30.5 C
Kediri
Sunday, July 3, 2022

Hari Pelanggan Nasional: Praktik Penimbunan Picu Kelangkaan

Perlindungan konsumen selama pandemi Covid-19 sangat lemah. Masyarakat sebagai pelanggan dirugikan akibat naiknya harga produk kesehatan. Fenomena tak biasa ini terjadi karena aksi panic buying dan penimbunan.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Lembaga Perlindungan Konsumen Kediri Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Kediri Lucky Kristian mengakui, posisi konsumen sangat lemah dalam pandemi Covid-19. Lembaga yang dipimpinnya pun menerima banyak aduan terkait hal-hal yang merugikan konsumen.

Dia mencontohkan lonjakan harga komoditas pangan, masker, obat-obatan, dan hand sanitizer yang dikategorikan sebagai barang penting selama pandemi. “Kenaikan harga barang-barang itu terjadi akibat panic buying (pembelian besar-besaran akibat rasa takut, Red),” ujar Lucky.

Lebih jauh Lucky mengungkapkan, panic buying terjadi dalam beberapa tahap. Yang pertama, aksi membeli produk kesehatan dan perlindungan diri seperti suplemen kesehatan, masker dan hand sanitizer. 

Baca Juga :  Elpiji Nonsubsidi Mahal, Masyarakat Rawan Pindah ke Elpiji Melon

Kelangkaan barang saat itu membuat harga naik hingga 10 kali lipat. “Pengaduan tentang masalah ini (lonjakan harga, Red) meningkat,” lanjutnya sembari menyebut pengaduan tentang kelangkaan barang kesehatan itu tidak pernah terjadi sebelum pandemi.

Lucky menuturkan, langkanya produk kesehatan selama pandemi tidak murni karena panic buying. Melainkan diduga juga akibat praktik penimbunan oleh oknum tertentu. 

Lucky menegaskan, lembaganya juga melaporkan fenomena tersebut ke Kementerian Perdagangan (Kemendag). Sesuai hitungan mereka, stok barang-barang tersebut di lapangan sebenarnya mencukupi.

 Tak hanya melapor ke Kemendag, UPT Lembaga Perlindungan Konsumen juga berkoordinasi dengan kepolisian untuk merespons kejadian tersebut. Dia mencontohkan saat terjadi kelangkaan oksigen. Disperdagin dan perwakilan kepolisian mengecek ke sejumlah distributor dan depo.

Setelah dilakukan pengecekan berkala, Lucky bersyukur stok oksigen di Kota Kediri mulai normal. “Meski diberlakukan pembagian batas beli tapi stok bisa mulai normal,” jelasnya.

Baca Juga :  Harga Cabai Rawit Masih Belum Bisa Stabil

Selain beberapa peristiwa tersebut, kasus langkanya susu steril yang dipercaya bisa menyembuhkan Covid-19 juga dilaporkan. Kepanikan masyarakat dalam kondisi tersebut menurut Lucky dimanfaatkan pengusaha. Mereka menimbun barang dan menaikkan harga dengan kedok kondisi yang langka.

Selebihnya, UPT juga merespons aduan nasabah yang melaporkan kesulitan pengajuan restrukturisasi kredit. “Akhirnya meminta Otoritas Jasa Keuangan dan untuk menindaklanjuti hal tersebut,” bebernya.

Belajar dari beberapa kasus tersebut, menurut Lucky semestinya di Kota Kediri dan beberapa daerah lain bisa saja tidak terjadi lonjakan harga selama pandemi Covid-19. Syaratnya, masyarakat tidak panik dan melakukan pembelian besar-besaran pada sebuah produk. 

Dari sana, dia menilai edukasi kepada masyarakat sebagai konsumen sangat penting. “Stok mencukupi tapi kalau masyarakat panik akan terjadi panic buying, stok langka dan harga melonjak tinggi,” tegasnya. (ica/ut)

- Advertisement -

Perlindungan konsumen selama pandemi Covid-19 sangat lemah. Masyarakat sebagai pelanggan dirugikan akibat naiknya harga produk kesehatan. Fenomena tak biasa ini terjadi karena aksi panic buying dan penimbunan.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Lembaga Perlindungan Konsumen Kediri Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Kediri Lucky Kristian mengakui, posisi konsumen sangat lemah dalam pandemi Covid-19. Lembaga yang dipimpinnya pun menerima banyak aduan terkait hal-hal yang merugikan konsumen.

Dia mencontohkan lonjakan harga komoditas pangan, masker, obat-obatan, dan hand sanitizer yang dikategorikan sebagai barang penting selama pandemi. “Kenaikan harga barang-barang itu terjadi akibat panic buying (pembelian besar-besaran akibat rasa takut, Red),” ujar Lucky.

Lebih jauh Lucky mengungkapkan, panic buying terjadi dalam beberapa tahap. Yang pertama, aksi membeli produk kesehatan dan perlindungan diri seperti suplemen kesehatan, masker dan hand sanitizer. 

Baca Juga :  Durian Kaki Ganda

Kelangkaan barang saat itu membuat harga naik hingga 10 kali lipat. “Pengaduan tentang masalah ini (lonjakan harga, Red) meningkat,” lanjutnya sembari menyebut pengaduan tentang kelangkaan barang kesehatan itu tidak pernah terjadi sebelum pandemi.

Lucky menuturkan, langkanya produk kesehatan selama pandemi tidak murni karena panic buying. Melainkan diduga juga akibat praktik penimbunan oleh oknum tertentu. 

Lucky menegaskan, lembaganya juga melaporkan fenomena tersebut ke Kementerian Perdagangan (Kemendag). Sesuai hitungan mereka, stok barang-barang tersebut di lapangan sebenarnya mencukupi.

 Tak hanya melapor ke Kemendag, UPT Lembaga Perlindungan Konsumen juga berkoordinasi dengan kepolisian untuk merespons kejadian tersebut. Dia mencontohkan saat terjadi kelangkaan oksigen. Disperdagin dan perwakilan kepolisian mengecek ke sejumlah distributor dan depo.

Setelah dilakukan pengecekan berkala, Lucky bersyukur stok oksigen di Kota Kediri mulai normal. “Meski diberlakukan pembagian batas beli tapi stok bisa mulai normal,” jelasnya.

Baca Juga :  Setelah Empat Bulan Deflasi, Ekonomi di Kota Kediri Alami Inflasi

Selain beberapa peristiwa tersebut, kasus langkanya susu steril yang dipercaya bisa menyembuhkan Covid-19 juga dilaporkan. Kepanikan masyarakat dalam kondisi tersebut menurut Lucky dimanfaatkan pengusaha. Mereka menimbun barang dan menaikkan harga dengan kedok kondisi yang langka.

Selebihnya, UPT juga merespons aduan nasabah yang melaporkan kesulitan pengajuan restrukturisasi kredit. “Akhirnya meminta Otoritas Jasa Keuangan dan untuk menindaklanjuti hal tersebut,” bebernya.

Belajar dari beberapa kasus tersebut, menurut Lucky semestinya di Kota Kediri dan beberapa daerah lain bisa saja tidak terjadi lonjakan harga selama pandemi Covid-19. Syaratnya, masyarakat tidak panik dan melakukan pembelian besar-besaran pada sebuah produk. 

Dari sana, dia menilai edukasi kepada masyarakat sebagai konsumen sangat penting. “Stok mencukupi tapi kalau masyarakat panik akan terjadi panic buying, stok langka dan harga melonjak tinggi,” tegasnya. (ica/ut)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/