28.9 C
Kediri
Thursday, July 7, 2022

Inflasi Kediri di Atas Jawa Timur, Ini Sebabnya

KEDIRI KOTA – Berbeda dengan bulan Mei, kali ini Kota Kediri mengalami inflasi hingga 0,43 persen di bulan Juni. Pemicunya adalah kenaikan sejumlah kebutuhan pada lebaran lalu.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri Ellyn Brahmana. “Kediri berada di tingkat tiga terbawah di Jawa Timur,” terang Ellyn. Disebutkannya, kalau rata-rata laju inflasi Jawa Timur adalah 0,42. Laju inflasi Kediri berada di atas Surabaya dan Malang. Dan berada jauh di bawah Sumenep yang menempati posisi teratas, Jember, Probolinggo, Madiun dan Banyuwangi.

“Berada di bawah Surabaya dan Malang karena saat itu banyak warga yang mudik lebaran,” terang Ellyn. Masyarakat akhirnya menggunakan uangnya di daerah yang menjadi sasaran mudik. Inilah yang diduga memicu tingginya angka inflasi di sejumlah daerah. “Untuk Kediri sendiri masih terkontrol. Ini justru menunjukkan adanya pertumbuhan,” jelasnya.

Baca Juga :  Berharap Pasar Luar Daerah

Dijelaskan Ellyn bila inflasi di bulan Juni dipengaruhi kenaikan beberapa harga komoditas menjelang Lebaran. “Jelang lebaran naik, dan itu sudah masuk hitungan inflasi di Juni,” tuturnya. Ia mengakui komoditas yang sempat mengalami kenaikan harga adalah daging ayam, daging sapi, hingga cabai rawit yang menyumbang inflasi.

Berdasarkan data BPS, komoditas pendukung inflasi pertama adalah daging ayam jenis ras lalu disusul dengan tarif transportasi antarkota, trevel, hingga kereta api. “Untuk pendukung inflasi didominasi tarif transportasi. Sedangkan penghambat didominasi bahan pangan seperti bawang putih,” paparnya.

Dari hasil pantauan BPS, diakui Ellyn bila inflasi bulan Juni dipengaruhi kelompok pengeluaran di antaranya transportasi, jasa keuangan hingga bahan pangan dan makanan kemasan. “Lebaran membuat masyarakat butuh mudik, butuh transportasi dan butuh tukar uang,” katanya.

Baca Juga :  Kelezatan Telur Asin

Tidak salah bila transportasi dan jasa keuangan serta komunikasi masuk dalam kelompok pengeluaran pertama yang mempengaruhi laju inflasi hingga 1,07 persen, selanjutnya disusul oleh kelompok bahan pangan yang memiliki andil sebesar 0,90 persen. “Saat lebaran, kita tidak jauh dari makan daging ayam, bumbu cabai rawit dan buahnya pisang. Yang semuanya punya andil di inflasi bulan Juni,” katanya.

Selanjutnya, saat ini, Ellyn mengatakan terus melakukan pemantauan terhadap dampak kenaikan bahan bakar jenis pertamax yang naik per 1 Juli 2018. Kondisi ini diperkirakan akan memicu terjadinya inflasi pada bulan ini. “Semoga pengaruh kenaikannya tidak terlalu tinggi,” pungkasnya.

- Advertisement -

KEDIRI KOTA – Berbeda dengan bulan Mei, kali ini Kota Kediri mengalami inflasi hingga 0,43 persen di bulan Juni. Pemicunya adalah kenaikan sejumlah kebutuhan pada lebaran lalu.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri Ellyn Brahmana. “Kediri berada di tingkat tiga terbawah di Jawa Timur,” terang Ellyn. Disebutkannya, kalau rata-rata laju inflasi Jawa Timur adalah 0,42. Laju inflasi Kediri berada di atas Surabaya dan Malang. Dan berada jauh di bawah Sumenep yang menempati posisi teratas, Jember, Probolinggo, Madiun dan Banyuwangi.

“Berada di bawah Surabaya dan Malang karena saat itu banyak warga yang mudik lebaran,” terang Ellyn. Masyarakat akhirnya menggunakan uangnya di daerah yang menjadi sasaran mudik. Inilah yang diduga memicu tingginya angka inflasi di sejumlah daerah. “Untuk Kediri sendiri masih terkontrol. Ini justru menunjukkan adanya pertumbuhan,” jelasnya.

Baca Juga :  Kejari Kota Kediri Desak Tersangka Kembalikan Fee BPNT

Dijelaskan Ellyn bila inflasi di bulan Juni dipengaruhi kenaikan beberapa harga komoditas menjelang Lebaran. “Jelang lebaran naik, dan itu sudah masuk hitungan inflasi di Juni,” tuturnya. Ia mengakui komoditas yang sempat mengalami kenaikan harga adalah daging ayam, daging sapi, hingga cabai rawit yang menyumbang inflasi.

Berdasarkan data BPS, komoditas pendukung inflasi pertama adalah daging ayam jenis ras lalu disusul dengan tarif transportasi antarkota, trevel, hingga kereta api. “Untuk pendukung inflasi didominasi tarif transportasi. Sedangkan penghambat didominasi bahan pangan seperti bawang putih,” paparnya.

Dari hasil pantauan BPS, diakui Ellyn bila inflasi bulan Juni dipengaruhi kelompok pengeluaran di antaranya transportasi, jasa keuangan hingga bahan pangan dan makanan kemasan. “Lebaran membuat masyarakat butuh mudik, butuh transportasi dan butuh tukar uang,” katanya.

Baca Juga :  Proyek Jembatan Brawijaya: Impian Bakal Terwujud

Tidak salah bila transportasi dan jasa keuangan serta komunikasi masuk dalam kelompok pengeluaran pertama yang mempengaruhi laju inflasi hingga 1,07 persen, selanjutnya disusul oleh kelompok bahan pangan yang memiliki andil sebesar 0,90 persen. “Saat lebaran, kita tidak jauh dari makan daging ayam, bumbu cabai rawit dan buahnya pisang. Yang semuanya punya andil di inflasi bulan Juni,” katanya.

Selanjutnya, saat ini, Ellyn mengatakan terus melakukan pemantauan terhadap dampak kenaikan bahan bakar jenis pertamax yang naik per 1 Juli 2018. Kondisi ini diperkirakan akan memicu terjadinya inflasi pada bulan ini. “Semoga pengaruh kenaikannya tidak terlalu tinggi,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/