KEDIRI, JP Radar Kediri–Ribuan siswa SD, SMP, dan SMA/SMK mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) kemarin. Tak hanya menghindari adanya perploncoan, para siswa baru itu tidak boleh dibebani tes khusus.
Seperti diungkapkan oleh Pengarah Pelaksana MPLS SDN Burengan 2 Kota Kediri Dewi Sholihatur Rohmah. Menurutnya, dalam MPLS tahun ini seluruh sekolah menerapkan metode yang menyenangkan. Termasuk transisi PAUD ke SD sesuai anjuran dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam program Merdeka Belajar.
Aspek menyenangkan dalam MPLS menurutnya bertujuan untuk menciptakan kesan yang positif bagi siswa baru. “Jadi ada jembatan agar anak-anak tidak merasa harus berubah drastis. Melainkan mereka melewati jembatan itu dengan santai, enak, dan tanpa ada beban,” ujar Dewi.
Baca Juga: Persik Incar Kemenangan Lawan Dewa United, Ini yang Diperkuat oleh Tim Pelatih
MPLS, lanjut Dewi, harus diisi dengan kegiatan yang menyenangkan. Yakni, yang mengarah pada aktivitas hingga belajar bisa terasa menyenangkan.
“Seperti untuk aspek mengenali diri sendiri dan potensi lingkungan, kita juga ada kegiatan mengenali guru. Itu kita buat dalam bentuk puzzle. Sehingga anak-anak bisa menyusun puzzle dengan seru,” paparnya.
Di delapan hari terakhir MPLS, sekolah akan melaksanakan asesmen awal. Itu pun, menurut Dewi tidak boleh dilakukan dengan tes tulis. Kemampuan siswa akan dinilai melalui observasi guru serta dari kinerja anak.
Baca Juga: Bupati Kediri Mas Dhito Dorong Bandara Kediri Layani Penerbangan Haji dan Umrah
“Kinerja itu misalnya dia waktu ditanya, bisa menjawab. Kalau bisa menjawab, berarti kemampuan kognitif mereka sudah baik,” tandas Dewi tentang MPLS SD.
Pantauan koran ini di SDN Burengan 2 kemarin, sebanyak 56 siswa baru terlihat duduk melingkar di halaman sekolah. Sembari menunjukkan kertas bertuliskan nama masing-masing yang tergantung di leher, satu per satu maju ke tengah lingkaran. Mereka memperkenalkan diri sendiri di depan teman-teman yang lain.
Tiga siswa berkebutuhan khusus yang diterima di sana juga ikut memperkenalkan diri. Salah satunya harus duduk di kursi roda kecil. Tak ada pembedaan. Semua duduk bersama. Saat jeda istirahat, puluhan anak itu makan bekal bersama-sama sembari berbincang. Tak terkecuali siswa berkebutuhan khusus yang juga mulai aktif berinteraksi dengan teman-teman barunya.
“Anak-anak (ABK, Red) kelihatannya sudah bisa adaptasi. Siswa yang lain juga ngajak ngobrol. Tadi ada yang tanya, kamu bawa bekal apa? Jadi saling tanya-tanya juga,” sambung Amanda, guru pendamping siswa ABK di sana.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah