JP Radar Kediri - Imelda bercerita bahwa usaha ini dilakukan secara bertahap. Sebelum berproduksi sendiri, dia mengambil dari toko-toko. Tepatnya usaha itu pertama dilakukan pada tahun 2015.
Lalu, dia mulai memberanikan diri berkreasi. Ketika awal membuat kue kering sendiri, dia hanya membuat dua jenis. Yakni kue nastar dan kue semprit.
Setelah dipasarkan, ternyata banyak yang suka dengan kue buatannya. Dia pun menambah varian kuenya. Seperti lidah kucing, kastengel, stik keju, stik bawang dan stik pedas. “Untuk nastar saya ada yang biasa, dan nastar labu,” ujar Imelda.
Untuk menjaga kualitas, khusus yang menggunakan labu hanya membuat jika ada pesanan. Tentu saja terkait bahan. Namun jangan khawatir. Karena semuanya dibuat dengan bahan-bahan yang berkualitas. Sehingga untuk rasa, dijamin kelezatannya.
"Kue nastar dan kue semprit yang paling banyak disukai," ungkapnya.
Selain kue kering, Imelda juga memproduksi kue basah seperti bolu kukus labu madu, dodol labu madu, dan puding labu madu. Untuk menjaga mutu, dia selalu memakai bahan-bahan berkualitas. Tanpa bahan pengawet.
Dia bersyukur lebaran tahun ini masih mendapatkan banyak pesanan. Sebelumnya, Imelda hanya berjualan via online. Seperti menggunakan media Whatsapp, atau Instagram. Namun tahun ini, dia sudah membuka tokonya sendiri.
Toko yang baru dibuka pada bulan Mei lalu berlokasi di depan rumahnya. Buat kalian yang penasaran, bisa datang langsung. Soal harga jangan khawatir. Dijamin sepadan dengan kualitasnya. Untuk nastar dijual mulai Rp 35 ribu hingga Rp 120 ribu. Lidah kucing dijual mulai dari Rp 35 ribu hingga Rp 80 ribu. Stik semua varian dijual dengan harga Rp 33 ribu hingga Rp 65 ribu.
Puluhan Tahun Tekuni Pembuatan Gerabah dari Tanah Liat
Desa Bedug juga terkenal sebagai penghasil gerabah. Bahkan usaha gerabah tersebut sudah dijalankan secara turun-temurun. Kerajinan gerabah ini sudah ada sejak 1970-an dan masih terus berkembang hingga saat ini.
"Usaha ini rata-rata memang turun temurun, termasuk saya," cerita Sumarlin, salah satu perajin gerabah.
Perempuan yang kerap disapa Lin ini menjelaskan bahwa usaha ini warisan dari ibu dan neneknya. Lin mengakui belajar sejak masih kecil. Tak ayal, saat sudah dewasa dia jadi piawai dalam membuat gerabah. “Dalam satu hari bisa membuat mulai 10 hingga 40 gerabah. Tergantung dari ukuran dan bentuk gerabah yang akan dibuat,” tuturnya.
Gerabah buatannya beragam. Mulai dari anglo, maron, kluweng dan sebagainya. Proses pembuatannya berkisar satu hari hingga satu minggu. Berdasarkan tingkat panas cahaya matahari. Setelah dijemur, kemudian dibakar dengan jerami.
Di Dusun Bedug, banyak perajin gerabah lainnya. Namun persaingan tetap sehat karena memiliki pelanggan masing-masing. Selain itu, tidak semua rumah berproduksi dari awal hingga akhir.
"Ada yang cuma buat adonannya. Ada yang cuma bagian membakarnya. Dan ada juga yang bagian menjualnya,” ungkap Triana, perajin gerabah lainnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah