Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengenal Juan Steven Susilo, Arkeolog di balik Tulisan Aksara Kuadrat di Jembatan Brawijaya Kediri

Ayu Ismawati • Rabu, 7 Januari 2026 | 07:00 WIB

 

IDENTITAS KEDIRI: Juan Steven Susilo, arkeolog yang mengkaji aksara kuadrat, usai mengunjungi Jembatan Brawijaya dengan wajah baru kemarin (6/1).
IDENTITAS KEDIRI: Juan Steven Susilo, arkeolog yang mengkaji aksara kuadrat, usai mengunjungi Jembatan Brawijaya dengan wajah baru kemarin (6/1).

Terbakarnya salah satu pilar Jembatan Brawijaya, ternyata, membawa sesuatu yang baru. Bukan sekadar perbaikan atau revitalisasi jembatan, melainkan juga ada ‘penampilan’ baru di pilar-pilarnya. Huruf yang jadi identitas Kediri tapi tak pernah diajarkan di sekolah.

 

AYU ISMA, Kota, JP Radar Kediri

 

Huruf-huruf itu sangatlah mencolok mata. Tak hanya bagi yang melintasi jembatan sepanjang 183 meter ini saja, juga yang menyaksikan dari jauh.

Terutama bagi pengendara yang berhenti di lampu merah Jalan Brawijaya, di timur jembatan. Mereka akan melihat ada ornamen baru di keempat pilar Jembatan Brawijaya yang baru kelar revitalisasi.

Setiap pilar jembatan dibagi lima bagian. Masing-masing berisi rangkaian kata. Paling atas adalah tulisan ‘Djojo ing Bojo’, yang merupakan semboyan Kota Kediri. Artinya, berjaya di atas marabahaya.

Bagian kedua, di bawahnya, ada tulisan ‘Jer Basuki Mawa Beya’. Ini adalah semboyan Provinsi Jawa Timur, yang berarti segala keberhasilan atau kesuksesan membutuhkan pengorbanan.

Setelah itu, di bawahnya, ada ‘Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa’. Tentu frasa ini sangat familiar, karena yang bagian pertama menjadi semboyan yang tertulis pada lambang negara, Garuda Pancasila.

Kata-kata yang diambil dari Kitab Sutasoma-karya Mpu Tantular-itu punya makna berbeda-beda namun satu, tak ada kebenaran yang mendua.

Terakhir, di bagian bawah, merupakan frasa yang punya makna besar bagi Kota Kediri. Memakan tak hanya satu bagian saja, melainkan dua kotak terakhir di bagian bawah pilar.

Kata-kata itu diambil dari Kakawin Nagarakertagama karya Mpu Prapanca. Bermakna tentang kejayaan peradaban Kediri di masa lalu.

Bait itu menyebut kata Daha, satu wilayah di Kerajaan Kediri, sebagai pusat peradaban strategis di masa kerajaan besar Nusantara.

Bunyi rangkaian tulisan itu adalah ‘Tara Graha Tekanan Nagara Sesaneka Mukhyan Daha’. Artinya, dalam hal perbintangan dan planet-planet, memang kota-kota lainnya di wilayah itu cukup banyak jumlahnya. Namun yang terpenting adalah kota Daha.

“Ini adalah salah satu cultural pride yang harus diangkat sebagai memori kolektif. Kalau ditanya Daha itu di mana, ya di Kediri. Melalui memori kolektif, masyarakat bisa terus mengingat itu,” ujar Juan Steven Susilo, arkeolog di balik ornamen Aksara Kuadrat di Jembatan Brawijaya.

Ya, semboyan-semboyan yang tertulis di pilar Jembatan Brawijaya itu memang berhuruf Kuadrat. Gaya penulisan yang muncul di era Jawa Kuno. Huruf ini identik dengan Kerajaan Kediri. Huruf-hurufnya berbentuk persegi, yang ditulis secara timbul.

Bagi kebanyakan orang, akan mengira tulisan di pilar jembatan tersebut adalah huruf Thailand atau aksara Thai. Sepintas, memang mirip. Meskipun jelas berbeda.

“Indonesia dulu kan nggak mengenal tulisan. Lalu Indianisasi (masa awal masuknya Hindu-Buddha, Red) masuk. Dari situ, mereka mengajari Dewanagari dan Pallawa. Cuma itu lebih gampang diucapkan kalau pakai bahasa Sansekerta. Sedangkan kalau pakai bahasa daerah mereka kesulitan. Akhirnya dibuat sistem sendiri, yaitu Aksara Kawi itu,” ungkap Juan, menjelaskan mengapa huruf-huruf itu mirip dengan aksara Thai.

