27.4 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Koordinasikan Harga Anjlok ke Kementan dan Bulog

- Advertisement -

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Harga gabah yang anjlok hingga di bawah harga pembelian pemerintah (HPP) direspons oleh dinas pertanian (dispertan). Mereka mengoordinasikan hal tersebut dengan Kementerian Pertanian dan Bulog. Terutama untuk menjajaki opsi pembelian gabah oleh pemerintah.

HPP 2020 untuk gabah kering panen Rp 4.200 per kilogram. Kemudian, gabah kering di penggilingan Rp 4.250. Di musim panen Maret ini, harga gabah kering panen hanya Rp 3.500 hingga Rp 3.800 per kilogram atau jauh di bawah HPP.

Harga gabah yang anjlok tersebut menurut Judi sudah disampaikan ke Kementerian Pertanian (Kementan) yang melakukan monitoring dan evaluasi (monev) di Nganjuk beberapa hari lalu. “Sudah saya sampaikan kendala yang dihadapi petani tentang mereka yang harus membeli pupuk nonsubsidi mahal dan saat ini harga gabah anjlok jauh di bawah HPP,” ujar Judi.

Baca Juga :  Panenan Bawang Merah Naik Belasan Ribu Ton

Terkait respons Kementan akan masalah di Nganjuk, pria bertubuh kurus itu menyebut mereka masih menampung semua masukan yang masuk dan akan digodok di pusat. Judi berharap pemerintah pusat memberi perhatian kepada Kabupaten Nganjuk yang merupakan salah satu lumbung pangan nasional.

- Advertisement -

Selain mengoordinasikan masalah anjloknya harga ke Kementan, Judi menjelaskan, pihaknya juga akan menyurati bulog terkait anjloknya harga di Nganjuk. Terutama, untuk mengetahui kemungkinan penyerapan gabah di musim panen Maret ini. “Nanti kami akan surati bulog (terkait pembelian gabah sesuai HPP, Red),” terang Judi.

Untuk diketahui, penyerapan atau pembelian gabah oleh bulog sesuai HPP saat harga anjlok pernah dilakukan di Nganjuk beberapa tahun lalu. Ditanya apakah hal serupa bisa diterapkan tahun ini, Judi mengaku masih menunggu hasil koordinasi. Meski demikian, dia menyadari jika pemerintah memiliki anggaran yang terbatas.

Baca Juga :  LPJU Masih Mati, PKL Makin Sepi

Sementara itu, selain dihadapkan pada harga jual gabah yang anjlok, para petani padi di Desa Jekek, Baron masih harus berjibaku dengan hama yang menyerang padi mereka. Sedikitnya ada 20 hektare tanaman padi di sana yang terserang hama dan jamur selama dua minggu terakhir.

Kasnan, 60, salah satu petani di Desa Jekek menuturkan, tanaman padi miliknya terserang wereng dan jamur kuning. Padahal, padinya sudah berusia 110 hari atau mendekati masa panen. “Ini saya semprot plenum (pestisida),” ujar pria tua itu.

Serangan dua jenis hama itu, jelas Kasnan, membuat bulir padinya kopong alias tak ada isinya. Untuk mencegah serangan semakin meluas, dia memilih menyemprot menggunakan pestisida meski harus  merogoh kocek hingga Rp 300 ribu. “Harga gabah sudah anjlok, kalau tanamannya terserang hama juga ruginya jauh lebih besar,” keluhnya.

- Advertisement -

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Harga gabah yang anjlok hingga di bawah harga pembelian pemerintah (HPP) direspons oleh dinas pertanian (dispertan). Mereka mengoordinasikan hal tersebut dengan Kementerian Pertanian dan Bulog. Terutama untuk menjajaki opsi pembelian gabah oleh pemerintah.

HPP 2020 untuk gabah kering panen Rp 4.200 per kilogram. Kemudian, gabah kering di penggilingan Rp 4.250. Di musim panen Maret ini, harga gabah kering panen hanya Rp 3.500 hingga Rp 3.800 per kilogram atau jauh di bawah HPP.

Harga gabah yang anjlok tersebut menurut Judi sudah disampaikan ke Kementerian Pertanian (Kementan) yang melakukan monitoring dan evaluasi (monev) di Nganjuk beberapa hari lalu. “Sudah saya sampaikan kendala yang dihadapi petani tentang mereka yang harus membeli pupuk nonsubsidi mahal dan saat ini harga gabah anjlok jauh di bawah HPP,” ujar Judi.

Baca Juga :  LPJU Masih Mati, PKL Makin Sepi

Terkait respons Kementan akan masalah di Nganjuk, pria bertubuh kurus itu menyebut mereka masih menampung semua masukan yang masuk dan akan digodok di pusat. Judi berharap pemerintah pusat memberi perhatian kepada Kabupaten Nganjuk yang merupakan salah satu lumbung pangan nasional.

Selain mengoordinasikan masalah anjloknya harga ke Kementan, Judi menjelaskan, pihaknya juga akan menyurati bulog terkait anjloknya harga di Nganjuk. Terutama, untuk mengetahui kemungkinan penyerapan gabah di musim panen Maret ini. “Nanti kami akan surati bulog (terkait pembelian gabah sesuai HPP, Red),” terang Judi.

Untuk diketahui, penyerapan atau pembelian gabah oleh bulog sesuai HPP saat harga anjlok pernah dilakukan di Nganjuk beberapa tahun lalu. Ditanya apakah hal serupa bisa diterapkan tahun ini, Judi mengaku masih menunggu hasil koordinasi. Meski demikian, dia menyadari jika pemerintah memiliki anggaran yang terbatas.

Baca Juga :  Pemerintah Jamin Ketersediaan Pangan dengan Harga Terjangkau

Sementara itu, selain dihadapkan pada harga jual gabah yang anjlok, para petani padi di Desa Jekek, Baron masih harus berjibaku dengan hama yang menyerang padi mereka. Sedikitnya ada 20 hektare tanaman padi di sana yang terserang hama dan jamur selama dua minggu terakhir.

Kasnan, 60, salah satu petani di Desa Jekek menuturkan, tanaman padi miliknya terserang wereng dan jamur kuning. Padahal, padinya sudah berusia 110 hari atau mendekati masa panen. “Ini saya semprot plenum (pestisida),” ujar pria tua itu.

Serangan dua jenis hama itu, jelas Kasnan, membuat bulir padinya kopong alias tak ada isinya. Untuk mencegah serangan semakin meluas, dia memilih menyemprot menggunakan pestisida meski harus  merogoh kocek hingga Rp 300 ribu. “Harga gabah sudah anjlok, kalau tanamannya terserang hama juga ruginya jauh lebih besar,” keluhnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/