Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Biaya Produksi Petani Semakin Mahal: Dari Diskusi Anomali Cuaca dan Fenomena Kemarau Basah di Kediri (3)

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Jumat, 4 Juli 2025 | 08:00 WIB

 

TANTANGAN BARU: Peneliti Kesehatan Benih dan Pengendalian Biokontrol, Hoerusalam (kanan) menjelaskan tantangan petani saat terjadi anomali cuaca .
TANTANGAN BARU: Peneliti Kesehatan Benih dan Pengendalian Biokontrol, Hoerusalam (kanan) menjelaskan tantangan petani saat terjadi anomali cuaca .
 

JP Radar Kediri- Cuaca ekstrem menyebabkan pola tanam berubah. Hama yang muncul semakin bervariasi. Membuat petani kesulitan merawat tanamannya. Hal itu membuat biaya produksi pertanian semakin mahal. 

Menurut Peneliti Kesehatan Benih dan Pengendalian Biokontrol, Hoerussalam, cuaca yang tidak menentu itu membuat ketahanan tanaman menjadi turun. Seperti tanaman padi. Ketika musim hujan, daun, dan buah tanaman padi akan naik ke atas.

Baca Juga: Bulog Kediri Temui Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati Perkuat Sinergitas Pangan Berkelanjutan.

Pria yang kerap disapa Salam itu mengatakan, tanaman padi akan merimbun ke bawah saat panas. Namun, ketika ada anomali cuaca kondisi tanaman itu bisa terganggu. “Sebab tanaman rawan terserang penyakit. Alhasil, terjadi penurunan ketahanan,” jelasnya.

Kenapa bisa terserang hama? Itu disebabkan setiap musim pasti ada organisme pengganggu tanaman  (OPT) yang dominan. Dan di musim tertentu, OPT tidak bisa bertahan. Misalnya, saat musim kemarau, jamur akan tumbuh berkembang biak. Tapi akan jumlahnya tidak akan berkurang ketika hujan. 

Baca Juga: Datangi Proyek Stadion GDJ, Bupati Kediri Dhito Pramana Pastikan Hal Ini

Pada saat musim hujan, yang cepat berkembang biak justru bakteri. Yang menjadi problem saat anomali cuaca seperti sekarang adalah dua hama itu akan menyerang bersamaan dalam waktu lama.

Sehingga hama yang saat ini menyerang petani menjadi dobel. Alasan itulah yang membuat pengeluaran petani menjadi lebih banyak. Mulai dari dana untuk pestisida, tenaga, dan lainnya.

“Saat ini ada percampuran (OPT). Nah, ini jadi dobel. Dampaknya lebih banyak mengeluarkan biaya karena hama banyak. Tenaga lebih banyak,” jelasnya.

Baca Juga: Jadi Tuan Rumah APEKSI,/ Kota Kediri Siap Sambut Wali Kota dari Jatim, Bali, dan Nusa Tenggara

Terkait adanya hal tersebut, Suyono Ketua Asosiasi Petani Cabai Indonesia (APCI) Kabupaten Kediri membenarkannya. Dia mengatakan, saat ini produktivitas sudah menurun drastis dikarenakan perubahan iklim seperti cuaca ekstrim.

Menurutnya, saat ini petani cabai dihadapkan beberapa tantangan. “Awalnya cabai terserang jamur Cercospora Capsici (bercak daun, Red) yang mengakibatkan kerontokan pada daun bunga dan buah,” ujarnya. Sedangkan sekarang, saat terjadi cuaca ekstrem adanya kemarau basah menyebabkan kelembaban udara tinggi. Memicu serangan jamur colletotrichum capsici (antraknosa). Selain itu ada juga serangan OPT hama lalat buah.(bersambung) 

Untuk mendapatkan berita- berita terkini  Jawa Pos  Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#anomali cuaca #petani #kediri #fenomena #biaya produksi #kemarau basah