Dua Cagar Alam Aman dari Karhutla, BKSDA Kediri Lakukan Mitigasi

JP Radar Kediri – Kemarau panjang meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Oleh karena itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) memastikan kawasan konservasi di Kabupaten Kediri masih aman dari kebakaran. Kondisi flora dan fauna yang dilindungi di dalamnya juga terpantau aman.
Kepala Resor Konservasi Wilayah 01 BKSDA Kediri David Fatchurohman mengatakan, terdapat dua kawasan cagar alam di Kabupaten Kediri. Yakni Cagar Alam Manggis di Kecamatan Puncu dan Cagar Alam Besowo Gadungan di Kecamatan Kepung.
“Untuk saat ini, kawasan cagar alam di wilayah Kediri masih aman dari kebakaran. Meski begitu, kami tetap melakukan upaya pencegahan dan mitigasi untuk mengantisipasi potensi karhutla selama musim kemarau,” ujarnya.
Cagar Alam Manggis dikenal pula dengan sebutan Alas Simpenan. Kawasan ini menjadi lokasi Pusat Ficus Nasional (PFN) karena memiliki beragam jenis pohon ficus. Termasuk pohon leses (Ficus albipila) yang memiliki ciri batang berwarna putih.
Selain kaya akan vegetasi, Cagar Alam Manggis juga menjadi habitat bagi ratusan kera ekor panjang (Macaca fascicularis). Berbagai satwa dan burung juga hidup di kawasan tersebut. Di antaranya kalong dan burung kukuk seloputo.
Baca Juga: Dari Owa Jawa hingga Trenggiling, 7 Satwa Dilindungi ini Dievakuasi BKSDA Kediri
Sementara itu, Cagar Alam Besowo Gadungan memiliki fungsi penting sebagai daerah tangkapan air. Sekaligus penyangga keseimbangan ekologis bagi masyarakat di sekitarnya. Kawasan ini juga menjadi lokasi pengamatan keanekaragaman hayati, khususnya berbagai spesies burung dan vegetasi hutan.
David menegaskan, pengawasan tetap dilakukan untuk menjaga kelestarian kedua kawasan tersebut. Salah satu langkahnya melalui penyiagaan polisi hutan. “Kami menyiagakan polisi hutan dan melakukan upaya pencegahan lainnya agar kawasan konservasi tetap aman,” jelasnya.
Baca Juga: Petugas BKSDA dan Warga Tangkap Burung Merak Hijau sampai Naik Genting di Kayenkidul Kediri
Upaya mitigasi tersebut dilakukan untuk melindungi kawasan cagar alam beserta habitat satwa dan tumbuhan di dalamnya. Terlebih, kondisi cuaca kering selama musim kemarau berpotensi meningkatkan risiko terjadinya karhutla.



