KEDIRI, JP Radar Kediri- Kurang dari sepekan jelang Tahun Baru Imlek, Kelenteng Tjoe Hwie Kiong mulai bersolek. Kemarin, umat Tridharma melakukan bersih-bersih altar dan rupang atau patung dewa.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, nuansa serbamerah khas Tahun Baru Imlek mulai terasa di jalanan sekitar kelenteng. Termasuk di sebagian ruas Jl Yos Sudarso.
Tepatnya di depan Kelenteng Tjoe Hwie Kiong yang mulai dihias dengan lampion berwarna merah. Di bagian dalam kelenteng, umat Tridharma gotong royong membersihkan area altar.
“Sebelumnya (membersihkan altar) kami mengadakan upacara sembahyang Sang Sin,” kata Ketua Yayasan Tri Dharma Kelenteng Tjoe Hwie Kiong Prayitno Sutikno tentang sembahyang untuk mengantar dewa-dewi naik ke langit itu.
Tahapan di awal perayaan Imlek itu menurut Prayit sangat penting. Sebab, setelah melaksanakan sembahyang umat bisa mulai melakukan pembersihan di area altar.
Termasuk membersihkan patung-patung atau rupang dewa-dewi di kelenteng yang berusia lebih dari 200 tahun tersebut.
“Setelah (sembahyang) itu kami mengadakan bersih-bersih altar dan patung atau rupang dewa-dewi yang ada. Pembersihan altar itu hanya bisa dilakukan sekali dalam setahun, setiap menjelang tahun baru (Imlek),” beber Prayit.
Total ada 17 altar yang dibersihkan. Termasuk altar utama Tian Shang Sheng Mu atau Dewi Mak Co. Altar tersebut sekaligus yang pertama didirikan di kelenteng yang berada di tepi Sungai Brantas itu.
“Masing-masing altar ada yang isinya 4 patung atau rupang, ada juga yang lebih. Kalau ditotal ada sekitar 100 rupang,” terang Prayit sembari menyebut dalam membersihkan rupang mereka tidak bisa sembarangan.
Melainkan harus menyiapkan diri dengan puasa daging dan menjaga perilaku.
“Menjaga perilaku ini kami lakukan minimal tiga hari. Supaya pengendalian diri kami benar-benar terjaga sehingga dalam membersihkan rupang dan altar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tandasnya tentang pembersihan menggunakan air sabun yang dicampur bunga.
Ritual setahun sekali itu diikuti secara antusias oleh umat Tridharma. Mereka membersihkan satu per satu rupang secara manual.
Setelah selesai dibersihkan, rupang ditempatkan di posisi semula.
“Yang paling terakhir kami laksanakan, kami bertanya apakah posisinya sudah sesuai. Kalau belum sesuai, posisi akan kami ubah lagi. Atau mungkin kurang bersih,” tandas Prayit sembari menyebut, rata-rata dibutuhkan waktu selama sembilan jam untuk membersihkan seluruh rupang dan altar kelenteng.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel
Editor : rekian