25.3 C
Kediri
Saturday, January 28, 2023

Sabit Anak Perempuan, Ayah Dituntut Tujuh Bulan Penjara

- Advertisement -

NGASEM, JP Radar Kediri– Terdakwa Siwajianto, 57, dituntut hukuman pidana tujuh bulan penjara di Pengadilan Negeri (PN), kemarin (24/11). Pria asal Dusun Pule Selatan, Desa Pule, Kecamatan Kandat itu dinyatakan bersalah karena telah melakukan tindak kekerasan kepada putri kandungnya, Yustin Sri Wardani, 20.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Lusya Marhaen Drastiana diwakilkan oleh Moch Iskandar menuntut terdakwa dengan pasal 44 ayat 1 UU 23/2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. “Perbuatan terdakwa telah memenuhi unsur tindak pidana penghapusan kekerasan dalam rumah tangga,” kata jaksa yang kerap disapa Is tersebut.

Akibat perbuatannya, korban yang merupakan anak kandungnya mengalami luka. Hal tersebut menjadi pertimbangan yang memberatkan Siwajianto. Adapun yang meringankan, Iskandar menyebut bahwa terdakwa belum pernah dihukum.

Baca Juga :  Sedudo

“Selama persidangan terdakwa bersikap sopan. Dia juga sudah menyesali perbuatannya,” ungkap Iskandar. Dan yang paling penting adalah korban telah memaafkan terdakwa dan berjanji tidak akan mengulangi lagi.

Usai membacakan tuntutannya Ketua Majelis Hakim Quraisyiyah mempersilakan terdakwa untuk menanggapi tuntutan yang disampaikan JPU. “Bagaimana terdakwa, apa ada yang disampaikan ?” tanya hakim perempuan itu kepada Siwajianto.

- Advertisement -

Terdakwa mengaku tidak keberatan dengan tuntutan dari JPU. Ketua Majelis Hakim Quraisyiyah lalu menunda persidangan dan dilanjutkan pada Kamis (1/12) dengan agenda pembacaan putusan.

Untuk ditekatui, peristiwa nahas itu terjadi pada saat hari raya Idul Adha pada Juli lalu. Peristiwa yang terjadi di rumah Wijoanto itu bermula saat laki-laki yang sehari-hari bekerja sebagai petani ini sedang beristirahat di kamarnya.

Baca Juga :  Kasus Keracunan Membutuhkan Penanganan yang Cepat

Ia merasa terganggu dengan Yustin yang merengek ingin menyantap hidangan selain dari hasil kurban. Terdakwa yang kecapean habis kerja memintaYustin diam.

Permintaan Siwjianto tak diindahkan ooleh putrinya. Ia kemudian kalap. Memukul bagian pipi, leher, dan kaki sebelah kiri hingga dada sebelah kanan dan punggung. Tindakan yang tidak terkontrol itu menyebabkan Siwijianto nyaris membuat nyawa putrinya melayang. Ia menyabet sabit yang berada di dekat tempat tidurnya kemudian mengenai leher putrinya. Beruntung nyawa Yustin selamat meski mengalami luka robek satu sentimeter.






Reporter: Habibaham Anisa Muktiara
- Advertisement -

NGASEM, JP Radar Kediri– Terdakwa Siwajianto, 57, dituntut hukuman pidana tujuh bulan penjara di Pengadilan Negeri (PN), kemarin (24/11). Pria asal Dusun Pule Selatan, Desa Pule, Kecamatan Kandat itu dinyatakan bersalah karena telah melakukan tindak kekerasan kepada putri kandungnya, Yustin Sri Wardani, 20.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Lusya Marhaen Drastiana diwakilkan oleh Moch Iskandar menuntut terdakwa dengan pasal 44 ayat 1 UU 23/2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. “Perbuatan terdakwa telah memenuhi unsur tindak pidana penghapusan kekerasan dalam rumah tangga,” kata jaksa yang kerap disapa Is tersebut.

Akibat perbuatannya, korban yang merupakan anak kandungnya mengalami luka. Hal tersebut menjadi pertimbangan yang memberatkan Siwajianto. Adapun yang meringankan, Iskandar menyebut bahwa terdakwa belum pernah dihukum.

Baca Juga :  Kebakaran di Banyakan: Uang Rp 3 Juta dan Perhiasan Hangus

“Selama persidangan terdakwa bersikap sopan. Dia juga sudah menyesali perbuatannya,” ungkap Iskandar. Dan yang paling penting adalah korban telah memaafkan terdakwa dan berjanji tidak akan mengulangi lagi.

Usai membacakan tuntutannya Ketua Majelis Hakim Quraisyiyah mempersilakan terdakwa untuk menanggapi tuntutan yang disampaikan JPU. “Bagaimana terdakwa, apa ada yang disampaikan ?” tanya hakim perempuan itu kepada Siwajianto.

Terdakwa mengaku tidak keberatan dengan tuntutan dari JPU. Ketua Majelis Hakim Quraisyiyah lalu menunda persidangan dan dilanjutkan pada Kamis (1/12) dengan agenda pembacaan putusan.

Untuk ditekatui, peristiwa nahas itu terjadi pada saat hari raya Idul Adha pada Juli lalu. Peristiwa yang terjadi di rumah Wijoanto itu bermula saat laki-laki yang sehari-hari bekerja sebagai petani ini sedang beristirahat di kamarnya.

Baca Juga :  Sedudo

Ia merasa terganggu dengan Yustin yang merengek ingin menyantap hidangan selain dari hasil kurban. Terdakwa yang kecapean habis kerja memintaYustin diam.

Permintaan Siwjianto tak diindahkan ooleh putrinya. Ia kemudian kalap. Memukul bagian pipi, leher, dan kaki sebelah kiri hingga dada sebelah kanan dan punggung. Tindakan yang tidak terkontrol itu menyebabkan Siwijianto nyaris membuat nyawa putrinya melayang. Ia menyabet sabit yang berada di dekat tempat tidurnya kemudian mengenai leher putrinya. Beruntung nyawa Yustin selamat meski mengalami luka robek satu sentimeter.






Reporter: Habibaham Anisa Muktiara

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/