Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Hollo Bis Sound Horeg Baris

M
Penulis: Mahfud❯
Ilustrasi sound horeg wayang
Ilustrasi sound horeg wayang

Para wayang neng Tumaritis pada baris. Ngadek di pinggir sepanjang jalan sing sudah penuh lubang. Senggatan srengenge sore sudah tak dirasa lagi. Menunggu barisan truk penuh sound system yang sebentar lagi lewat.


Advertisement

Sing gawa wayang cilik umek dengan tingkah para krucilnya. Berusaha mencegah mereka jajan semaunya.

“Hoiiii, aja tuku kuwi!” sergah Yu Durgandini, sontak ketika ndeleng krucile mendekat neng bakul othok-othok.

Neng bagian lain, Yu Amba juga direpotkan ulah krucilnya yang berambut keriting, kruwel-kruwel. Berlarian berusaha mencegah masuk ke jalanan utama. Wedi si wayang cilik nanti kelindes ban truk sing gedene sak hohah.

Advertisement

Suasana kian riuh ketika rombongan sound horeg kuwi datang. Berbaris, yang jumlahnya ora bisa dihitung oleh anake Cakil. Suarane jedar-jedor memekakkan telinga. Memainkan lagu dangdut koplo yang berbasis disco remix alias house music.

Di atas truk kuwi, di sela tumpukan sound system sing gede-gede, ana para wayang wadon jogat-joget. Meliuk seksi. Persis kayak neng diskotik.

Sing nonton kian histeris. Ikut joget, ikut mendem. Teriakan lan sorakan wis kalah dengan dentuman sound sing meraung-raung, seperti suarane para buto neng jero alas. Bedane, sing iki marai wong mendem, lupa daratan.

Advertisement

Tiba-tiba, mak mbedunduk, serombongan wayang muncul. Kali ini gawa pentung. Berteriak agar pawai truk musik kuwi mandeg.
“Hoiiii, omahku horeg!” teriak mereka.

“Kaca omahku mletek,” sahut yang lain.
“Tembok omahku retak!” susul wayang lain.

Suasana pun tak lagi terkendali. Kisruh, ruwet, umek. Wayang sing dadi panitia, bagian keamanan, berusaha mencegah. Emosi pun membuncah dari kedua kubu. Adu mulut, adu argumen, berakhir adu jotos.

“Kowe aja ngisruh,” teriak wayang panitia.

“Kowe sing ora duwe tata krama,” sahut wayang sing protes.

Akhire, para wayang sing ndelok pada semburat, pada ngalih. Ganti sing teka para satriya wayang, para penggawa keamanan. Mbubarne acara sing sejatine belum waktunya usai.

Dari jauh, Togog dan Mbilung asyik mengamati. Saka pelatarane padepokane Ki Lurah Badranaya. Sambil nyeruput kopi nasgithel-panas legi tur kenthel-nya.

“Wayang zaman saiki pada seneng sing aneh-aneh ya Kang,” ujar Mbilung.

“Hooh Lung, seneng gawe sak senenge dewe. Aturane ditata supaya bisa memuaskan kesenangane,” sahut Togog.

“Sarwa berlebihan,” timpal Mbilung.

“Ora sak pantese, pingine serba di luar kenormalan, murka,” Mbilung masih  melanjutkan.

“Mangka semana, terlalu utawa berlebihan kuwi ora apik. Mung memberi jalan bagi nafsu serakah dan rasa tamak. Yen nurut agama, sing kebablasan kuwi ora apik. Ukume bisa haram.”

Ada suara berat nan bijak yang muncul. Dari mulut Ki Lurah Badranaya, wayang sing dadi pandita neng Tumaritis. Sing waskita lan bijaksana.

“Inggih Ki Lurah. Seandainya saja mereka semua sama-sama mengert batas,” ucap Togog, ngamini omongane Ki Lurah Badranaya.

Sedangkan Mbilung mung manthuk-manthuk. Sambil matane terus melihat suasana di kejauhan. Sisa dari keriuhan dan kericuhan. Yang terjadi karena nafsu kesenangan yang tidak bisa dikekang. (*)

Advertisement

Artikel Terkait

Dipicu Kisruh Sound Horeg, Ratusan Warga Ngadiluwih Geruduk Rumah Oknum LSM Kediri

Dipicu Kisruh Sound Horeg, Ratusan Warga Ngadiluwih Geruduk Rumah Oknum LSM Kediri

Aksi tersebut buntut dari provokasi dan pemberitaan yang dinilai tidak kredibel terkait acara Blar-Blar Mega Karnaval yang digelar pada Jumat-Sabtu lalu.

Perayaan Pawai Horeg Agustusan di Kediri Bablas sampai November, ini Penjelasannya

Perayaan Pawai Horeg Agustusan di Kediri Bablas sampai November, ini Penjelasannya

Untuk ketertiban penyelenggaraan, satgas akan membubarkan acara yang tidak berizin. 

Lipsus: Mengeluh Ekonomi Sulit, Mengapa Warga Rela Patungan demi Sound Horeg? (2) Ini Kata Sosiolog!

Lipsus: Mengeluh Ekonomi Sulit, Mengapa Warga Rela Patungan demi Sound Horeg? (2) Ini Kata Sosiolog!

Fenomena sound horeg di tengah masyarakat desa tak semata-mata berkaitan dengan selera hiburan. Di balik suara musik yang menggelegar, ada fenomena sosial

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer