KEDIRI, JP Radar Kediri- Meski sudah memasuki September, kemeriahan perayaan kemerdekaan masih terasa.
Seperti yang ada di Desa Sambiresik, Kecamatan Gampengrejo. Untuk meningkatkan kekompakan, pemdes mengadakan karnaval.
Warga Desa Sambiresik sangat kompak dalam mengikuti karnaval. Mereka juga terlihat sangat kreatif. Terbukti dari beberapa tema yang ditamapilkan selama acara berlangsung.
“Kegiatan ini sudah menjadi agenda tahunan desa,” jelas Wakil Karang Taruna Perkasa Desa Sambiresik Misbakhul Munir.
Pria yang kerap disapa Munir ini mengatakan bahwa ide karnaval berasal dari pemuda desa. Kegiatan ini merupakan pengembangan dari jalan santai yang diadakan tahun lalu.
“Pada tahun ini tema karnavalnya Sambiresik Nyawiji,” ucapnya. Sambiresik Nyawiji ini memiliki makna menyatukan kembali masyarakat desa.
Pasalnya, kegiatan tersebut menjadi wadah warga membaur bersama. “Jika tema besar carnaval adalah Sambiresik Nyawiji, tema peserta adalah adat dan budaya,” kata Munir.
Para peserta berkumpul di lapangan Desa Sambiresik. Total pesertanya bisa mencapai ratusan.
Sebab peserta karnaval ini dikelompokan per RT. Dengan tema tersebut peserta karnaval ada yang membawakan cerita candi Prambanan hingga reog Ponorogo.
Pesertanya mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Setelah paginya dilakukan karnaval. Lalu, dilanjutkan dengan night art performance.
Lestarikan Tradisi dengan Rutin Gelar Pementasan Tari Tayub
Kegiatan tradisi dan budaya di Desa Sambiresik tumbuh dengan lestari. Itu karena pemdes dan warga kompak menjaganya.
Seperti agenda pementasan tari tayub di Dusun Sambiresik. Pementasan tersebut selalu digelar saat memasuki bulan Sura.
“Biasanya digelar pas Jumat Legi tau Selasa Kliwon,” Aris Niofantasi, salah seorang panitia acara tersebut.
Pentas tari ini selalu diadakan malam hari di Punden Selowangi. Lokasi tersebut dipilih karena memiliki sejarah panjang dengan berdirinya Desa Sambiresik. “Punden ini dipercayai sebagai tempat awal babat desa,” ucapnya.
Dari cerita leluhur, dulunya ada pertapa bernama Mbah Suropati Surodirejo. Di tengah perjalanan tersebut dia menemukan batu yang memiliki aroma wangi.
Kemudian batu tersebut diberi nama Selowangi. “Selowangi ini artinya harum,” kata laki-laki berusia 34 tahun tersebut.
Selowangi sekarang menjadi punden yang dipercaya merupakan makam dari Mbah Suropati Surodirejo. Dulu dia singgah di sana selama beberapa tahun.
Kemudian beliau menemukan sebuah pohon Sambi. Pohon tersebut selalu bersih meski tidak pernah dibersihkan. Oleh karena itu, tempat tersebut diberi nama Sambiresik.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah