1 ribu hingga Rp 2 ribu. Tidak hanya  harga yang berubah dalam hitungan hari, stok daging ayam pun saat lebaran diakui Ani sempat mengalami kelangkaan, sehingga membutanya mengambil barang dari pemasok yang lain di luar Kediri seperti dari Blitar.

Baca Juga :  Polda Sudah Pulangkan Sebagian Terapis Pijat Plus-Plus

 “Permintaan banyak, walaupun harga mahal saat Lebaran. Namun stok saat itu susah,” terangnya sambil menggelengkan kepalanya. Pasaran harga daging ayam saat ini yang menyentuh Rp 32 ribu per kilogramnya diakui Ani berseragam anatara pedagang daging ayam satu dengan lainnya di lingkup Pasar Setonobetek.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Taufik Taufan Akbar yang juga berdagang daging ayam di Pasar Setonobetek. “Sama, pasarannya saat ini Rp 32 ribu sekilonya. Dan ini stok lagi melimpah,” terang laki-laki 25 tahun ini. Namun ia mengeluhkan bila saat stok daging ayam melimpah, permintaan konsumen justru berkurang. Sehingga pendapatan pedagang daging ayam juga menurun. “Berbeda saat jelang lebaran daging ayam mahal, dan stok terbatas,” ujar laki-laki yang tinggal di Lingkungan Corekan, Kelurahan Ngronggo, Kota Kediri ini. 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/