Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Divonis Diabetes Sejak Kelas 4, Rere Tetap Raih Juara! Suntik Insulin 4 Kali Sehari Tak Hentikan Langkahnya

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Jumat, 20 Juni 2025 | 17:09 WIB
Regina Felicia Zahra, Bocah Penuh Prestasi yang Derita Diabetes Tipe 1 Setiap Usai Lomba Harus Segera Suntik Insulin
Regina Felicia Zahra, Bocah Penuh Prestasi yang Derita Diabetes Tipe 1 Setiap Usai Lomba Harus Segera Suntik Insulin

Usianya masih sangat belia, baru duduk di kelas 5 sekolah dasar. Di usia sekecil itu si anak harus berkutat dengan suntikan insulin, menderita penyakit diabetes. Hebatnya, prestasi akademis seperti melekat pada diri sang gadis kecil ini.

 

"Kalau terlalu beraktivitas (jadi) cepat capek," ucap gadis cilik ini dengan raut wajah tersaput sedikit rasa malu.

Bocah wanita itu adalah Regina Felicia Zahra. Biasa dipanggil Rere. Usianya baru 12 tahun. Duduk di kelas lima SD Negeri Kencong 2.

Agak malu-malu dia menceritakan tubuhnya yang mudah lelah. Akibat penyakit diabetes yang dideritanya selama ini. Penyakit yang menjadikan organ pankreasnya tak bisa mencukupi kebutuhan insulin.

“Karena itu porsi karbohidrat yang masuk ke tubuhnya harus dibatasi,” sambung sang ibu, Tianah, yang berada di sampingnya.

Setiap kali makan Rere tak bisa mengonsumsi nasi terlalu banyak. Cukup enam sendok setiap kali makan.

“(Makannya) tetap tiga kali sehari. Tapi takarannya hanya enam sendok,” sang ibu  melanjutkan menerangkan.

Bisakah makan sesedikit itu bisa memenuhi kebutuhan tenaganya? Tentu saja tidak. Karena itulah harus ditambah minum susu. Namun, harus yang tawar.

Kondisi seperti itu sudah diderita Rere sejak kelas 4. Penyebabnya, kemungkinan besar, karena senangnya dia jajanan makanan dan minuman manis. Seperti es teh cekek atau sejenisnya.

"Kata temannya, pagi gitu, baru datang langsung beli es," jelas sang ibunda lagi.

Rere ketahuan terkena diabetes tipe 1 ketika mengeluh sering lemas. Makan juga jadi sulit. Setelah itu sering mual dan muntah.

Si bocah kemudian diperiksakan ke klinik. Diobati, namun tidak ada perubahan. Sebab itulah dia kemudian dibawa ke rumah sakit, ke IHC RS Toeloengredjo, dulu HVA, Pare. Barulah ketahuan bila Rere mengidap diabetes. Kadar gula dalam darahnya mencapai 500 miligram per desiliter (mg/dl).

"Langsung shock, gak menyangka. Soalnya kakek, nenek, saya, dan bapaknya juga gak ada yang diabetes," jelas sang ibu, yang berusia 54 tahun itu.

Karena itulah, ada treathment  khusus untuk Rere. Mulai dari pola makannya yang harus dijaga, sampai jajannya juga diperhatikan.

Yang membanggakan, deritanya itu tak membuat keistimewaan Rere tereduksi. Dia tetap merupakan anak pintar dan cerdas. Di kelas selalu dapat peringkat. Beberapa kali juga ikut lomba maupun olimpiade pelajar.

"Baru beberapa waktu lalu juga masuk semifinal olimpiade matematika di Kabupaten Kediri," terang Dias Alwi, guru kelasnya.

Awal bulan ini, Rere juga baru saja menjuarai lomba menulis cerita tingkat kabupaten. Ajangnya adalah Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).

Dia dipilih mewakili sekolah juga karena prestasinya yang bagus.

"Daya tangkapnya cepat. Daya ingatnya juga kuat.  Ngerjain tugas itu juga cepat," puji sang guru kelas.

Namun, karena punya sakit diabetes, ada treathment  khusus yang dilakukan guru-gurunya. Terlebih ketika membimbing untuk persiapan lomba.

Misalnya ketika latihan, sang guru harus bisa memperhatikan kondisi fisik. Ketika terlihat lelah para guru harus peka.

"Saat capek kan kelihatan. Biasanya lemas. Diam saja dan pucat gitu. Jadi ya harus diperhatikan. Berhenti dulu," tambah Tiara Nur Fatma, guru pembimbing lomba.

"Kalau mau ngasih es atau jajan juga harus selektif. Karena kan gak bisa sembarangan," lanjut guru kelas III itu.

Rere yang merupakan anak terakhir itu harus disuntuk insulin empat kali sehari. Inilah yang harus pula dicermati sang guru. Ketika lomba 10 Juni lalu misalnya, usai lomba dia langsung disuntik insulin.

"Kemarin itu alat suntiknya ada dua macam," jelas Tiara.

Dari perjuangannya dan keuletannya itu, Rere bisa mendapatkan juara. Berikutnya, bulan depan, dia akan mewakili Kabupaten Kediri. Lomba sejenis tapi naik ke tingkat provinsi Jatim.

"Jangan pernah menyerah. Karena kegagalan adalah bagian dari kesuksesan,” ucapnya. Pesan sekaligus penyemangat agar terus berprestasi bagaimanapun kondisinya. (fud)

Editor : Jauhar Yohanis
#siswa berprestasi #LOMBA SENI DAN SASTRA NASIONAL #diabetes anak