Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Para Relawan Penjaga Perlintasan Kereta Api Tanpa Palang Pintu yang Tetap ‘Bertugas’ saat Lebaran: Sempatkan Terima Tamu bila Tak Ada Kereta Melintas

Emilia Susanti • Rabu, 25 Maret 2026 | 17:30 WIB

Bejo, penjaga perlintasan kereta api di Dusun Pesantren, Desa Janti, Kecamatan Papar.
Bejo, penjaga perlintasan kereta api di Dusun Pesantren, Desa Janti, Kecamatan Papar.

Tak semua orang bisa berkumpul dengan keluarga saat momentum Lebaran seperti sekarang ini. Ada orang-orang yang harus tetap bekerja. Salah satunya adalah relawan penjaga perlintasan kereta api tanpa palang pintu.

EMILIA SUSANTI, Kabupaten, JP Radar Kediri

Setidaknya, ada dua perlintasan kereta api tanpa palang pintu di Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri. Salah satu lokasinya ada di Dusun Pesantren, Desa Janti. Karena tak ada palang pintunya, tentu saja ada warga yang berjaga-jaga.

Sang penjaga perlintasan itu hanya satu orang. Dia memakai rompi berwarna hijau terang. Warna yang cukup menyilaukan mata.

Tapi harusnya memang begitu. Agar siapapun yang melintas bisa melihatnya. Pasalnya, dia memang punya peran penting untuk keselamatan masyarakat saat kereta melintas.

“Saya Bejo. Be, E, Je, O,” katanya saat memperkenalkan diri sembari mengeja namanya.

Selanjutnya, dia membuka kantong belanja berwarna kuning yang digantungkan di gubuk kecilnya.

Menyodorkan kertas berukuran A3 yang sudah dilaminating. Itu adalah informasi mengenai jadwal kereta api saat melintas di perlintasan yang dijaganya.

Setelahnya, dia kembali menunjukkan kertas berukuran A4 yang juga dilaminating. Katanya, itu adalah jadwal ekstra kereta api yang melintas di momen Lebaran.

Jadwal itu berlaku pada 13 sampai 30 Maret. Jadwal itu pun mengartikan bahwa beban tugasnya bertambah. Yakni menjadi lebih sering mengatur lalu-lalang warga yang melintas di persilangan.

“Lebaran yang tetap jaga. Tapi ini shift,” ujarnya dengan buru-buru menjelaskan bahwa dirinya tidak sendirian dalam menjaga perlintasan kereta api itu.

Ya, penjagaan di perlintasan tersebut memang menerapkan sistem shift. Nah, shift pertama dimulai pukul 06.00 WIB, lanjut shift kedua di pukul 14.00 WIB, dan shift ketiga di pukul 22.00 WIB. Shift itu dilakoni oleh tiga warga di dusun tersebut. Dan Bejo salah satunya.

Bejo mengambil shift pada siang hari di Lebaran pertama. Lalu, hari berikutnya, dia berjaga di pagi hari. Baginya, jadwal itu tidak menjadi masalah.

“Ibadah itu kan banyak caranya. Ini (jaga perlintasan untuk keselamatan, Red) juga ibadah,” katanya untuk meyakinkan bahwa dirinya tidak keberatan jika harus berjaga di hari Lebaran.

Apalagi, rumahnya memang dekat dengan perlintasa kereta api. Kurang lebih berjarak 50 meter.

Saat ada sanak saudara datang, dirinya akan menyempatkan untuk menemui. Asalkan tidak berdekatan dengan jadwal kereta melintas.

“Ya nanti biasanya dipanggil sama orang rumah. Kalau jadwalnya masih lama ya ditinggal dulu sebentar, terus ke sini lagi. Kalau udah dekat ya nggak berani,” jelasnya.

Di sisi lain, pria berusia 53 tahun itu juga telah terbiasa dengan pekerjaannya tersebut. Pasalnya, dia melakoninya selama kurang lebih lima tahun ke belakang. Sehingga, rutinitas itu bukan menjadi masalah serius baginya.

Sementara, Yaseni, 74, juga memiliki cerita serupa. Lansia asal Kecamatan Purwoasri itu menjaga perlintasan kereta api yang berlokasi di dusun dan desa yang sama dengan Bejo. Jaraknya sekitar 500 meter.

“Saya khusus Lebaran aja,” ujar Yaseni. Sehari-hari, pria ini adalah pekerja lepas di PT KAI. Kesehariannya adalah merapikan rumput di sekitar rel kereta api.

Setiap tahun, dirinya mengaku mendapatkan tawaran untuk menjaga perlintasan kereta api yang berada di dusun tersebut.

Dengan tugas tambahan itu, dia akan mendapatkan tambahan penghasilan. Jumlah yang menurutnya memang sayang untuk dilewatkan. “Ya untuk tambahan,” jelasnya singkat.

Yaseni hanya melakukan penjagaan mulai 13 hingga 30 Maret saja. Dan jadwalnya tersebut pagi hingga siang. Setelahnya, perlintasan akan dijaga oleh warga sekitar secara bergantian. Dengan sistem shift yang sama seperti di tempat Bejo.

Terlepas dari itu, apakah keluarga Yaseni tak protes? “Ya saya kasih penjelasan dulu,” tandasnya sembari menyebut semua anak-anaknya telah mengerti dengan pekerjaannya tersebut. (fud)

Editor : Andhika Attar Anindita
#relawan perlintasan kereta #Penjaga perlintasan kereta #Penjaga Perlintasan Kereta Api #lebaran #relawan perlintasan kereta api #bekerja di hari libur nasional #hari raya idul fitri