Selasa, 26 Oct 2021
Radar Kediri
Home / Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Pilih Cerai setelah Anak Lahir

Suami Tidak Bekerja, Setiap Hari Bertengkar 

13 Oktober 2021, 11: 54: 07 WIB | editor : Adi Nugroho

Pilih Cerai setelah Anak Lahir

Kasus Perceraian di Kota Angin (Radar Kediri)

Share this      

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Pernikahan dini karena hamil duluan ternyata menimbulkan persoalan baru di kemudian hari. Berdasarkan data di Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Nganjuk, ratusan pasangan suami istri (pasutri) yang melakukan pernikahan dini tidak bisa awet berumah tangga. Banyak persoalan yang dihadapi pasutri belia itu. Persoalan pertama adalah cekcok karena alasan ekonomi. Tidak memiliki pekerjaan membuat pasutri ini bingung memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi, mereka memiliki anak. Akibatnya, mereka mengajukan perceraian ke Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Nganjuk. “Banyak yang memilih bercerai setelah anaknya lahir karena masalah ekonomi,” ujar Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Nganjuk Abdul Hakim SAg SH MH melalui Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Kabupaten Nganjuk M. Nafi’ SH MHI kemarin.

Selain persoalan ekonomi, pasutri yang seharusnya masih duduk di bangku sekolah ini memutuskan bercerai karena berbagai alasan. Mulai dari selingkuh atau zina, kekerasan dalam rumah tangga (KDR), pertengkaran terus menerus, hingga ditinggalkan pasangannya. “Kondisi mental pasutri belia itu memang belum siap untuk berumah tangga,” ujar Nafi’.

Sebenarnya, berdasarkan Pasal 7 ayat 1 Undang-Undang Nomor 16/2019 tentang Perkawinan disebutkan perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun. Namun, di Kota Angin, sejak Maret 2020 hingga Desember 2021 ada 597 pengajuan dispensasi kawin ke PA Kabupaten Nganjuk. Mereka meminta bisa menikah karena sudah hamil duluan. “Dispensasi kawin ini terpaksa diberikan karena hamil duluan,” ujar pria asal Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri.

Baca juga: Warga Mojoroto Temu Mayat Tinggal Tulang 

Sedangkan, berdasarkan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), usia ideal pernikahan adalah laki-laki 25 tahun dan perempuan 20 tahun. Sehingga, harusnya remaja di Kota Angin bisa menahan diri dan tidak melakukan pergaulan bebas.

Sementara itu, Lu, 16, warga Kertosono, Kabupaten Nganjuk mengaku memilih mengajukan gugatan cerai setelah melahirkan. Karena setelah berumah tangga sekitar satu tahun, banyak persoalan yang dihadapinya. Mulai dari kesulitan ekonomi karena suami tidak bekerja hingga repotnya mengurus bayi. “Sering bertengkar jadinya setiap hari,” ujarnya.

Lu mengatakan, meski awalnya orang tua bersedia membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari tetapi akhirnya suaminya yang belum bekerja karena masih remaja tetap menjadi persoalan. Sebab, saat dia dan anaknya ingin membeli sesuatu tidak bisa dipenuhi oleh suaminya. “Suami saya juga jadi marah-marah setiap hari,” ujarnya.

Lu berharap, apa yang dialaminya tidak ditiru remaja di Kota Angin. Pacaran saat masih sekolah adalah hal yang tidak tepat. Karena jika kebablasan akan menjadi persoalan. “Lebih baik fokus sekolah saja. Cukup saya saja yang mengalaminya,” ujarnya.

(rk/tar/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia