KEDIRI, JP Radar Kediri - Tingginya toleransi antarwarga di Desa Tanon layak mendapat acungan jempol. Ada lima agama yang dipeluk penduduknya. Namun, mereka saling hidup rukun dan bisa saling memahami sesama maupun antaragama.
Wujud dari kemajemukan Indonesia bisa dilihat di Desa Tanon, Kecamatan Papar ini. Di tempat ini ada empat agama dan satu kepercayaan pada Tuhan YME yang dipeluk oleh penduduknya. Yaitu Islam, Hindu, Kristen Protestan, Kristen Katolik, dan satu penghayat kepercayaan. Yang perlu mendapat catatan besar, semuanya bisa hidup berdampingan secara rukun.
“Kami, sesama pemeluk agama dan penghayat kepercayaan di desa ini saling menghormati,” kata Kepala Desa Tanon Kusnadi.
Bukti paling baru dari sikap saling menghormati itu, menurut Kusnadi, saat perayaan Hari Raya Nyepi beberapa waktu lalu. Ketika warga yang beragama Hindu melangsungkan Nyepi, warga yang beragama lain ikut menjaga.
Demikian pula ketika puasa Ramadan seperti sekarang ini, warga muslim yang mayoritas pun memberikan toleransi kepada umat lain dengan tidak menggunakan pengeras suara luar di atas pukul 22.00 saat tadarus.
“Penggunaan pengeras suara di luar dibatasi hingga jam 10 malam,” terangnya.
Kegiatan tadarus tersebut terus berlangsung hingga melewati tengah malam namun menggunakan pengeras di dalam masjid. Sehingga tidak mengganggu warga lain yang tengah istirahat.
Menjelang Lebaran, warga Desa Tanon juga melangsungkan tradisi takbir keliling. Menariknya, warga yang non-muslim juga ikut berpartisipasi. “Masyarakat yang beragam Hindu ataupun Nasrani gantian melakukan penjagaan keamanan,” kata laki-laki yang baru menjalani periode pertamanya sebagai kades ini.
Saluran Irigasi di Desa Penghasil Jagung
Dari 3.500 jiwa penduduk Desa Tanon, 80 persen di antaranya adalah petani. Dengan tanaman utama jagung dan padi, yang ditanam sesuai musimnya. Bahkan, khusus jagung, desa ini dikenal karena tingginya produksi.
“Ketika era Presiden SBY (Soesilo Bambang Yudhoyono, Red) desa ini pernah mendapatkan penghargaan karena produksi jagungnya,” jelas Kades Kusnadi.
Karena mayoritas di sektor pertanian, pemdes pun berusaha memberikan dukungan. Yaitu dengan memperkuat saluran irigasi. Sebab belum semua saluran irigasi ini berupa beton.
“Selama saya menjabat saluran air yang sudah dibangun ini sudah 70 persen,” imbuhnya.
Proyek ini masih berkaitan dengan program ketahanan pangan. Untuk tahun saluran irigasi yang dikerjakan di empat titik. Lokasinya di Dusun Tanonutara, Dusun Tanonselatan, Dusun Gropyok dan dan Dusun Payak. “Setiap tahunnya memang dilakukan pembuatan saluran irigasi,” kata laki-laki kelahiran 1973 ini.
Tiga saluran air yang jadi sasaran penguatan itu selama ini hanya berbentuk saluran air dari tanah. Membuatnya mudah ditumbuhi oleh rerumputan. Hal itu menjadikan air tidak mengalir dengan lancar.
“Jika dilakukan pengecoran, air yang mengalir dari Sungai Brantas ini dapat tersalurkan ke lahan pertanian dengan lancar,” kata Kusnadi.
Selain membuat saluran irigasi, pemerintah desa juga akan membangun tembok penahan tanah. Tujuannya agar luas lahan persawahan tidak tergerus jika musim hujan. Selain itu untuk memberikan tanda tanah milik warga dan tanah milik desa.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah