KEDIRI, JP Radar Kediri - Problem harga nanas yang jeblok saat panen raya, agaknya tidak akan membelit para petani di lereng Gunung Kelud lagi.
Pasalnya, selain dipasarkan di tingkat lokal hingga nasional, komoditas andalan Kabupaten Kediri itu juga diminati pasar internasional. Kemarin untuk kali pertama nanas diekspor ke Dubai.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, pemberangkatan ekspor perdana di pintu masuk kawasan wisata Gunung Kelud kemarin ditandai dengan penyiraman air kembang ke truk kontainer dan pemecahan kendi berisi air.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kediri M. Solikin yang kemarin ikut memberangkatkan ekspor nanas jenis Queen Simplek itu optimistis ke depan pasar ekspor untuk buah dengan rasa manis dan segar itu akan semakin luas.
Apalagi, selain ekspor ke Dubai itu, ke depan juga akan ada ekspor nanas ke Pakistan.
Adalah PT Arab Indo Group yang berminat membeli nanas jenis Queen Simplek itu.
Jika kemarin yang diekspor ke Dubai sekitar 20 ton, ke depan setiap bulan akan ada dua truk kontainer atau setara 40 ton yang diekspor ke Pakistan.
“Harapannya ke depan (ekspor nanas, Red) bisa berlangsung terus,” kata Solikin.
Menurutnya, penjualan nanas ke luar negeri ini tidak hanya memperluas pasar. Melainkan, harga yang didapat petani juga lebih mahal dibanding pasar lokal.
Untuk diketahui, di tingkat lokal harga nanas Queen Simplek berkisar Rp 5.400 per kilogram (kg). Jika diekspor, harganya bisa menjadi Rp 6.200 hingga Rp 6.800 per kg.
“Ekspor nanas ini bisa meningkatkan pendapatan petani. Penjualannya juga lancar karena pasarnya lebih luas,” lanjut Solikin.
Terpisah, Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri Sukadi mengungkapkan, selain penjualan satu kontainer nanas kemarin, sudah kontrak dengan pembeli Pakistan. Yakni, penjualan 40 ton nanas pada Maret nanti.
“Mulai Juli juga ada buyer yang akan membeli dua kontainer setiap sebulan sekali,” kata Sukadi yang kemarin juga bersama sejumlah pejabat eselon 2 lainnya itu.
Terkait prospek ekspor nanas yang dimungkinkan akan terus berkembang, Sukadi optimistis stok akan tetap mencukupi.
Sebab, di Kabupaten Kediri total tanaman nanas seluas 2.579 hektare. Setiap tahun produksinya bisa mencapai 182.512 ton.
“Sebanyak 70 persen itu jenisnya Queen Simplek. Sesuai minat buyer luar,” terangnya sembari menyebut Maret nanti sudah siap panen sekitar 60 ton nanas.
Terpisah, Mubhasir, pembeli asal Pakistan mengaku sudah keliling ke beberapa daerah di Indonesia untuk mencari varian nanas yang pas.
Dari beberapa daerah yang dikunjungi, nanas Queen Simplek dinilai yang paling cocok untuk pasar internasional.
Alasannya, rasa nanas yang manis dan segar dianggap lebih enak.
"Kediri has the best pineapple (Kediri punya nanas terbaik, Red)," pujinya sambil tersenyum.
Karenanya, selain ekspor perdana kemarin, dia akan terus melakukan pemesanan secara kontinyu.
Selain nanas, dia juga tertarik dengan rambutan dan beberapa buah lainnya.
Terpisah, Manajer Koperasi Nanas Sumber Rejeki Joko Susilo mengungkapkan, di Ngancar ada sekitar 1.400 tanaman nanas. Mereka tergabung dalam kelompok tani di bawah koperasi.
"Sistem koperasi ini bekerja dengan cara mengambil hasil panen langsung dari petani.Setiap kelompok tani memiliki koordinator yang bertanggung jawab dalam proses distribusi hasil panen," jelasnya.
Produksi koperasi mencapai 80 ribu buah per bulan. Adapun satu kontainer hanya butuh sekitar 20 ribu buah saja.
Karenanya, dia optimistis bisa memenuhi pesanan secara kontinyu. Pun jika ada peningkatan permintaan ke depan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah