Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pengamat Ekonomi Soroti Lesunya Pasar Tradisional Kediri Jelang Lebaran

Diana Yunita Sari • Selasa, 17 Maret 2026 | 22:28 WIB

Suasana pedagang pakaian di Pasar Bandar lesu jelang lebaran (Diana Yunita)
Suasana pedagang pakaian di Pasar Bandar lesu jelang lebaran (Diana Yunita)

JP Radar Kediri– Jelang lebaran, suasana pedagang pakaian di pasar tradisional tetap sepi. Seperti di Pasar Bandar Kota Kediri. Pergeseran perilaku belanja masyarakat yang kini lebih menggandrungi platform digital diduga menjadi penyebab utama lesunya perputaran uang di pasar tersebut.

Pengamat Ekonomi Dr Subagyo mengungkapkan bahwa perubahan perilaku belanja dari offline ke online berlangsung sangat masif. Saat ini, hampir seluruh lapisan usia sudah terbiasa menggunakan aplikasi belanja daring. Seperti Shopee, TikTok, hingga Tokopedia.

“Faktor harga yang lebih murah dan kemudahan akses menjadi alasan utama. Masyarakat tidak perlu lagi berdesak-desakan atau merasa panas di pasar,” ujar pria yang juga Dosen Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri itu.

Selain gempuran e-commerce, pasar tradisional juga harus bersaing ketat dengan pusat perbelanjaan modern. Seperti Kediri Town Square, Ramayana, ataupun toko-toko hits yang banyak digandrungi anak muda karena pilihan bajunya up to date.

Menurutnya, mal menawarkan visual yang lebih menarik, pencahayaan yang baik, serta kenyamanan ruang ber-AC yang sangat dicari masyarakat. Terutama saat menjalankan ibadah puasa di tengah cuaca panas.

Subagyo juga menyoroti sistem tawar-menawar di pasar tradisional. Pasalnya, terkadang pedagang justru mematok harga awal jauh di atas harga pasar online. Belum lagi tawaran diskon besar-besaran seperti buy 1 get 1 di toko modern yang membuat kalangan menengah ke bawah juga tertarik.

“Kondisi fisik sebagian pasar tradisional memang harus menjadi perhatian. Tempat yang sempit, panas, hingga urusan parkir dan toilet yang kurang nyaman membuat masyarakat enggan datang,” imbuhnya.

Melihat kondisi ini, Subagyo menekankan perlunya campur tangan pemerintah melalui Dinas Perdagangan dan Kominfo. Edukasi dan pelatihan berjualan di platform daring bagi pedagang pasar dinilai sudah sangat diperlukan.

“Pedagang perlu dilatih cara berjualan di TikTok Shop misalnya, secara gratis dan berkesinambungan. Apalagi banyak pedagang pasar yang sudah lanjut usia, mereka butuh pendampingan khusus,” tegasnya.

Tak hanya soal skill, fasilitas penunjang di area pasar juga perlu ditingkatkan. Ia menyarankan penyediaan fasilitas WiFi gratis di seluruh pasar regional agar pedagang bisa melakukan live streaming jualan langsung dari lapak mereka.

“Revitalisasi fasilitas seperti ventilasi, pencahayaan, atap, dan toilet harus dilakukan. Kalau perlu, adakan festival belanja pasar untuk menarik kembali minat pengunjung,” pungkas Subagyo.

Baca Juga: Ini Tanggapan Pengamat Ekonomi Soal Maraknya Kredit Fiktif di BRI, Bank BUMN

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#Pasar Bandar Kota Kediri #kediri #Pedagang Pakaian #unp kediri #Universitas Nusantara PGRI Kediri #pasar tradisional #pengamat ekonomi #Pasar Bandar #kota kediri