24 C
Kediri
Monday, July 4, 2022

Harga Sayuran di Pasar Naik, Ini Sebabnya

KOTA, JP Radar Kediri – Beban masyarakat kian bertambah hari-hari terakhir ini. Harga beberapa komoditas sayuran mengalami kenaikan. Penyebabnya adalah stok yang berkurang di pasaran akibat kondisi cuaca yang buruk.

Salah satu yang mengalami kenaikan itu adalah tomat. Di awal Maret ini tomat naik seribu rupiah. Bila semula harganya Rp 6 ribu per kilogram kini sudah tembus Rp 7 ribu.

“Harga tomat mulai hari ini (kemarin) mengalami kenaikan harga,” jelas Yeni, pedagang tomat di Pasar Grosir Buah dan Sayur Ngronggo, Kota Kediri, kemarin.

Kepada Jawa Pos Radar Kediri Yeni menjelaskan alasan naiknya harga tomat itu. Yaitu karena musim hujan. Intensitas hujan yang tinggi membuat stok tomat mengalami penurunan.

Yeni kemudian menggambarkan seperti apa kondisi kelangkaan tomat saat ini. Sampai-sampai dia harus membeli tomat yang masih dalam keadaan berwarna hijau dari petani. Padahal tomat yang masih berwarna hijau membutuhkan waktu dua hari sebelum bisa menjadi merah dan disukai pembeli.

Baca Juga :  Relaksasi Aturan, Warga Kurang Mampu Bebas Akses Kesehatan Gratis

“Kalau musim hujan kayak gini tomat tidak dapat bertahan lama. Dua hari harus habis,” imbuhnya. Dengan kondisi kurangnya barang, Yeni tidak bisa mengambil dalam jumlah banyak. D

Untuk tomat yang ia jual, laki-laki kelahiran 1994 ini mengambil dari petani di wilayah Kecamatan Ngancar. Ketika barang masih dalam kondisi banyak, dalam satu hari ia dapat menjual dan menyetok sebanyak lima kuintal tomat. Akan tetapi, kini dalam satu hari ia hanya dapat menyetok dan menjual tiga kuintal saja dalam satu hari.

Bagaimana dengan jumlah pembeli? Menurut Yeni, naiknya harga tak terlalu berpengaruh pada jumlah pembeli. “Meski harga naik namun pembeli masih ada,” terang Yeni.

Uminatul, salah satu pembeli tomat mengaku kaget dengan kenaikan harga yang terjadi kemarin. Karena terakhir ia membeli harga tomat masih Rp 6 ribu. Namun karena mebutuhkan tomat untuk keperluan sehari-hari ia terpaksa tetap membeli.

Baca Juga :  Sulit Cegah Inflasi Desember

Selain tomat, sayuran yang juga mengalami kenaikan harga adalah timun. Hal ini diungkapkan oleh Darweni, salah satu pedagang timun di pasar yang sama. Laki-laki berusia 60 tahun ini mengatakan harga timun yang semula Rp 1.000 per kilogram kini mencapai Rp 1.500 per kilogram.

Penyebab harga naik itu juga sama seperti tomat. “Karena hujan, barangnya menjadi kurang,” terang Darweni.

Karena stok tak terlalu banyak, dalam satu hari dia hanya bisa menjual sekitar lima kuintal timun. Padahal ketika masih normal, dan harga belum mengalami kenaikan, dalam satu hari ia dapat menjual sekitar satu ton timun.

Menurut Darweni, tidak hanya harga tomat dan timun yang terkena dampak hujan. Namun juga pada sayuran lain. Hal ini karena sayuran sangat rentan dengan perubahan iklim. Karena mudah mengalami pembusukan.

 

- Advertisement -

KOTA, JP Radar Kediri – Beban masyarakat kian bertambah hari-hari terakhir ini. Harga beberapa komoditas sayuran mengalami kenaikan. Penyebabnya adalah stok yang berkurang di pasaran akibat kondisi cuaca yang buruk.

Salah satu yang mengalami kenaikan itu adalah tomat. Di awal Maret ini tomat naik seribu rupiah. Bila semula harganya Rp 6 ribu per kilogram kini sudah tembus Rp 7 ribu.

“Harga tomat mulai hari ini (kemarin) mengalami kenaikan harga,” jelas Yeni, pedagang tomat di Pasar Grosir Buah dan Sayur Ngronggo, Kota Kediri, kemarin.

Kepada Jawa Pos Radar Kediri Yeni menjelaskan alasan naiknya harga tomat itu. Yaitu karena musim hujan. Intensitas hujan yang tinggi membuat stok tomat mengalami penurunan.

Yeni kemudian menggambarkan seperti apa kondisi kelangkaan tomat saat ini. Sampai-sampai dia harus membeli tomat yang masih dalam keadaan berwarna hijau dari petani. Padahal tomat yang masih berwarna hijau membutuhkan waktu dua hari sebelum bisa menjadi merah dan disukai pembeli.

Baca Juga :  Irigasi Terganggu, Belasan Hektare Padi Terendam Air

“Kalau musim hujan kayak gini tomat tidak dapat bertahan lama. Dua hari harus habis,” imbuhnya. Dengan kondisi kurangnya barang, Yeni tidak bisa mengambil dalam jumlah banyak. D

Untuk tomat yang ia jual, laki-laki kelahiran 1994 ini mengambil dari petani di wilayah Kecamatan Ngancar. Ketika barang masih dalam kondisi banyak, dalam satu hari ia dapat menjual dan menyetok sebanyak lima kuintal tomat. Akan tetapi, kini dalam satu hari ia hanya dapat menyetok dan menjual tiga kuintal saja dalam satu hari.

Bagaimana dengan jumlah pembeli? Menurut Yeni, naiknya harga tak terlalu berpengaruh pada jumlah pembeli. “Meski harga naik namun pembeli masih ada,” terang Yeni.

Uminatul, salah satu pembeli tomat mengaku kaget dengan kenaikan harga yang terjadi kemarin. Karena terakhir ia membeli harga tomat masih Rp 6 ribu. Namun karena mebutuhkan tomat untuk keperluan sehari-hari ia terpaksa tetap membeli.

Baca Juga :  Masih Kaget Jika Ada Kereta Lewat Tengah Malam

Selain tomat, sayuran yang juga mengalami kenaikan harga adalah timun. Hal ini diungkapkan oleh Darweni, salah satu pedagang timun di pasar yang sama. Laki-laki berusia 60 tahun ini mengatakan harga timun yang semula Rp 1.000 per kilogram kini mencapai Rp 1.500 per kilogram.

Penyebab harga naik itu juga sama seperti tomat. “Karena hujan, barangnya menjadi kurang,” terang Darweni.

Karena stok tak terlalu banyak, dalam satu hari dia hanya bisa menjual sekitar lima kuintal timun. Padahal ketika masih normal, dan harga belum mengalami kenaikan, dalam satu hari ia dapat menjual sekitar satu ton timun.

Menurut Darweni, tidak hanya harga tomat dan timun yang terkena dampak hujan. Namun juga pada sayuran lain. Hal ini karena sayuran sangat rentan dengan perubahan iklim. Karena mudah mengalami pembusukan.

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/