Sabtu, 28 May 2022
Radar Kediri
Home / Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Pegatan gara-gara Pindang Asin

02 Desember 2021, 10: 54: 10 WIB | editor : Adi Nugroho

Pegatan gara-gara Pindang Asin

Share this      

Di mata keluarga Sudrun, Mbok Ndewor punya polah yang kebangeten. Ora nalar. Bagaimana tidak, sudah menumpang di ‘pondok mertua permai’ eh masih pula bersikap medit. Soal makan saja sudah membeda-bedakan. Yang untuk dirinya dan sang suami dipilih lawuh yang enak-enak. Sedangkan bagian mertua dan iparnya hanya berlauk tempe-tahu saja.

Sudah begitu, Mbok Ndewor masih mentang-mentang. Dia tak terima ketika soal itu diundat-undat. Ujung-ujungnya, dia pun berani menantang cerai dari Sudrun, suaminya. Padahal, Sudrun tergolong lelaki yang nriman dan tak mempermasalahkan sikap sang istri itu.

“Padahal saya sudah percaya pada dia. Menyerahkan seluruh gaji. Kok cik dia malah pelit pada wong omah. Itu yang saya sesalkan,” keluh Sudrun, sedikit meratapi sikap sang istri yang minta cerai itu.

Baca juga: Penjaga Konter HP di Mojoroto Divonis Tiga Tahun

Pegatan gara-gara Pindang Asin

(Ilustrasi : Afrizal Saiful Mahbub - radar kediri)

Usia perkawinan Sudrun-Mbok Ndewor memang masih seumur jagung. Baru tiga tahun melangsungkan pernikahan. Setelah ijab-kabul, pasangan ini masih tinggal di pondok mertua permai itu. Maklum, gaji Sudrun dari bekerja di pabrik rokok masih belum cukup untuk beli rumah sendiri.

Selama berumah tangga itu Sudrun juga tergolong suami yang ‘jinak’. Seluruh gajinya dia serahkan pada sang istri. Tugas mengelola pengeluaran diambil oleh Mbok Ndewor. Sebagai suami Sudrun percaya saja pada setiap tindakan istrinya.

Selain Sudrun dan Mbok Ndewor, di rumah itu juga tinggal sang ibu dan mbake Sudrun. Hanya, yang kerja Sudrun seorang.

Karena menjadi tulang punggu keluarga, Sudrun tak bisa leluasa. Semua penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan rumah. Bila ada sisa sedikit tentu akan ditabung. Setidaknya itulah pikiran Sudrun.

“Meskipun melu maratuwa keuangan kamu yang pegang. Ibu sudah maklum,” kata Sudrun kepada Mbok Ndewor yang manggut-manggut.

Di tahun-tahun awal tak muncul masalah. Meskipun harus membayar rekening listrik, air, dan belanja kebutuhan sehari-hari, mereka tak sampai ngutang. Mung, yang dikeluhkan mertua dan ipar Mbok Ndewor adalah medite. Tiap kali masak selalu ber-lawuh sederhana. Kalau gak tempe ya tahu. Atau, bila menyediakan lauk ikan laut yang dipilih yang harganya murah. “Paling-paling pindang indosiar,” keluh sang mertua, menggambarkan lauk ikan asin yang mirip lambang salah satu televisi nasional.

Mulanya, wong omah memaklumi hal itu. Tapi, suwe-suwe nelangsa juga. Ternyata, sang mertua ngonangi bila yang jatah lawuh sederhana hanya dia dan anaknya. Sedangkan Mbok Ndewor makan yang enak-enak.

“Dia sebenarnya beli lauk daging ayam atau sapi.  Tapi hanya untuk dia sendiri atau disimpan untuk saya. Sedangkan ibu dan adik hanya disisakan tahu tempe itu,” terang Sudrun.

Sekali dua kali, tindakan Mbok Ndewor masih dimaklumi. Tapi setelah kejadian itu berulang dan berulang, Sudrun tak enak hati dengan keluarganya. Apalagi ketika hal itu dikonfrontasikan pada Mbok Ndewor, dia mengelak.

Tak hanya itu saja yang bikin hati Sudrun gemas. Mbok Ndewor juga menyisakan uang belanja. Bukan disimpan untuk tabungan masa depan, tapi beli kebutuhan-kebutuhan diri sendiri. Seperti tiba-tiba beli baju bagus atau perhiasan mas-masan.

Akhirnya, suasana rumah jadi tak nyaman. Sayang, bukannya memperbaiki sikap, Mbok Ndewor justru milih minggat. Belakangan, melayang panggilan sidang dari Pengadilan Agama Kabupaten Kediri. Ternyata, Mbok Ndewor menggugat cerai sang suami.

“Karena tak ada jalan tengah yang cerai yang ditempuh,” akunya saat memenuhi panggilan pertama oleh PA kemarin. Oalah Ndewor….Ndewor. wong masalah ngono ae kok ya njaluk pegat. (ica/fud)

(rk/rq/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia