Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Konflik Netizen Malaysia–Korea Picu Sorotan soal Rasisme Digital, Makin Panas!

Arlintang Sekar Phambayun • Selasa, 17 Februari 2026 | 08:52 WIB

MEME SEAblings
MEME SEAblings

JP RADAR KEDIRI – Media sosial tengah memanas akibat konflik terbuka antara netizen Malaysia dan Korea Selatan. Kontroversi yang bermula dari perdebatan soal etika di sebuah konser K-pop di Kuala Lumpur tersebut berkembang menjadi isu yang lebih sensitif, yakni rasisme digital.

Perbincangan ramai terjadi di berbagai platform, terutama X, dengan ribuan unggahan dan balasan dalam waktu singkat.

Dari Kritik Individu ke Generalisasi Bangsa

Isu rasisme muncul ketika sejumlah komentar dari oknum warganet dinilai mengandung cuitan merendahkan identitas bangsa.

Kritik yang semula diarahkan pada perilaku individu kemudian bergeser menjadi generalisasi terhadap kelompok atau negara tertentu.

Dalam sejumlah unggahan, perdebatan turut diwarnai stereotip terkait pekerja migran, kondisi ekonomi, hingga warna kulit. Hal semacam ini dinilai memperkeruh ruang diskusi publik di media sosial.

Solidaritas Digital “SEAblings”

Merespons situasi tersebut, warganet dari berbagai negara Asia Tenggara menggalang solidaritas digital dengan istilah “SEAblings”.

Istilah ini digunakan sebagai simbol dukungan antarpengguna untuk menolak komentar bernuansa rasis dan merendahkan. Tagar dan sebutan tersebut kerap muncul sebagai bentuk perlawanan kolektif terhadap perundungan berbasis identitas di ruang digital.

Dampak pada Relasi Fandom K-pop

Konflik ini turut berdampak pada relasi fandom K-pop di Asia Tenggara. Di satu sisi, kawasan ini dikenal sebagai salah satu basis penggemar terbesar budaya pop Korea, baik dari sisi konsumsi musik, konser, maupun aktivitas online.

Namun di sisi lain, interaksi lintas budaya di ruang digital memperlihatkan masih terbatasnya empati dan sensitivitas budaya. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi persepsi publik lintas negara di kalangan penggemar.

Dorongan Dialog yang Lebih Empatik

Sejumlah warganet dan pengamat media menilai, pendekatan dialog yang lebih empatik diperlukan agar perbedaan pandangan di ruang digital tidak berkembang menjadi konflik identitas. Literasi budaya dan etika berkomunikasi di media sosial juga dinilai penting untuk mencegah normalisasi perundungan lintas negara.

Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : Shinta Nurma Ababil
#rasisme #KNetz VS SEAblings #Nitizen #SEAblings #media sosial #SEAblings viral #SEAblings vs KNetz