Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kisah Laskar Pengajar, Beri Les Gratisan bagi Bocah-Bocah di Kampung Pengamen

Diana Yunita Sari • Jumat, 19 Desember 2025 | 00:17 WIB
Anggota Laskar pengajar bersama anak-anak Dusun Duluran (Diana Yunita Sari)
Anggota Laskar pengajar bersama anak-anak Dusun Duluran (Diana Yunita Sari)

JP Radar Kediri - Mereka kumpulan pemuda yang belajar di Kampung Inggris. Meluangkan waktu demi membagi ilmu. Mengajar anak-anak di ‘Kampung Pengemis Pengamen’.

Tujuh pemuda seperti tak terusik dengan hujan deras yang mengguyur wilayah Pare di Minggu siang itu. Mereka tetap asyik dengan aktivitasnya. Di dalam musala yang berada di depan EECC, salah satu tempat kursus di Kampung Inggris.

Di musala itu dua cowok dan lima cewek itu saling berbagi tugas. Menunjuk apa saja yang harus dikerjakan di tempat tujuannya nanti. Mereka juga mengumpulkan donasi. Mulai dari bolpen, kertas HVS, hingga snack.

“Kami persiapan sebelum menuju Kampung Duluran,” ucap Ahmad Hilmi Yahya, salah seorang di antaranya.

Pria yang karib disapa Rocky itu adalah ketua dari kelompok itu. Nama kelompoknya adalah Laskar Pengajar. Satu  komunitas yang berisi relawan yang aktivitasnya memberi bimbingan belajar gratis. Target mereka adalah anak-anak di Dusun Duluran, Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, yang juga sering disebut dengan Kampung Pengemis dan Pengamen.

“Komunitas ini memang menyasar anak-anak di dusun tersebut. Yang menurut kami kurang mendapat perhatian dari sisi pendidikan,” ucap Rocky menyebut alasan kelompoknya memilih Kampung Pengamen sebagai sasaran aktivitas.

Hampir satu jam ketujuh pemuda ini mengikuti briefing. Ketika ada angkot warna abu-abu yang datang, diskusi mereka selesai. Kebetulan, hujan deras juga sudah berganti gerimis. Mereka segera menaiki angkot yang mereka carter itu.

Angkot itupun melaju menuju kampung yang dituju. Berjarak sekitar empat kilometer, perjalanan memakan waktu sekitar sepuluh menit.

“Kami sengaja mencarter angkot, karena kebanyakan anggota komunitas tak memiliki kendaraan pribadi,” terang Rocky.

Setibanya di Dusun Duluran, para relawan langsung disambut oleh anak-anak yang sudah menunggu. Mereka memang sudah tahu dengan jadwal Laskar Pengajar, di setiap Minggu siang hingga sore.

Belasan bocah itu tidak menunggu di kampung mereka. Melainkan ada di salah satu gazebo yang berada di Taman Wisata Sumber Wungu. Berjarak sekitar 100 meter dari Kampung Inggris. Hanya dipisah oleh pekuburan Tionghoa.

Begitu datangm para relawan langsung mengajar. Namun, tidak selalu demikian. Kadang, mereka juga harus menuju Kampung Pengamen terlebih dulu.

“Kadang kalau belum banyak yang datang kami mendatangi ke rumah mereka satu per satu,” jelas pemuda berusia 26 tahun itu.

Dalam kegiatan belajar, Laskar Pengajar memang memanfaatkan gazebo-gazebo di lokasi wisata desa Sumber Wungu. Mereka bisa memanfaatkan karena gratis. Tak ada tiket masuk ke wisata sumber air yang dikelola desa tersebut.

Dua gazebo yang ada mereka manfaatkan semua. Mengajari para bocah itu sesuai tingkatan. Yang diajar bukan hanya bahasa Inggris. Melainkan juga pelajaran lain seperti berhitung dan membaca.

“Waktunya tergantung kondisi cuaca dan kehadiran anak-anak. Bila mulai jam satu siang hingga lima sore,” aku pengajar di EECC ini.

Namun, bukan berarti jam mengajar itu bisa mereka manfaatkan secara penuh. Sebab, seringkali ada gangguan yang datang. Yaitu bocah terpaksa pamit pulang karena tuntutan ‘pekerjaan’.

“Kadang belajar belum selesai ada yang pergi dulu. Mau ngamen katanya,” cerita pemuda asal Tuban ini, menggambarkan realita anak-anak binaannya.

Sebenarnya, anak-anak di Kampung Pengamen juga menempuh pendidikan formal, bersekolah. Tapi banyak di antara mereka yang juga diajak mengamen dan mengemis oleh keluarganya.

Untuk menjaga semangat belajar, para volunteer sering membawa makanan ringan. Snack itu mereka bagi setelah kegiatan belajar usai.

"Dibawakan snack agar lebih semangatlah. Hasil uang pribadi dan iuran volunteer yang hadir," ungkap Giani, relawan lain.

Nia, volunteer lainnya yang asal Kepung menambahkan, ia aktif mengikuti kegiatan ini untuk mengisi waktu luang. "Kegiatannya positif dan bermanfaat untuk mengisi kesibukan saat libur," akunya.

Laskar Pelajar adalah komunitas yang berisi mereka yang belajar di Kampung Inggris. Kelompok relawan ini awalnya dibentuk oleh anak-anak muda asal Aceh yang kursus di Kampung Inggris. Mereka prihatin dengan kondisi anak-anak di Dusun Duluran yang dianggap kurang mendapat perhatian di bidang pendidikan.

Meskipun Laskar Pengajar telah berdiri sejak lama, tantangan utama selalu ada. Rocky mengakui bahwa tantangan utama adalah masalah pendanaan. Semua kegiatan yang dilakukan mereka tanggung sendiri biayanya. Mulai dari transportasi hingga media belajar. Seperti untuk berangkat saat itu, setiap anggota urunan Rp 10 ribu.

Menurut Rocky, yang menjadi ketua sejak 2022, jumlah anggotanya saat ini sekitar 20 orang. Mereka berasal dari anak-anak rantau yang sedang kursus, serta warga lokal di sekitar Pare

Editor : Mahfud
#kabupaten kediri #kediri #pare #komunitas pendidikan #kampung inggris #relawan pengajar #gedangsewu