Bahasa Kawi, yang meliputi Sumatera Kuno, Jawa Kuno, dan Bali Kuno itu lalu diadopsi dengan beberapa font atau rupa huruf yang berbeda.

Proses penyebaran budaya, agama, termasuk bahasa dari India ke wilayah luar India itu diyakini juga terjadi di beberapa wilayah Asia, termasuk Thailand.

Pengenalan sistem tulisan itulah yang menyebabkan ada unsur kesamaan rupa huruf di Thailand dan Jawa Kuno.

“Gagasan awalnya itu dari Pemkot Kediri yang ingin ada benang merah yang menghubungkan (Kediri) masa lalu dan masa sekarang. Kalau dilihat penempatannya di jembatan itu kan juga penghubung timur dan barat sungai dengan pemisah Sungai Brantas. Dan di masa lalu, Sungai Brantas juga punya peran strategis sebagai jalur transportasi,” urai pemuda kelahiran 1999 itu.

Di masa lalu—lanjut Juan—Kediri dikenal sebagai wilayah dengan peradaban yang sangat berkembang.

Tak hanya dari sisi perdagangan, melalui Aksara Kuadrat, Kerajaan Kediri juga memiliki sistem bahasanya sendiri. Menjadikan Kediri sebagai salah satu tonggak peradaban dengan sastranya yang juga berkembang.

“Dan bagaimana Kediri ini merupakan wilayah yang dikagumi, bahkan di era Majapahit sekalipun,” terang alumnus Universitas Udayana Bali itu.

Pesan itulah yang ingin diangkat sebagai salah satu memori kolektif yang menguatkan identitas Kediri.

Dilihat dari konteks masa kini, Juan mengatakan penempatan unsur sejarah lokal itu diharapkan bisa mendongkrak sektor pariwisata Kota Kediri.

Bahwa kejayaan kota Daha di masa lalu juga bisa jadi pesan bagi Kota Kediri di masa kini.

“Ini sinyal untuk, misal, masyarakat hingga industri kreatif agar bisa menangkap sinyal ini dan mengadaptasi di masa kini. Semisal mau jualan makanan-makanan lama, di Jawa Kuno banyak makanan dan minuman yang bisa dikembangkan sekarang,” terang Juan terkait upaya menghadirkan warisan budaya di kehidupan sehari-hari.

Juan mengungkapkan, dibutuhkan beberapa kali brainstorming hingga tercipta gagasan itu. Butuh enam kali pertemuan hingga disepakati desain yang kini terrealisasi di Jembatan Brawijaya.

Termasuk pemilihan tulisan-tulisan berbahasa Jawa Kuno yang dibubuhkan di pilar jembatan. Rangkaian tulisan yang dipilih jatuh kepada semboyan yang erat dengan identitas daerah hingga pesan-pesan yang layak diadopsi di masa kini.

“Seperti Bhineka Tunggal Ika, Kota Kediri kan juga dikenal sebagai salah satu daerah yang pluralisme agamanya tinggi. Maka dari itu ini dipakai sekaligus dimasukkan lengkapnya yang berbunyi tidak ada kebenaran yang mendua. Itu relate untuk pluralisme di Kota Kediri,” urai pemuda asal Kelurahan Balowerti, Kecamatan Kota itu.

Soal Aksara Kuadrat, diakui Juan banyak masyarakat yang masih asing. Itu karena bahasa Jawa Kuno memang tak banyak diajarkan di sekolah. Masyarakat pada umumnya lebih mengenal aksara Jawa modern seperti hanacaraka.

Meski kaidah penulisannya sama dengan aksara Jawa yang banyak dikenal masyarakat, namun susunan hurufnya berbeda. Jejak sejarah itulah yang berusaha dihadirkan dalam media desain ruang tersebut.

“Harapannya yang lewat (Jembatan Brawijaya) bisa lihat setiap hari dan bisa ikut bangga. Kami juga lengkapi lewat box informasi yang tersebar di sekitar jembatan,” pungkasnya. (fud)

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#jembatan brawijaya #jawa kuno #arsitektur #Desain ruang #arkeolog #aksara kuadrat