KEDIRI, JP Radar Kediri - Pria ini jadi bagian dari sejarah Persik menjadi juara Liga Indonesia. Malang-melintang di jagad sepak bola tanah air. Ujungnya, kembali mengabdi di desa tempat kelahirannya, menjadi perangkat desa.
Pagi itu, di Kantor Desa Menang, Kecamatan Pagu, suasananya masih tenang. Belum banyak aktivitas pelayanan. Warga yang hendak meminta layanan pun belum ada yang datang. Hanya perangkat desa yang duduk di kursinya masing-masing. Mengerjakan tugas harian, sambil menunggu bila ada warga desa yang memerlukan bantuan.
Salah satunya adalah Agus Susanto. Pria yang menjabat kepala urusan (kaur) perencanaan ini duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu. Kursi yang biasa menjadi tempat warga ataupun tamu menunggu bila ada keperluan.
“Dulu pulang ke rumah sebulan sekali, membaurnya dengan para atlet. Sekarang kembali ke desa. Setiap hari membaur dengan warga di sini,” cerita sang perangkat.
Agus sengaja memulai obrolan dengan cerita seperti itu. Menggambarkan bagaimana dirinya dahulu yang memang seorang atlet sepak bola profesional.
Kehidupan sepak bola Agus bermula di kelas 3 SMP. Ketika dia lolos seleksi Persedikab Junior. Talentanya yang oke membuatnya terpilih menjadi pemain Persedikab senior. Saat itu, 2002, klub perserikatan dari Kabupaten Kediri ini berlaga di Liga Indonesia divisi utama.
“Awal jadi pemain sepak bola karena hobi dan minat dari kecil. Dulu SSB (sekolah sepak bola, Red) tidak sebanyak sekarang,” cerita pemain yang berposisi sebagai gelandang serang ini.
“Di Kediri hanya ada satu saja,” lanjutnya.
Sekolah sepak bola yang diikuti Agus berada di Desa Doko, Kecamatan Ngasem. Menurut Agus, saat itu semua anak membayar agar bisa bergabung dengan SSB.
“Saya justru dibayari,” kenang Agus, sambil tersenyum.
Dia kemudian mengingat-ingat, berapa bayaran yang dia terima ketika ikut salah satu kejuaraan sepak bola di tingkat SSB. Saat itu dia mendapat honor Rp 25 ribu.
“Nilai segitu sudah sangat besar saat itu,” ujarnya bangga.
Memang, motivasinya menjadi pemain sepak bola adalah mencari penghasilan. Bisa mengangkat derajat keluarganya. Karena itu dia pun rajin berlatih di sela-sela kegiatannya sekolah.
Sebenarnya, ketika terpilih jadi pemain Persedikab, latihan berlangsung pagi dan sore. Namun, Agus memilih hanya sore hari. Agar paginya bisa dia gunakan untuk bersekolah. Bila ada pertandingan dia sering mengambil dispensasi. Bahkan sampai harus mengikuti ujian susulan sendiri.
Lahir dari keluarga sederhana, Agus pun terlatih mandiri. Mengurus segala sesuatunya sendiri.
“Ibuku dulu jualan rujak di pinggir jalan. Jadi ikut apa-apa gitu sendiri. Biaya paling untuk sepatu. Sepatu kadang dikasih senior-senior seperti Suprayitno, ya sepatu kebesaran-kebesaran gitu. Yang penting main dulu, celana juga dikasih kalau kebesaran ya dulu dijahit sendiri,” kenangnya, kali ini sambil tertawa lebar.
Saat itu Agus adalah pemain paling muda di skuad berjuluk Bledug Kelud itu. Orang-orang yang awalnya menjadi seniornya kemudian menjadi rekan satu tim.
Seiring redupnya prestasi Persedikab, Agus mencoba peruntungan di klub lain. Dia pernah memperkuat klub dari Pulau Dewata, yaitu ke Perseden Denpasar. Dua musim lamanya dia menjadi bagian tim ini, 2004 hingga 2005.
Tim tersebut menjadi favoritnya karena di saat itu banyak berisi pemain-pemain top tanah air. Seperti Yeyen Tumena dan Paulus Krey, yang merupakan pemain timnas saat itu.
Dari Denpasar, dia kembali ke Kediri. Kali ini bergabung dengan Persik Kediri. Klub perserikatan dari Kota Kediri yang mencetak sejarah dengan menjadi juara pada musim 2003. Selama dua musim dia bergabung dan sempat merasakan gelar juara pada 2006. Perjalanannya lalu berlanjut ke Persikabo Bogor, kembali ke Persik lagi, Madiun, dan yang terakhir adalah Persenga Nganjuk.
“Dulu di Persik setelah juara Liga pernah ditawari menjadi pegawai pemerintah, pernah ditawari juga main di PS AL namun tidak saya terima,” ungkapnya.
Prestasi terbesar menurutnya adalah saat di Denpasar, di mana ia pernah dipanggil Timnas untuk mengikuti pertandingan di SEA Games. Saat ini, teman-teman seangkatannya sudah pada pensiun atau menjadi pelatih.
Ayah dua anak tersebut sebenarnya sangat menginginkan anak-anaknya mengikuti jejaknya menjadi atlet sepak bola, namun mereka memiliki minat yang berbeda. “Ya inginnya jadi pemain bola juga, tapi kalau tidak mau ya saya tidak bisa memaksa,” jelasnya.
Ia mengatakan bahwa ia bisa membangun rumah itu karena sepak bola. Dia pun sempat kangen dengan kehidupan atlet. Di awal jadi perangkat desa, dia merasakan ada ketimpangan kegiatan.
Selain itu, gaji yang dia dapatkan tentunya berbeda. Jika dulu dalam satu bulan ia bisa mendapat lebih dari Rp 20 juta. Nilai yang tidak bisa dia dapatkan saat ini sebagai perangkat desa.
Namun ia merasa saat ini berkumpul dengan warga desa saja sudah senang, ditambah dengan rekan-rekan di kantor desa yang kompak dan saling dukung.
“Senangnya itu sekarang bisa berkumpul dengan warga, dengan teman-teman perangkat ini yang selalu kompak dan kekeluargaannya juga kental,” ungkapnya.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian