Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Keren! Sinden Aviathun Nisak Buktikan Jadi Budayawan Tak Harus Kuno, Begini Caranya Pikat Gen Z Lewat Medsos

Diana Yunita Sari • Minggu, 25 Januari 2026 | 06:13 WIB
Aviathun Nisak, sinden Gen-Z yang konsisten kenalkan budaya (Diana Yunita Sari)
Aviathun Nisak, sinden Gen-Z yang konsisten kenalkan budaya (Diana Yunita Sari)

JP Radar Kediri - Menjadi pesinden dan penyanyi campur sari, Aviathun Nisak punya cara tersendiri untuk mengajak Generasi Z (Gen-Z) mencintai budaya Jawa. Alih-alih membuat buku atau blusukan ke sekolah, dia mengenalkan dunia sinden lewat konten-konten di media sosial. Gadis yang akrab disapa Avi ini mengaku bahagia saat orang terinspirasi dan menyukai tembang Jawa setelah melihat videonya.

Duduk di deretan kursi Memorial Park, Jl PK Bangsa Kota Kediri, pada Senin (12/1) sore lalu, dandanan Aviathun Nisak berbeda dari remaja kebanyakan. Saat gadis-gadis seusianya memilih tampilan modis dan kekinian, dia memilih memakai sanggul. Riasan wajahnya juga tebal, berbeda dengan tren riasan natural yang digemari banyak anak muda.

Melengkapi sanggul tradisional di rambutnya, gadis yang akrab disapa Avi itu juga memakai kebaya. Memakai outfit yang antimainstream, gadis asal Kelurahan Blabak, Pesantren itu terlihat percaya diri. “Memang ini tadi konsepnya mau foto beauty. Tapi sehari-hari saya memang sering pakai sanggul,” ungkap Avi tentang pilihan outfit dan riasannya.

Menjadi pesinden, gadis berusia 24 tahun ini memang akrab dengan sanggul, riasan tebal, kebaya, dan jarik. Tak heran jika dia memiliki banyak model kebaya yang bisa dipilih menyesuaikan tema yang diinginkannya. Dan, dia pun tetap merasa nyaman memakainya.

“Saya mulai belajar vokal sejak kelas 3 SD. Sama ibu diikutkan ke perkumpulan karawitan. Waktu itu anggotanya ibu-ibu dan bapak-bapak semua,” kenangnya.

Menjadi satu-satunya anak kecil di grup karawitan kelurahannya, tak ayal Avi sempat merasa terpaksa mengikutinya. Apalagi, saat teman-temannya asyik bermain, dia harus menghabiskan

Meski sudah menguasai banyak lagu, awalnya Avi juga malu untuk pentas. Lagi-lagi, sang ibu yang menjadi penyemangatnya. “Kalau ada hajatan atau electone, ibu selalu minta saya untuk nyanyi,” lanjutnya.

Jika awalnya malu-malu, Avi yang terbiasa menyanyi tembang-tembang Jawa di panggung menjadi semakin percaya diri. Dia pun lantas menyadari jika dunianya memang di panggung. Menyanyikan tembang-tembang Jawa. Nyinden.

“Pertama nyinden di pagelaran wayang, saya dapat bayaran Rp 25 ribu,” kenangnya lagi tentang pengalaman pertamanya pentas bersama dalang dan pengrawit.

Setelah membuka jalan pertamanya, Avi pun sering diajak nyinden oleh para pesinden senior. Dia terbiasa pentas dengan sejumlah dalang Kediri. Termasuk dengan Ki Degleng Gondo Supono yang tak lain adalah ayah Niken Salindri.

Selain nyinden di pagelaran wayang, Avi juga sering diundang untuk menyanyi tembang Jawa di berbagai acara. Namanya semakin dikenal luas dari konten A Day in My Life di TikTok.

Lewat konten itu, anak tunggal tersebut membuat konten tentang pesinden, tutorial menyanggul, hingga tutorial make up. Dari konten-konten itu, pengikutinya jadi mengetahui dunia sinden. Mereka juga mengenal banyak tembang-tembang Jawa yang memang menarik dan enak untuk didengarkan.

“Rasanya senang sekali saat ada yang bilang konten saya itu menginspirasi mereka untuk mengenal sinden dan budaya Jawa,” aku gadis yang saat masih kuliah 2024 lalu juga biasa membawa laptop ke panggung untuk mengerjakan skripsi di sela waktu senggangnya itu.

Mendapat apresiasi di media sosial, Avi semakin bersemangat untuk membuat konten di medsos. Tidak hanya berisi kegiatan nyindennya. Dia berharap cara itu juga bisa membuat semakin banyak Gen-Z menyukai budaya Jawa. Menjadi penyeimbang K-Pop yang kini banyak digandrungi anak muda.

Dengan banyak manfaat positif itu, gadis berambut sebahu itu semakin mantap menyelami dunia sinden. Dia pun mengiyakan ajakan ibu Niken Salindri pada 2022 lalu yang mengajaknya bergabung ke grup campursari Mayangkara.

Praktis, selama empat tahun terakhir aktivitas nyindennya semakin padat. Dia banyak menerima job dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, suatu kali dia juga pernah nyinden di keluarga bule asal Jerman di Jombang. “Ternyata mereka menikmati. Senang sekali ternyata orang luar negeri bisa menikmati tembang Jawa,” paparnya.

Berbagai pengalaman yang didapat selama nyinden pun semakin memantapkan niatnya untuk terus menjadi pesinden. Apalagi, dari menyanyi tembang-tembang Jawa ini dia tidak hanya bisa berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia dan mendapat pengalaman baru.

Melainkan, dia juga bisa hidup mandiri dengan membiayai kuliahnya sendiri dari honor nyinden. Avi berbahagia karena sedikit banyak dia juga membagi honornya untuk keluarga.

Yang lebih penting lagi, baginya sinden bukan hanya sekadar pekerjaan. Melainkan juga jadi salah satu upaya untuk merawat budaya dan seni daerah. “Kalau bukan kita yang merawat dan bangga, nanti lama-lama budaya ini bisa hilang karena tidak lagi dikenal anak muda,” tuturnya.

Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel

Editor : rekian
#kediri #sosok inspiratif #campur sari #sinden #konten kreator #kesenian #wayang #kota kediri