Sabtu, 28 May 2022
Radar Kediri
Home / Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal
Biyuh-Biyuh

Dibui karena Pakai HP Orang

13 Mei 2022, 12: 23: 47 WIB | editor : Adi Nugroho

Dibui karena Pakai HP Orang

Biyuh - Biyuh ... (Ilustrasi: Afrizal Saiful Mahbub - Radar Kediri)

Share this      

Boscu harus merasakan dinginnya jeruji besi. Dia sangat bersedih. Setiap malam menangis. Pagi dan siang tak doyan makan. Penjara baginya suatu hal yang sangat tidak nyaman. Padahal, sebelumnya, Boscu ini bisa tidur nyenyak dan makan enak. “Rasanya seperti di neraka hidup di penjara itu,” ujar Boscu.

Sebenarnya, Boscu sama sekali tidak menduga jika ulahnya akan berbuah hukuman penjara. Karena saat menemukan handphone yang tertinggal di mesin ATM, Kecamatan Sukomoro, Boscu sempat ragu. Saat itu, dia mendapat dua bisikan. Yang pertama adalah bisikan untuk mengembalikan handphone itu ke pemiliknya. Caranya sangat mudah. Yaitu, menunggu pemiliknya menghubungi dan menyerahkannya atau menyerahkan ke Polsek Sukomoro agar dikembalikan ke pemiliknya. Sedangkan, bisikan kedua adalah mengambil handphone tersebut. Agar pemilik tidak bisa menghubungi, nomor handphone pemilik HP dibuang. Diganti dengan nomor handphone baru. Aman.

Sayang beribu sayang. Bisikan jahat itu yang didengar Boscu. Dia mengambil dan mengganti nomor handphone. Beruntung, kecanggihan teknologi akhirnya bisa melacak keberadaan handphone tersebut. Saat pemilik memutuskan lapor polisi, petugas segera melacak.

Baca juga: Bambang Sarwa Sembada Selewengkan APBDes Kras Rp 0,5 Miliar?

Tak butuh waktu lama, saat Boscu berada di Kecamatan Nganjuk, polisi segera menyergapnya. Meski berusaha mengelak tetapi Boscu tak berkutik saat dikroscek dengan pemilik HP. Langsung saja, Boscu ngandang. “Menyesal sekali rasanya,” ujar Boscu.

Nasi sudah menjadi bubur. Otomatis, tidak bisa lagi menjadi nasi. Bahkan, tak mungkin juga jadi beras. Saat ini yang ada hanya kata-kata penyesalan. Jika waktu bisa diputar, Boscu ingin tidak ke ATM di hari itu. Sehingga, bisikan jahat tidak muncul. “Saya akui khilaf,” ujarnya.

Saat ini, Boscu hanya berharap, vonis majelis hakim tidak berat. Dia ingin segera menghirup udara bebas. Karena sehari dipenjara rasanya seperti 10 tahun. “Tidak bisa ke mana-mana. Bosan sekali,” keluhnya.

(rk/tar/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia