JP RADAR KEDIRI-Melihat Sentra Kerupuk dan Budidaya Jamur di Desa Cerme, Kecamatan Grogol,Gunakan Pasir dari Sungai Brantas untuk Jamin Kualitas
Desa Cerme terkenal sebagai desa yang menghasilkan kerupuk upil. Salah satunya adalah Moch. Ichwan Abidin. Usaha ini sudah digeluti secara turun-temurun.
“Kalau kerupuk upil menggunakan pasir tanah,” ujar pria yang akrab disapa Abidin ini. Menurutnya, pasir yang digunakan tidak bisa sembarangan. Dia memanfaatkan pasir dari sungai Brantas.
“Tujuan menggunakan pasir brantas untuk menjamin kualitas,” tuturnya. Tak tanggung-tanggung. Sekali pengambilan langsung satu truk. Itu untuk memenuhi kebutuhan selama 5-6 bulan. Menurutnya, pasir dari sungai Brantas memiliki tekstur berbeda. Kerupuk upilnya pun jadi lebih gurih.
Abidin mengatakan bahwa usahanya merupakan warisan orang tua. Dulu, kedua orang tuanya memulai bisnis dengan modal terbatas. Alat yang digunakan juga seadanya. Seperti kuali dari tanah liat. Namun, kini dia sudah menggunakan alat yang lebih modern.
Total ada sembilan orang yang membantu proses pembuatan kerupuk di tempatnya. Abidin mengutamakan kerabat dan tetangganya. Dalam sehari mereka dapat memproduksi 200 kilogram kerupuk.
Untuk kerupuk mentah, pihaknya banyak mendapat kiriman dari beberapa desa tetangga. Dulu, Abidin masih bisa mencukupi kebutuhannya. Namun, kini dia keteteran. “Karena kami sudah tidak mampu untuk membuat krecek sendiri dan pesanan terlalu banyak,” akunya.
Tidak hanya karena pesanan terlalu banyak. Tetapi juga karena kurangnya lahan. Sehingga tidak memungkinkan untuknya membuat kerupuk mentah lagi. Hanya saja, pihaknya harus benar-benar selektif. Harus pintar-pintar dalam memilih bahan mentah.
Pasalnya, dia pernah mendapat barang yang jelek. Sehingga Abidin mengembalikan kerupuk tersebut. “Ketika krecek digoreng tidak bisa mengembang,” ungkapnya.
Konsisten Geluti Usaha Budidaya Jamur selama Puluhan Tahun
Didik Wuryanto sangat telaten dengan bisnis budidaya jamur tiram. Bagaimana tidak, usahanya ini sudah dimulai sejak 1999. “Saya mulai bisni ini setelah meninggalkan pekerjaan karena krisis moneter,” ceritanya.
Setelah tidak melanjutkan bekerja, dia kemudian banting kemudi. Dia membuka usaha pembibitan jamur. Pada saat itu dia hanya menjual bibit dan jamurnya ke pasar atau tengkulak.
“Kemudian pada tahun 2010, dari penjualan bibit dan jamur mentah dikembangkan dalam bentuk makanan jadi,” terangnya. Didik mulai beralih ke penjualan jamur tiram dalam bentuk crispy. Kreasinya dijual dalam bentuk kemasan maupun dalam bentuk kiloan.
Dengan begitu dia mendapatkan keuntungan yang lebih banyak daripada dijual mentah. Di rumahnya, dia membangun dapur untuk mengolah jamur tiramnya menjadi jamur crispy.
Dia mengaku memiliki bumbu yang tidak dijual di pasaran. Didik mengembangkan bumbu itu sendiri. Juga dari hasil percobaan yang dilakukan di rumah.
Didik juga membuka kelas untuk mengajar teknik pengolahan jamur tiram menjadi jamur crispy. Terbuka untuk umum. Dia pernah mengajari beberapa kelompok dari luar kota. Antara lain Semarang, Mojokerto, bahkan Papua.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah