23.9 C
Kediri
Sunday, August 14, 2022

Petani Kediri Harus Panen Dini, Ini Sebabnya

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Musim hujan kali ini membuat petani di Kediri sedikit mengubah siklus tanamnya. Sebagian terpaksa melakukan panen dini pada tanaman padinya. Sedangkan sebagian lagi justru baru mengawali musim tanam.

Keputusan memanen dini karena banjir yang terjadi saat musim hujan ini. Seperti yang menimpa pada parapetani di Desa Kwadungan, Kecamatan Ngasem kemarin (4/1). Meskipun bulir padi belum terlalu tua tapi mereka tetap memanennya.

Keputusan itu mereka ambil untuk meminimalisasi kerugian. Sebab, puluhan hektare lahan sawah terendam. Batang padi pun banyak yang roboh karena hujan disertai angin kencang beberapa hari terakhir.

“Ini sudah banyak yang roboh kena angin. Kalau tidak cepat dipanen gabahnya bisa busuk karena bnayak yang terkena tanah dan air,” ucap Suyadi, salah seorang petani yang melakukan pemanenan.

Padi yang dia tanam di lahan seluas 250 ru tersebut sebenarnya baru berusia 80 hari. Idealnya, panen masih berlangsung sepuluh hari lagi. “Ini hasilnya sedikit masih bisa dirumati (diselamatkan, Red). Kalau dibiarkan saja nanti gagal panen malah rugi banyak,” akunya. 

Baca Juga :  Di Setonobetek, Bawang Merah Tembus Rp 35 Ribu Per Kilogram
- Advertisement -

Biasanya, hasil panenannya bisa mencapai 80 kuintal. Namun dengan kondisi yang seperti ini dia memperkirakan hasilnya berkurang. 

Selain banyak yang rusak, banjir juga membuat proses panen lebih sulit. Padi yang sudah dipotong harus segera dibawa ke lokasi yang lebih tinggi dan dijemur. 

Menurutnya, kondisi seperti ini jarang terjadi. Biasanya setiap tahun musim panen raya selalu tiba di saat musim kemarau. 

“Ini jarang terjadi, musim panen bertepatan dengan musim hujan,” terang lelaki berusia 50 tahun itu. 

Panen dini juga berimbas pada harga gabah. Merosot hingga 30 persen. Kalau biasanya padi kering harganya Rp 5 ribu hingga Rp 5.500 per kilo. Kini karena basah harganya jadi Rp 4.500 per kilo. Bahkan kalau padinya roboh harnya bisa melorot lagi. Berkisar Rp 3.800 hingga Rp 4 ribu.

Sementara itu, di persawahan Desa Sambiresik, Kecamatan Gampengrejo para petaninya justru melakukan tanam padi. Air yang melimpah menjadi alasannya. Karena bagus untuk tanam padi.

Baca Juga :  Gading Marten Merapat ke Persik?

“Yang penting tidak merendam sampai ujung padi,” ujar Syafiudin, petani setempat.

Dia menambahkan, aliran air di kawasan persawahannya saat ini sangat lancar karena sudah dilakukan perbaikan irigasi oleh PPL.  Karena itulah dia yakin untuk menanam padi di kondisi curah hujan yang tinggi saat ini masih bisa dilakukan. 

Di kesempatan terpisah, Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri Anang Widodo mengatakan akan memaksimalkan pantauan keluasan sawah yang terdampak banjir. “Kita berharap masih ada tanaman yang bisa terselamatkan dan kami berkoordinasi dengan petani untuk memberi solusi terkait pola tanam pasca-lahan terdampak banjir,” ujarnya ketika dikonfirmasi melalui telepon. Pihaknya kini masih melakukan pendataan lahan sawah yang terendam banjir selama musim hujan deras di Kabupaten Kediri. “Yang pasti ratusan hektare sawah alami kerugian masa tanam dan masa panen,” terangnya. (c3/fud)

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Musim hujan kali ini membuat petani di Kediri sedikit mengubah siklus tanamnya. Sebagian terpaksa melakukan panen dini pada tanaman padinya. Sedangkan sebagian lagi justru baru mengawali musim tanam.

Keputusan memanen dini karena banjir yang terjadi saat musim hujan ini. Seperti yang menimpa pada parapetani di Desa Kwadungan, Kecamatan Ngasem kemarin (4/1). Meskipun bulir padi belum terlalu tua tapi mereka tetap memanennya.

Keputusan itu mereka ambil untuk meminimalisasi kerugian. Sebab, puluhan hektare lahan sawah terendam. Batang padi pun banyak yang roboh karena hujan disertai angin kencang beberapa hari terakhir.

“Ini sudah banyak yang roboh kena angin. Kalau tidak cepat dipanen gabahnya bisa busuk karena bnayak yang terkena tanah dan air,” ucap Suyadi, salah seorang petani yang melakukan pemanenan.

Padi yang dia tanam di lahan seluas 250 ru tersebut sebenarnya baru berusia 80 hari. Idealnya, panen masih berlangsung sepuluh hari lagi. “Ini hasilnya sedikit masih bisa dirumati (diselamatkan, Red). Kalau dibiarkan saja nanti gagal panen malah rugi banyak,” akunya. 

Baca Juga :  Satlantas Polres Kediri Kota Amankan Belasan Yang Berknalpot brong

Biasanya, hasil panenannya bisa mencapai 80 kuintal. Namun dengan kondisi yang seperti ini dia memperkirakan hasilnya berkurang. 

Selain banyak yang rusak, banjir juga membuat proses panen lebih sulit. Padi yang sudah dipotong harus segera dibawa ke lokasi yang lebih tinggi dan dijemur. 

Menurutnya, kondisi seperti ini jarang terjadi. Biasanya setiap tahun musim panen raya selalu tiba di saat musim kemarau. 

“Ini jarang terjadi, musim panen bertepatan dengan musim hujan,” terang lelaki berusia 50 tahun itu. 

Panen dini juga berimbas pada harga gabah. Merosot hingga 30 persen. Kalau biasanya padi kering harganya Rp 5 ribu hingga Rp 5.500 per kilo. Kini karena basah harganya jadi Rp 4.500 per kilo. Bahkan kalau padinya roboh harnya bisa melorot lagi. Berkisar Rp 3.800 hingga Rp 4 ribu.

Sementara itu, di persawahan Desa Sambiresik, Kecamatan Gampengrejo para petaninya justru melakukan tanam padi. Air yang melimpah menjadi alasannya. Karena bagus untuk tanam padi.

Baca Juga :  Kasus DBD di Kota Kediri Turun, Tetap Tak Boleh Lengah

“Yang penting tidak merendam sampai ujung padi,” ujar Syafiudin, petani setempat.

Dia menambahkan, aliran air di kawasan persawahannya saat ini sangat lancar karena sudah dilakukan perbaikan irigasi oleh PPL.  Karena itulah dia yakin untuk menanam padi di kondisi curah hujan yang tinggi saat ini masih bisa dilakukan. 

Di kesempatan terpisah, Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri Anang Widodo mengatakan akan memaksimalkan pantauan keluasan sawah yang terdampak banjir. “Kita berharap masih ada tanaman yang bisa terselamatkan dan kami berkoordinasi dengan petani untuk memberi solusi terkait pola tanam pasca-lahan terdampak banjir,” ujarnya ketika dikonfirmasi melalui telepon. Pihaknya kini masih melakukan pendataan lahan sawah yang terendam banjir selama musim hujan deras di Kabupaten Kediri. “Yang pasti ratusan hektare sawah alami kerugian masa tanam dan masa panen,” terangnya. (c3/fud)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/